Jika Aku Tim Nusantara Sehat

Jika Aku Tim Nusantara Sehat
Jika Aku Tim Nusantara Sehat

Apa yang akan dilakukan, Jika Aku Tim Nusantara Sehat? Untuk seseorang yang tidak memiliki pendidikan dengan latar belakang medis, terus terang, pertanyaan ini agak sulit dijawab. Tapi, kalau membaca atau mendengar atau menyaksikan berita-berita terkait kesehatan, setidaknya ada beberapa jawaban yang terpikirkan. Tapi sebelum itu, saya mau sedikit cerita dulu…

Manusia mana yang ingin sakit? Tentu tidak ada, ya. Kalau boleh memilih, pasti semua akan pilih selalu dalam keadaan sehat, sekali pun pola hidup yang diterapkannya kadang (atau seringkali) justru berpotensi mengundang bibit penyakit.

Bagi kita yang tinggal di kota-kota besar, akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jelas terbuka lebar. Mulai dari yang murah, sampai yang mahal. Mulai dari klinik, hingga taraf rumah sakit. Pokoknya bebas, tinggal pilih saja mana suka.

Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang berada di wilayah pelosok dan sulit dijangkau seperti; daerah tertinggal, perbatasan, atau kepulauan (biasa disingkat dengan DTPK)?

Privilege bebas memilih layanan kesehatan mana yang mereka suka, hampir bisa dipastikan, tidak ada. Jangankan privilege, tersedia fasilitas kesehatan dengan kondisi memadai saja, mungkin mereka pun sudah sangat bersyukur.

Jika kita banding-bandingkan kondisi tersebut di atas, terasa betul ya, gap antara keduanya. Beruntung, demi mempersempit jurang perbedaan ini, pemerintah, lewat gagasan Nawa Cita-nya, kemudian menelurkan beberapa agenda, yang salah satunya adalah Program Nusantara Sehat.

Bagi kamu yang belum tahu, program ini berfokus pada penguatan pelayanan kesehatan primer, seperti; pembenahan infrastruktur (fisik), pembenahan fasilitas (sarana), dan penguatan tenaga kesehatan (sumber daya manusia). Jadi, tidak hanya menitikberatkan pada kegiatan kuratif saja, tapi juga promotif dan preventif.

Dari gambaran sekilas ini, kalau kembali ditanya, “Jika Aku Tim Nusantara Sehat, apa saja yang akan dilakukan?” jawabannya; Ada beberapa. Di antaranya, yaitu:

 

Pengumpulan informasi

Aspek pengumpulan informasi ini sangatlah penting, karena tanpa memiliki informasi yang memadai pekerjaan apapun tentu akan menjadi sia-sia. Letak permasalahannya di mana, solusinya malah ke mana. Serba tidak klop.

Caranya bagaimana? Sebagai permulaan, kita bisa mendatangi ketua RT atau tokoh masyarakat setempat. Selain sebagai bentuk silaturahim dan meminta ijin secara informal, dari aktifitas ini kita juga bisa menggali informasi dasar, perihal kondisi wilayah tersebut.

Selanjutnya, kita bisa berkeliling, melakukan pengamatan secara langsung. Tujuannya untuk mencari tahu di mana letak kekuatan dan kelemahan daerah tersebut terkait masalah kesehatan. Supaya perkembangannya di masa yang akan datang, terpetakan, survey ini harus rutin diadakan setiap interval waktu tertentu. Bisa per bulan, per caturwulan, atau per semester—tinggal disesuaikan dengan kondisi pada saat itu.

Terkait penyakit yang sering diderita warga, bagaimana? Gambaran umum terkait hal ini bisa diketahui pada fase pengamatan pertama. Bisa dengan mengajukan pertanyaan kepada perangkat desa yang memandu survey, atau lewat interview dengan beberapa warga yang kebetulan (atau dengan sengaja) ditemui.

 

Penentuan skala prioritas penanganan

Penentuan skala prioritas penanganan ini terbagi menjadi 2 macam, yaitu: sick care dan healthcare. Sesuai temanya, sick care memfokuskan pada penanganan pelayanan medis yang harus disegerakan, seperti keadaan darurat (emergency), wabah, persalinan, kecelakaan, intensitas penyakit yang sering diderita warga, dan lain-lain.

Sementara healthcare, lebih bertumpu pada aspek pencegahannya. Misal; pada suatu wilayah DTPK sering ditemukan kasus diare. Maka tindakan pencegahan yang harus dilakukan adalah mencari penyebab utama penyakit tersebut. Apakah karena banyaknya lalat, kurang bersihnya lingkungan, makanan dan minuman yang tercemar, alergi, atau karena hal lainnya.

Jika persentase terbesar disebabkan karena banyaknya lalat, maka lalat inilah yang harus menjadi prioritas utama untuk dibasmi terlebih dahulu. Kemudian melanjutkan pada eliminasi faktor-faktor penyebab sekunder lainnya.

 

Penyuluhan keliling

Jika biasanya penyuluhan dilakukan di balai-balai desa, maka untuk penyuluhan keliling tempatnya adalah di rumah-rumah warga secara bergiliran. Jadi, nantinya tidak hanya materi saja yang diberikan, tapi juga praktek lapangan langsung. Dan sebagai sarana prakteknya adalah rumah warga yang pada saat itu mendapatkan giliran menghelat penyuluhan.

Dengan begini diharapkan, selain warga mendapatkan contoh praktek kesehatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mereka juga akan merasa malu manakala rumahnya mendapat giliran kalau kurang menjaga faktor kesehatan. Harapannya, jika rasa malu ini tumbuh, mereka akan berlomba-lomba menjaga kebersihan rumahnya.

 

Kegiatan ekstrakurikuler sekolah

Sekolah adalah lembaga belajar-mengajar yang bertujuan untuk mengembangkan potensi anak didik dalam hal pelajaran formal. Agar khazanah keilmuan mereka bertambah, umumnya sebuah lembaga pendidikan akan mengadakan yang namanya kegiatan ekstra kurikuler sekolah. Tujuannya jelas, agar siswa dapat mengembangkan bakat, kepribadian, dan kemampuan mereka di berbagai bidang, di luar bidang akademik (pendidikan informal).

Agar kepedulian terhadap kesehatan tumbuh sejak dini, pengenalannya bisa dilakukan lewat sekolah-sekolah. Supaya tidak mengganggu kurikulum, materi pendidikan kesehatan ini nantinya bisa digabungkan dengan kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) seperti pramuka, karya ilmiah, Palang Merah Remaja (PMR), atau bahkan berdiri sendiri, seperti ekskul Kesehatan Masyarakat, misalnya.

 

Pusat Tanya Jawab

Konsep Pusat Tanya Jawab ini adalah penggabungan antara fungsi information center sekaligus perpustakaan. Jadi, siapapun boleh datang untuk membaca dan bertanya tentang apa saja terkait masalah kesehatan. Baik kesehatan dirinya sendiri, maupun kesehatan lingkungannya.

Agar informasi kesehatan yang diperoleh masyarakat selalu up to date, pembuatan majalah dinding yang berisi kliping berita-berita kesehatan terbaru, juga diperlukan. Nantinya, majalah dinding ini bisa diletakkan di halaman depan balai pengobatan, atau jika wilayah DTPK terlalu luas, bisa ditempatkan di beberapa titik strategis sekaligus.

 

Crowd funding

Ada kalanya penanganan suatu penyakit kronis membutuhkan biaya yang sangat besar, dan boleh jadi dana yang dibutuhkan tidak terjangkau anggaran program yang sedang berjalan. Karenanya, untuk menjamin keberlangsungan pelayanan kesehatan terhadap pasien, pilihan crowd funding patut dipertimbangkan—jika tidak bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan Program Nusantara Sehat, tentunya.

Selain bisa digunakan untuk menjamin keberlangsungan pelayanan kesehatan, dana ini nantinya juga bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur wilayah DTPK, yang karenanya secara otomatis pula dapat meringankan beban anggaran pemerintah terkait program berjalan.

***

Dengan beberapa ide tersebut di atas, jika merujuk pada strategi global promosi kesehatan, setidaknya 5 dari 7 prinsip yang diajukan World Health Organization (WHO) tahun 1984, telah terpenuhi, seperti; Perubahan perilaku, Perubahan sosial, Perubahan lingkungan fisik, Pemberdayaan, dan Partisipasi masyarakat.

Karena poin Pengembangan Kebijakan berada di luar kapasitas Tim Nusantara Sehat, maka poin ini diserahkan sepenuhnya kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia selaku perpanjangan tangan pemerintah. Sementara untuk poin ketujuh, yaitu; Membangun Kemitraan, Jika Aku Tim Nusantara Sehat, hashtag: #SahabatJKN, ide yang terpikirkan adalah pengadaan Mobile Ambulance dengan fasilitas super lengkap, serta peningkatan ketergantungan masyarakat terhadap teknologi. [BEM]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s