Uji Irit Konsumsi Bahan Bakar Honda Beat

Uji Irit Konsumsi Bahan Bakar Honda Beat

Saat ini kita sudah memasuki tahun 2017. Mempertanyakan, “Apakah konsumsi bahan bakar Honda Beat karburator itu irit atau boros?” mungkin sudah agak terlambat. Namun demikian, saya tetap percaya, tak ada ilmu yang sia-sia, setelat apa pun kita mengetahuinya. Jika tidak berguna untuk saat ini, mudah-mudahan bisa jadi referensi atau kilas balik di kemudian hari nanti.

Keinginan membuktikan boros-tidaknya kendaraan roda dua ini sebetulnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Niat itu datang setelah membaca review dari beberapa website yang getol menggembar-gemborkan betapa iritnya skutik berbobot kosong 83.9 km ini – bahkan ada yang mengklaim bisa sampai 73.5 km/liter!

Angka yang sangat menarik untuk ukuran motor matik. Kawasaki KazeR saya pun, yang notabene motor bebek transmisi manual, tidak bisa sehemat itu konsumsi bahan bakarnya.

Saya ingin percaya. Tapi kata Sherlock Holmes, “Don’t fall prey to the halo effects.”

Beberapa situs menganggap konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Honda Beat karburator ini standar. Tidak irit, juga tidak boros—sebagaimana layaknya motor matik kebanyakan. Sementara beberapa situs lain menilai, ia termasuk boros.

Jadi, yang mana yang benar?

Terlepas dari anggapan irit, standar, atau boros, untuk sementara semua pendapat mereka saya terima. Bisa jadi semuanya benar, karena biar bagaimana pun irit tidaknya konsumsi bahan bakar itu bersifat relatif dan situasional. Beberapa paramater seperti kondisi lalu lintas, kontur medan, suhu udara, gaya berkendara, berat/bobot pengendara, pengalaman dengan motor sebelumnya, pola pemeliharaan kendaraan, kondisi mesin, dan lain-lain, bisa sangat menentukan.

Untuk memastikan level konsumsi BBM mesin 4 langkah Single OverHead Cam (SOHC) ini ada di posisi mana, tentu harus saya uji sendiri. Dan, setelah menunda-nunda sekian lama, rencana itu pun akhirnya terlaksana juga tahun ini.

Dengan tujuan agar kalian mendapatkan gambaran yang lebih baik terkait pengujian yang saya lakukan, walau mungkin tidak sempurna, seluruh data yang berhubungan dengan pengukuran di lapangan akan saya sertakan. Sedetil mungkin.

 

Kendaraan pengujian dan perawatan

Untuk menguji sampai sejauh mana tingkat keiritan motor matic ini, saya menggunakan platform Honda Beat tipe CW (Cast Wheel – baca: velg racing) keluaran tahun 2012, yang masih menggunakan modul pengabutan bahan bakar jenis karburator. Artinya, usia pemakaian kendaraan pada saat ini telah memasuki tahun kelima, dan tujuh bulan lagi genap memasuki tahun keenam. Jadi, bukan balita lagi. Seluruh komponennya masih asli, bawaan pabrik. Full orisinil, tanpa modifikasi sama sekali.

Setelah lima tahun lebih pemakaian, untuk pertama kalinya pergantian V-Belt plus roller set baru dilakukan dua bulan lalu, atau sekitar bulan Juni 2017.

Ban depan menggunakan tipe tubeless, merk Corsa S01, ukuran 70/90-14 M/C 34P (setara ukuran 2.25). Sementara sektor belakang menggunakan ban tubeless Corsa Platinum R26, ukuran 100/80-14 M/C 48S (setara ukuran 3.00). Terlalu lebar, memang. Terpaksa. Secara fisik, kondisi ban sebelumnya sudah sangat memprihatinkan, dan pada saat penggantian, tidak ada stok ukuran ban yang lebih kecil.

Sebagai catatan saja: kode R26 pada ban belakang menunjukkan nomor start pembalap dunia kelas MotoGP, Dani Pedrosa. Tujuan penggunaan kode ini tentu saja untuk memudahkan pengenalan produk kepada para konsumen.

Produsen mengklaim medium soft compound pada varian Corsa Platinum dapat memaksimalkan akselerasi dan daya cengkeram ke aspal jalan. Bisa digunakan untuk harian maupun daily racing. Cocok untuk trek basah, maupun trek kering. Selain itu, teknologi pengusir kerikil juga disertakan ke ban ini.

Pengecekan tekanan angin pada ban, rutin saya lakukan. Thanks to “bocor halus.” Dia berhasil memaksa saya untuk selalu memeriksa tekanan angin secara berkala, tiap beberapa hari sekali.

Terkait pemeliharaan kendaraan, servis ringan (khususnya bersihkan karburator dan filter/saringan udara) hanya saya lakukan pada saat pemakaian motor mulai terasa tidak enak. Bisa tiga bulan sekali, empat bulan sekali, bahkan sampai enam bulan sekali pun pernah. Soal performance, sejauh ini tidak ada masalah. Dengan begini, selain pengeluaran maintenance bisa dihemat, potensi kerusakan baut (bolt), sekrup (screw), dan komponen karburator lainnya pun bisa dikurangi.

Durasi penggantian oli biasanya saya lakukan antara satu setengah hingga dua bulan. Tergantung kilometer/jarak tempuh berkendara, atau tergantung mood.

Sejauh ini ada tiga merk oli mesin yang biasa saya gunakan secara bergantian tergantung stok bengkel langganan, yaitu; AHM Oil MPX-2 SAE 10W-30 0.8L, Pertamina Enduro Matic SAE 10W-30 0.8L, dan Agip Eni Matic i-Ride SAE 10W-40 0.8L. Tapi, ini pun bukan patokan baku. Merk lain di luar ketiga oli mesin tersebut terkadang juga saya gunakan. Hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ketersediaan.

 

Setting karburator

Setting karburator dari bengkel umum (bukan bengkel resmi) membuat motor saya kehilangan “engine break.” Jadi, begitu putaran grip gas dikembalikan ke posisi nol, laju motor tetap ngeloyor. Tak ada tahanan laju kendaraan sama sekali. Perlambatan laju kendaraan sepenuhnya mengandalkan rem tangan. Dengan begini, praktis, kampas rem jadi lebih cepat habis.

Bagi yang terbiasa mengendarai motor manual seperti saya, kondisi ini tentu terasa berbahaya.

Selain itu, saya juga tidak bisa membedakan kapan fitur cuk otomatis (autochoke) berhenti bekerja, karena pada saat dipanaskan, setiap hari waktu pagi, raungan mesinnya tetap terdengar konstan walau telah beberapa saat dinyalakan. Tak ada tanda-tanda pengurangan kecepatan putaran mesin—yang menandakan cuk otomatis berhenti bekerja.

Sebelum karburator vakum ini di-setting bengkel langganan pinggir jalan, sebetulnya saya masih bisa merasakan adanya sedikit engine brake. Atas dasar pengalaman inilah, akhirnya saya putuskan untuk melakukan setting ulang sendiri.

Panduannya bagaimana? Agak panjang menjelaskannya. Tapi, dari beberapa artikel yang pernah saya baca terkait bahasan setting karburator vakum, artikel INI saya anggap cukup detil dan relatif lebih mudah diikuti.

Dengan settingan baru tersebut, Honda Beat kesayangan saya kini kembali punya tahanan, walau tak sebesar motor manual. But, that’s enough for me.

 

Pengendara dan gaya berkendara

Pada saat berangkat, sepeda motor berkapasitas 108 cc ini selalu digunakan berboncengan dua orang, dengan total bobot pengendara keseluruhan mencapai sekitar 120 kg. Sementara pada saat pulang, karena hanya seorang diri, bobot pengendara pun berkurang menjadi hanya 55 kg saja. Setiap hari.

Gaya berkendara yang saya gunakan secara overall adalah halus dan terkontrol. Buka-tutup gas secara kasar biasanya baru akan dilakukan begitu memenuhi keadaan-keadaan, seperti; sedang emosi, sedang terburu-buru, atau saat mendapat kesempatan menyalip kendaraan di depan dengan timing yang sangat sempit. Tapi bejek gas ugal-ugalan seperti ini pun bisa dibilang, jarang terjadi.

Walau pada dasarnya saya menyukai kecepatan, tapi saya lebih menginginkan agar konsumsi bahan bakar motor matic ini irit, sekaligus lebih panjang masa pemakaiannya—awet, dan tidak cepat rusak.

Jadi, spiritnya adalah bagaimana caranya agar saya bisa memperoleh manfaat seoptimal mungkin dari kendaraan roda dua yang saya miliki ini.

 

Rumus perhitungan yang digunakan

M = J/(I/Hpl)

M = Mileage per-liter BBM (km/liter)

J = Jarak tempuh (km)

I = Isi bensin full tank (Rupiah)

Hpl = Harga pokok BBM per-liter (Rupiah)

Sementara, untuk mengetahui biaya yang saya keluarkan per-km, menggunakan rumus:

B = M/Hpl

B = Biaya per-km (Rupiah)

M = Mileage per-liter BBM (km/liter)

Hpl = Harga pokok BBM per-liter (Rupiah)

 

BIG NOTE:

Sebelum mulai menghitung konsumsi BBM dari kendaraan yang kita gunakan. Catat kilometer terakhir yang tertera pada Odometer, saat terakhir kali isi bensin. Jumlah rupiah yang dikeluarkan gak perlu dicatat. Kita hanya butuh angka Odometer awal saja. Ini penting, sebagai patokan awal sebelum memulai perhitungan.

Jika angka odometer pertama/awal sudah diketahui, maka perhitungan (baru) bisa dilakukan setelah isi bensin berikutnya. Di dunia otomotif, perhitungan ini sering disebut dengan metode Full to Full.

Untuk mendapatkan gambaran konsumsi bahan bakar yang lebih baik, lakukanlah pencatatan selama setidak-tidaknya satu bulan. Setelah itu, hitung angka rata-ratanya.

 

Contoh

Saat isi bensin terakhir, tiga hari yang lalu, angka yang tertera pada odometer motor Muna, tercatat: 1110.0 km. Hari ini Muna kembali mengisi BBM jenis Pertamax di pom bensin terdekat, sebesar 15,000 Rp, full tank. Diketahui harga pokok BBM Pertamax pada saat itu adalah 8,250 Rp/liter. Sementara angka odometer pada saat pengisian sudah berubah menjadi 1180.0 km.

Pertanyaan:

Sejauh apakah jarak yang mampu ditempuh motor Muna dari setiap liter bahan bakar yang digunakan?

Jawab

Diketahui:

J = 70 km

I = 15,000 Rp

Hpl = 8,250 Rp/liter

M = ?

Rumus M = J/(I/Hpl)

Dengan menggunakan rumus tersebut, maka;

M = 70 km / (15,000 Rp / 8,250 Rp/liter) = 70 km / 1.82 liter

M = 38.46 km/liter

Jadi, untuk setiap liter bahan bakar yang digunakan, motor Muna dapat menempuh jarak sejauh 38.46 km.

***

Ada dua jalur dengan karakter yang sangat bertolak belakang, yang saya gunakan sebagai acuan dalam pengukuran konsumsi BBM di sini, yaitu; jalur pendek, dominan macet (untuk selanjutnya disebut Lintas I), dan jalur panjang, mostly lancar (untuk selanjutnya disebut Lintas II).

Pengujian yang saya lakukan pada Lintas I tidak se-intensif Lintas II, karenanya mileage rata-rata yang didapat dari hasil pengukuran pada Lintas I secara otomatis tidak sepresisi hasil pengukuran pada Lintas II. Namun demikian, bukan berarti hasilnya tidak bisa memberikan gambaran rasio konsumsi BBM relatif terhadap kondisi jalan. Tetap bisa, hanya, kurang presisi.

 

Kondisi Lintas I

Kondisi Lintas I yang biasa saya lalui terdiri dari komposisi beberapa tipe jalan, yaitu; 70% empat-lajur dua-arah dengan median (4/2 D*), 15% enam-lajur dua-arah dengan median (6/2 D), dan 15% empat-lajur satu-arah tanpa median (4/1 UD**). *Divided ** Undivided

Jarak tempuh setiap hari pulang-pergi (PP) antara 26-29 km, atau setara dengan 13-14.5 km sekali jalan. Waktu tempuh rata-rata PP per-hari mulai dari 1 jam 45 menit sampai 2 jam.

Tingkat kemacetan lalu lintas pada saat berangkat umumnya mencapai 80% dari total jalan yang saya lalui. Sementara pada saat pulang, walau kadang kemacetannya bisa spike ke angka 70-80%, namun secara rata-rata kemacetannya berkurang menjadi hanya 50% saja.

Kondisi lalu lintas seperti ini membuat interval pengereman dan buka-tutup gas jadi lebih sering. Ujung-ujungnya, tentu saja bikin boros bensin. Bahkan, jika sudah mencapai titik kemacetan tertinggi, baik pada saat pergi maupun pulang, terkadang arus motor pun bisa sepenuhnya terhenti. Tak bisa bergerak sama sekali. Stuck.

Kecepatan, paling sering tertahan di angka 20-35 km/jam. Begitu kondisi jalan dianggap lengang, kecepatan ini biasanya saya naikkan ke 40-50 km/jam. Sengaja dipanteng di kisaran angka tersebut untuk menghemat konsumsi bensin, sekaligus memperpanjang umur mesin. Betot gas sampai kecepatan 60-70 km/jam, kadang juga saya lakukan jika kondisi lalu lintas memaksa.

 

Perhitungan konsumsi BBM Lintas I

Sebelum memulai perhitungan, perlu disampaikan bahwa angka odometer Honda Beat saya telah mencapai angka puluhan ribu (5 digit) kilometer. Karenanya, untuk mempermudah perhitungan, saya hanya akan mengambil 3 digit terakhir saja, plus 1 digit setelah koma.

Bensin yang digunakan adalah Pertamax RON 92, dengan tarif per-liter pada saat penghitungan sebesar 8,250 rupiah. Sementara jarak pengisian bensin umumnya dilakukan tiap dua hari sekali.

Now, let’s the calculation begin…

 

Pengisian 1

534.0 – 593.8 = 59.8 km = 13,500 Rp

M = 59.8/(13,500/8,250) = 59.8/1.64 = 36.46 km/liter

 

Pengisian 2

593.8 – 651.6 = 57.8 km = 14,500 Rp

M = 57.8/(14,500/8,250) = 57.8/1.76 = 32.84 km/liter

 

Pengisian 3

651.6 – 715.4 = 63.8 km = 16,000 Rp

M = 63.8/(16,000/8,250) = 63.8/1.94 = 32.89 km/liter

 

Pengisian 4

715.8 – 794.3 = 78.5 km = 20,000 Rp

M = 78.5/(20,000/8,250) = 78.5/2.42 = 32.44 km/liter

 

Dengan demikian, konsumsi bahan bakar rata-rata (Average) untuk Lintas I adalah:

Avg. = (36.46 + 32.84 + 32.89 + 32.44)/4

Avg. = 134.63/4 = 33.66 km/liter

 

Kondisi Lintas II

Kondisi jalan Lintas II sebagian besarnya merupakan akses jalur alternatif, dengan komposisi sebagai berikut:

  • 5% empat-lajur dua-arah dengan median (4/2 D).
  • 20% dua-lajur dua-arah tanpa median (2/2 UD). Jalur ini memiliki lebar jalan yang tak seragam. Di satu ruas ia bisa menampung hingga 3 mobil, tapi di ruas lain dia hanya bisa menampung 2 mobil saja. Overlap seringkali terjadi karena ketiadaan pembatas jalan pada ruas jalur alternatif ini. Jadi, yang seharusnya dua-lajur dua-arah (2/2), bisa tiba-tiba berubah jadi tiga-lajur dua-arah (3/2). Tergantung situasi lalu lintas pada saat itu.
  • 50% dua-lajur dua-arah tanpa median (2/2 UD).
  • 25% jalan raya provinsi enam-lajur dua-arah dengan median (6/2 D).

Jarak tempuh yang saya lalui setiap hari sejauh 36-39 km PP, atau 18-19.5 km sekali jalan. Waktu tempuh per-hari PP rata-rata tak jauh beda dengan Lintas I, yaitu antara 1 jam 45 menit sampai 2 jam.

Kecepatan rata-rata sengaja saya tahan di kisaran 30-50 km/jam. Lebih dari angka ini (maksimal 70 km/jam), dari yang saya perhatikan, sangat mempengaruhi konsumsi bahan bakar. Per-liter hanya bisa menempuh jarak rata-rata 34 km saja.

Bejek gas hingga kecepatan 65-70 km/jam umumnya hanya saya lakukan jika keadaan lalu lintas memaksa—contoh: tak sengaja ‘terjebak’ di jalur cepat. Tapi ini jarang terjadi. Seandainya pun kejadian, ngebut dengan kecepatan setinggi ini hanya bisa terjadi dan dieksekusi di ruas jalan yang 25% (lihat paragraf komposisi jalan Lintas II di atas).

Pada jam-jam berangkat kantor (peak hour) debit kendaraan yang lalu-lalang di jalur Lintas II cenderung lebih ramai, tapi masih lancar. Ramai di sini artinya gabungan jumlah mobil  yang melintas dalam satu waktu bersamaan dalam radius 25 meter, baik yang searah maupun yang berlawanan arah, masih bisa dihitung dengan jari-jari tangan.

Kemacetan tak berarti (<= 1 menit) pada umumnya hanya terjadi di pertigaan jalan utama di sepanjang ruas yang 50% (sekali lagi, lihat paragraf komposisi jalan Lintas II di atas). Jumlahnya pun tidak banyak, hanya 4 titik.

Sekarang, mari kita berfokus pada ruas jalur alternatif yang 50%. Kenapa? Karena, dibandingkan dengan ruas selebihnya, isu perjalanan Lintas II paling banyak saya temui di ruas jalur ini.

Karakter jalan di sepanjang ruas ini sepenuhnya bumpy – kombinasi jalan aspal dan beton, dengan rasio 40:60. Aspalnya keriting, banyak koreng, dan banyak tambalan keloid.

Pada masa lalu, waktu seluruhnya masih tanah, ruas jalan ini termasuk akses utama warga perkampungan sekitar. Karenanya tak mengherankan jika sekarang masih bisa dijumpai rumah-rumah warga yang berdiri persis di sisi kiri-kanan jalan, di sepanjang ruas ini.

Hambatan perjalanan lain datang dari bertebarannya polisi tidur di sepanjang ruas ini, dan truk yang lewat. Hambatan akan semakin terasa begitu keduanya kompakan, ada dalam waktu bersamaan. Kecepatan perjalanan saya pun bisa melambat lagi jadi 20-30 km/jam saja.

Kenapa gak disalip aja, kalo gitu?

Masalah utamanya terletak pada lebar jalan yang sempit, polisi tidur, dan debit kendaraan dari arah berlawanan. Di jalan sesempit ini, body truk yang tinggi dan lebar itu terbukti mumpuni menutupi pandangan ke arah depan. Kondisi sebagian jalan yang berliku-liku juga turut membuat proses salip-menyalip jadi lebih sulit.

Dengan situasi seperti ini, saya hanya punya dua pilihan jika ingin menyalip truk di depan, yaitu; menyalip ringan, atau menyalip berat.

Menyalip ringan bisa dilakukan jika arus lalu lintas dari arah berlawanan relatif kosong dan tak ada polisi tidur di area salip-menyalip. Sementara menyalip berat biasanya baru dilakukan jika kondisi arus lalu lintas dari arah berlawanan relatif ramai lancar, plus! Tak terdapat polisi tidur di area salip-menyalip. Caranya, dengan membejek gas secara spontan hingga kecepatan 50-60 km/jam. Di bawah kecepatan ini bisa-bisa disikat mobil dari arah berlawanan.

 

Perhitungan konsumsi BBM Lintas II

Penjelasan konsumsi BBM Lintas II di sini sama persis dengan bagian “Perhitungan konsumsi BBM Lintas I” sebelumnya. Dengan tambahan; pengisian bahan bakar jenis Pertamax Plus dengan nilai Real Octane Number (RON) 95 hanya dilakukan sesekali, tergantung situasi—umumnya dikarenakan telatnya pengiriman BBM ke SPBU terkait. Tarif per-liter Pertamax Plus pada saat pengujian adalah 9,250 rupiah.

Oh, ya. Sebagai pengingat saja. Seluruh pengukuran yang saya gunakan di artikel ini menggunakan metode Full to Full.

Ok! Sekarang, mari kita masuk ke perhitungannya.

 

July 03, 2017

332.3 – 437.6 = 105.3 km  = 21,675 Rp

M = 105.3/(21,675/8,250) = 105.3/2.63 = 40 km/liter

 

July 07, 2017

437.6 – 528.6 = 91 km = 18,000 Rp

M = 91/(18,000/8,250) = 91/2.182 = 41.7 km/liter

 

July 11, 2017

528.6 – 623.7 = 95.1 km = 18,000 Rp

M = 95.1/(18,000/8,250) = 95.1/2.182 = 43.58 km/liter

 

July 12, 2017

623.7 – 672.9 = 49.2 km = 10,000 Rp

M = 49.2/(10,000/8,250) = 49.2/1.212 = 40.59 km/liter

 

July 14, 2017

672.9 – 752.1 = 79.2 km = 19,000 Rp

M = 79.2/(19,000/8,250) = 79.2/2.303 = 34.39 km/liter

 

July 18, 2017

752.1 – 850.1 = 98 km = 23,678 Rp

M = 98/(23,678/8,250) = 98/2.870 = 34.15 km/liter

 

July 20, 2017

850.1 – 925.8 = 75.7 km = 14,520 Rp

M = 75.7/(14,520/8,250) = 75.7/1.76 = 43.01 km/liter

 

July 24, 2017

2925.8 – 3007.8 = 82 km = 18,350 Rp [Pertamax Plus]

M = 82/(18,350/9,250) = 82/1.98 = 41.41 km/liter

 

July 26, 2017

3007.8 – 3090.9 = 83.1 km = 17,160 Rp

M = 83/(17,160/8,250) = 83/2.08 = 39.90 km/liter

 

July 28, 2017

3090.9 – 3167.2 = 76.3 km = 15,320 Rp

M = 76.3/(15,320/8,250) = 76.3/1.86 = 41.02 km/liter

 

July 31, 2017

3167.2 – 3244.7 = 77.5 km  = 15,000 Rp

M = 77.5/(15,000/8,250) = 77.5/1.82 = 42.58 km/liter

 

Aug 02, 2017

3244.7 – 3328.8 = 84.1 km = 19,140 Rp

M = 84.1/(19,140/8,250) = 84.1/2.32 = 36.25 km/liter

 

Aug 04, 2017

3328.8 – 3406.2 = 77.4 km = 15,279 Rp

M = 77.4/(15,279/8,250) = 77.4/1.85 = 41.84 km/liter

 

Aug 07, 2017

3406.2 – 3510.0 = 103.8 km = 22,275 Rp

M = 103.8/(22,275/8,250) = 103.8/2.7 = 38.44 km/liter

 

Aug 09, 2017

3510.0 – 3586.1 = 76.1 km  = 15,000 Rp

M = 76.1/(15,000/8,250) = 76.1/1.82 = 41.81 km/liter

 

Jika dihitung sejak July 03, 2017 sampai Aug 09, 2017, berarti sudah 15 kali saya isi bensin full tank to full tank.

Konsumsi bahan bakar paling boros terjadi antara July 14 sampai July 18, dengan mileage yang hanya menyentuh angka 34.15 km/liter. Ini terjadi karena pada rentang waktu itu, selama 2 hari berturut-turut, motor digunakan full berboncengan, dengan total berat pengendara + boncengers mencapai 130 kg.

Sementara konsumsi bensin paling irit terjadi antara July 07 hingga July 11, dengan angka mileage mancapai 43.58 km/liter. Jujur saja, saya lumayan surprise dengan angka ini.

Sekarang, mari kita hitung nilai mileage rata-ratanya (Avg.):

Avg. = (40 + 41.7 + 43.58 + 40.59 + 34.39 + 34.15 + 43.01 + 41.41 + 39.9 + 41.02 + 42.58 + 36.25 + 41.84 + 38.44 + 41.81)/15

Avg. = 600.67/15 = 40.04 km/liter

 

Kesimpulan

Seperti yang bisa kita lihat bersama. Di jalur pendek dominan macet, konsumsi bahan bakar si Techno White ini, hanya mampu menorehkan mileage rata-rata sejauh 33.66 km/liter saja. Sementara di jalur panjang cenderung lancar, mileage rata-rata yang bisa diraih adalah 40.04 km/liter. Selisih 6.38 km/liter.

Apakah skutik saya termasuk irit?

Atau malah boros?

Decide it yourself.

Untuk ukuran motor matik, mileage hingga 40.04 km/liter ini mungkin masih reasonable. Tapi kalau boleh jujur,  saya ingin angkanya lebih dari itu. Apalagi kalau melihat history transportasi andalan harian ini pernah menyentuh angka 43.58 km/liter.

Saya jadi ingat pengalaman pribadi, sekitar 6 tahun yang lalu.

Waktu itu harga bensin per-liter masih 6,500 Rp. Karena motor bebek manual saya, Kawasaki KazeR, rusak, seorang teman baik meminjamkan Honda Beat produksi tahun 2010 miliknya. Rute yang saya lalui sama persis dengan jalur Lintas II, hanya lebih dekat: 16 km sekali jalan. Setiap dua hari sekali saya isi bensin 11,000 Rp.

Dengan jarak PP per-hari mencapai 32 km, artinya sepeda motor sang teman hanya mampu menempuh jarak sejauh 37.87 km/liter.

Anehnya, setelah selesai servis ringan di bengkel khusus trek-trekan, konsumsi bahan bakarnya berubah jauh lebih irit. Tarikannya pun jadi lebih ringan dan responsif.

Seberapa irit?

Seirit Lulut, si Kawasaki KazeR. Interval pengisian BBM yang biasanya 2 hari sekali, mundur jadi 2.5 hari sekali, dan itu setara dengan 76 km.

Dengan menggunakan rumus mileage sebelumnya, jika setiap kali pengisian saya hanya mengeluarkan uang sebesar 10,000 Rp, berarti, setelah diservis mekanik khusus trek-trekan tadi, skutik tersebut sanggup menempuh jarak hingga 49.35 km/liter.

Bagaimana cara setting-nya? Terus terang, sampai sekarang saya masih penasaran. Saat  itu motor ditinggal di bengkel seharian. Begitu kelar, langsung saya bayar. Jadi, tidak sempat menyaksikan prosesnya, apalagi tanya ini-itu.

Uji irit Honda Beat karburator telah selesai. Sekarang timbul keinginan lain. Menguji BeAT versi Fuel Injection (FI). Iseng aja. Sekedar pengin mengukur sampai sejauh mana perbedaan tingkat konsumsi bahan bakar antara keduanya. Ada yang mau pinjemin? Hehehe. [BEM]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s