Thai Alley Pacific Place Jakarta (Review Komprehensif)

Thai Alley Pacific Place Jakarta
Thai Alley Pacific Place Jakarta

Thai Alley Pacific Place Jakarta pertama kali dibuka pada tahun 2012. Dari keempat cabang yang telah tersebar di Jakarta dan Tangerang, Pacific Place merupakan outlet Restoran Thai Alley pertama dan terluas (240 m2) yang dirilis grup Culinary Concepts Asia, dengan mengusung konsep unik: Thai Street Food. Jajanan pinggir jalan Thailand, naik strata di Indonesia.

Jika dilihat sekilas, kita akan menyangka design interior resto ini lebih mengarah ke gaya industrial. Mengikuti tren raw, unfinished look. Padahal bukan. Karena, begitu diperhatikan lebih seksama, gaya resto ini jelas lebih sesuai dengan nama belakang yang disandangnya: Alley—yang berarti gang, lorong, atau jalanan sempit yang berada di antara bangunan-bangunan.

Ornamen lampu jalanan 1
Ornamen lampu jalanan 1
Ornamen lampu jalanan 2
Ornamen lampu jalanan 2

Maka jangan heran jika di tempat ini kita akan menemukan ornamen-ornamen jalanan semacam tiang dan kabel listrik, tiang lampu jalan, juntaian lampu penerangan, langit-langit yang dilabur cat hitam simulasi malam, pagar kawat harmonika (wire mesh), jendela usang dengan kaca-kacanya yang dibiarkan ternoda (duh, gak enak bahasanya), rolling door, tembok-tembok bata merah telanjang, serta komponen metal yang tampak mendominasi latar belakang dapur.

Tidak sampai di situ saja. Bahkan meja dan kursi yang digunakan pun, seluruhnya memberi kesan ‘jalanan’ dengan kayu-kayu daur ulang penuh dempulan berwarna kuning, biru langit, dan merah muda, di sana-sini.

Selfie
Selfie
Wefie
Wefie

Cahaya kuning keemasan dari lampu-lampu yang digunakan membuat atmosfer resto terasa temaram. Begitu kontras dengan tetangga di sekitarnya. Bagi penyuka selfie, wefie, atau penghobi fotografi, atmosfer seperti ini tentu bisa memberi nilai tambah selain wisata kuliner itu sendiri.

Area dapur disekat wine bottle rack dan rak gelas
Area dapur disekat wine bottle rack dan rak gelas

Area dapur disekat dengan wine bottle rack yang disejajarkan dengan rak gelas. Menempel dengan tembok belakang, terdapat 2 buah akuarium berukuran besar berisi ikan Kerapu, Kakap, dan Bawal. Kenapa dua? Agar bisa dijadikan cadangan, jika salah satunya rusak. Sehingga ikan yang dipesan konsumen selalu terjamin dalam keadaan segar.

Sejarah pemilihan konsep ini diawali ketika para pemilik sedang melakukan perjalanan/traveling ke negara Thailand.

Di negeri Kickboxing tersebut, mereka mendapatkan kesan bahwa the real taste of Thailand itu, adanya, ya, di street food-nya. Bukan di gedung-gedung tinggi atau di hotel-hotel mewah. Sementara pada saat yang sama, hampir semua restoran Thailand di Indonesia justru mengusung konsep fine dining.

Dari sinilah, kemudian tercetus ide untuk tampil dengan nuansa berbeda. Jika mereka mengusung konsep fine dining, maka kelima pendiri yang low profile, asli Indonesia, serta pecinta traveling dan kuliner ini justru bersepakat membuat Thai Alley dengan mengusung konsep street food ala Thailand.

Aman untuk anak-anak, bahkan balita sekali pun
Aman untuk anak-anak, bahkan balita sekali pun

Dengan begini, tentu kita tak perlu lagi pergi jauh-jauh ke Thailand hanya untuk mencicipi cita rasa otentik masakan, sekaligus merasakan nuansa kedai-kedai jalanan Thailand yang sesungguhnya. Nilai plus lainnya? Tentu saja lebih nyaman dan steril dari polusi. Baik asap kendaraan, maupun asap rokok.

Demi mendukung perilaku hidup sehat, sekaligus mendukung program pemerintah, sejak September 2015 yang lalu Thai Alley mulai menerapkan kebijakan larangan merokok di area resto. Sehingga cukup aman untuk anak-anak, bahkan balita sekali pun.

Thai Iced Tea
Thai Iced Tea

Sebagai menu pembuka, saya disuguhi Thai Iced Tea. Teh berwarna kecoklatan ini cukup menyegarkan. Selain paduan es dan susu kental, sedikit rasa rempah juga terasa di lidah. Manis, tapi tidak bikin enek. Dari presentasi wujudnya bisa dibilang Thai Iced Tea ini agak mirip-mirip dengan teh tarik.

Karena sensasi rasanya cukup menarik di lidah, maka pada kunjungan kedua (ke gerai Puri Indah Mall), teh best seller ini sengaja saya pilih kembali sebagai penawar dahaga—padahal sebenarnya masih ada 41 variasi jenis minuman lain yang tersedia di buku menu dan belum dicoba.

Hmm, saya jadi semakin penasaran dengan masakannya…

Bagi yang belum pernah mencicipi masakan negeri Gajah Putih seperti saya, pertanyaan terbesarnya tentu tak jauh-jauh seputar rasa. Apakah ada manis-manisnya, khas masakan Jawa? Apakah gurih (asin), layaknya masakan Sunda? Atau jangan-jangan, cenderung pedas seperti masakan Padang?

Gai Yang 1
Gai Yang 1
Gai Yang 2
Gai Yang 2

Main course pertama yang saya cicipi adalah Gai Yang. Gai Yang adalah potongan daging ayam seukuran telapak tangan orang dewasa, yang telah diasinkan. Ia dimasak dengan cara dipanggang dicampur sereh dan disajikan dengan saus sambal sebagai pelengkap.

Agar lebih mudah saat disantap, potongan daging ayam berjumlah dua buah ini terlebih dahulu diiris-iris memanjang seukuran jari tangan orang dewasa.

Masakan racikan Natawut Chaisiri, atau akrab dipanggil Chef Wut*** ini, cukup nikmat disantap. Saus sambalnya pas. Tidak terlalu pedas, juga tidak terlalu… mmm, apa ya… ada yang tahu lawan kata pedas?

***Pada awal perkenalan kami, chef lulusan SMA ini, saya kira asli Indonesia dan cuma gaya-gayaan mengucap salam dalam bahasa Thailand. Ternyata betulan tidak bisa ber-Bahasa Indonesia. Karenanya, maafkan saya wahai kakak tertua (posisi Wai Khru).

Untuk membandingkan rasanya, iseng-iseng, saya coba makan Gai Yang tanpa saus sambal. Hmm, ternyata rasanya mirip sate ayam. Tanpa tusuk, tanpa bumbu kacang.

Tak lama berselang, Pad Kraprao dan Pad Thai menyusul terhidang di atas meja. Tanpa garnish dan daun basil, tampilan Pad Kraprao sekilas mengingatkan saya pada masakan rumahan seperti oseng tempe kecap dan tumis oncom kemangi. Bedanya, warna coklat pada Pad Kraprao dua kali lebih pekat kehitaman.

“Ini enak banget!” kata teman semeja saya, seraya mengisi kembali piringnya yang hampir kosong itu dengan Pad Kraprao.

Dari yang saya perhatikan, di antara beberapa menu Thai Alley yang terhidang di atas meja, memang pada Pad Kraprao ini sajalah fokus terbesarnya tercurah. Saking gandrungnya, bahkan dia sampai berniat membungkus sang juara untuk dibawa pulang.

Nah! Untuk kamu yang ingin mencoba membuatnya sendiri di rumah, coba simak resep Pad Kraprao Neua ala Thai Alley berikut ini:

Ingredients

  • Ground beef 1 pck
  • Daun jeruk 5 gr
  • Bawang putih 20 gr
  • Bawang merah 10 gr
  • Basil 15 gr
  • Cabe rawit merah 10 gr
  • Oyster sauce 50 gr
  • Dark mushroom 5 gr
  • Kol untuk garnish 12 gr
  • Wortel untuk garnish 4 gr
  • Gula pasir 15 gr

Cara membuat

  1. Tumis bawang putih, bawang merah, cabe rawit merah, daun jeruk dan cabe merah besar yang sudah diiris tipis.
  2. Masukan daging sapi (ground beef) lalu tumis bersamaan.
  3. Masukan bumbu-bumbu lain yang sudah disiapkan.
  4. Tumis sampai mengering dan masukan daun basil.
  5. Setelah kering siap untuk di sajikan dengan garnish kol dan wortel.

 

Sejarah Pad Thai

Berdasarkan poling “World’s 50 Most Delicious Foods” pilihan 35,000 pembaca CNN Travel, September 2011 yang lalu, Pad Thai menempati posisi kelima setelah Rendang (posisi pertama), Nasi Goreng, Sushi, dan Tom Yam Goong.

Sejarah Pad Thai tidak diketahui secara pasti. Namun, seiring penyebaran informasi yang berlangsung secara terus menerus sejak jaman dahulu, lambat laun membuat keyakinan publik terbelah menjadi dua.

Sebagian mempercayai bahwa asal usul Pad Thai didatangkan dari Vietnam, sementara sebagian lainnya—yang jumlahnya lebih besar—lebih meyakini bahwa makanan ini berasal dari negeri China.

Tentu saja, kedua keyakinan ini tidak berdiri sendiri. Masing-masing punya cerita yang melatarbelakangi.

Pada versi ‘Vietnam,’ misalnya. Sejarah Pad Thai diawali dengan kedatangan para pedagang Vietnam ke Ayutthaya pada masa Kerajaan Ayutthaya, sekitar tahun 1351-1767 masehi. Mereka memperkenalkan makanan tradisional negeri mereka, Pho Sao, kepada masyarakat Thailand pada saat itu. Seiring perjalanan waktu, rupanya makanan ini sanggup bertahan hingga masa Perang Dunia II (1939-1945), bahkan sampai sekarang.

Tak diketahui sejak kapan prosesnya dimulai, namun yang jelas, pergeseran itu terjadi. Lambat laun masyarakat Thailand mulai mengadaptasi dan mengubah namanya menjadi Pad Thai.

Sebaliknya, pada versi ‘China,’ ceritanya benar-benar berbeda.

Menurut Suthon Sukphisit, seorang kritikus makanan sekaligus jurnalis veteran asal Thailand, saat Panglima Tertinggi Militer, Plaek Phibunsongkhram, menjabat sebagai perdana menteri Thailand ketiga (1938-1944), kondisi negara sedang dilanda krisis akibat peperangan. Perekonomian sangat buruk. Kehidupan pun serba sulit.

Pada saat itu, makanan paling murah yang paling banyak dikonsumsi adalah mie beras. Karena makanan ini dianggap cukup lezat, mengenyangkan, dan bernutrisi tinggi—telah mencakup sayuran, taoge, dan daging babi—maka dikeluarkanlah sebuah kebijakan yang mengharuskan penjaja makanan keliling menjualnya di setiap provinsi, amphoe (sebutan kabupaten/kota di Thailand), dan di sekolah-sekolah.

Sebagai seorang nasionalis sejati—bahkan saking ‘sejati’-nya, sampai-sampai dianggap diktator—Plaek Phibunsongkhram ingin membangun kembali identitas nasional seutuhnya. Dia sangat membenci budaya China dan melarang ajaran-ajarannya. Tapi di sisi lain, dia justru mendukung masyarakatnya makan mie, yang jelas-jelas produk budaya China.

Masakan yang dibuat dengan cara menggoreng mie di bajan/penggorengan, seperti misalnya; Kwetiau Pad See Ew (mie goreng kecap) dan Kwetiau Rad Na (mie goreng dengan topping daging dan sayur-sayuran berkuah), belum dijual di jalanan pada saat itu, walau sekelompok orang telah membuatnya untuk dikonsumsi sendiri.

“Mie dan cara masak dengan menumis—dua elemen utama Pad Thai—dibawa imigran China ke Thailand sekitar 250 tahun lalu,” terang Sirichalerm Svasti, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Chef McDang. Seorang penulis, koki, juga selebriti makanan. “Yang membuat Pad Thai itu bercitarasa Thailand, hanya saus dan pastanya saja. Sementara selebihnya, baik dari teknik memasak maupun bahan-bahannya, sangat ‘China’ sekali.”

Pendapat ini sangat bertolak belakang dengan Sukphisit yang mengatakan bahwa faktor pembeda yang membuat Pad Thai itu “Thailand banget,” justru terletak pada komponen cabai tumbuk kering.

Pada saat itu, sangat sedikit masyarakat Thailand yang tahu tentang makanan ini. Namun demikian, ada satu masakan mie goreng yang cukup mereka kenal, yaitu Pad Sen Mee. Gorengan mie berukuran kecil yang dicampur sayur mayur dan daging babi, yang umumnya dimasak pada saat perayaan Tahun Baru China atau Tahun Baru Imlek.

Masyarakat Thailand mulai mengenalnya karena pada saat Tahun Baru Imlek, keluarga China yang sedang merayakan, biasanya akan mengundang teman-teman mereka bergabung untuk makan bersama. Dengan cara inilah, mie kemudian menjadi populer.

Juru masak China yang biasa memasak hidangan ini kemudian ingin membedakannya dengan mie yang biasa mereka masak pada saat perayaan Tahun Baru Imlek.

Bagaimana caranya? Mereka menambahkannya dengan cabai supaya lebih panas dan pedas, kemudian menyebutnya dengan istilah Pad Baeb Thai atau mie goreng ala Thailand. Seiring perjalanan waktu, istilah ini kemudian dipersingkat menjadi Pad Thai saja.

Oh, ya. Menjelang akhir Perang Dunia II, Pad Thai hanya terdiri dari mie, taoge, telur, udang kering, dan cabai tumbuk saja. Jadi, tidak sama dengan Pad Thai yang kita kenal sekarang.

Untuk bisa menikmati Pad Thai dengan cita rasa yang sangat lezat, menurut Suthon Sukphisit, lewat artikel “Restaurants Devasted by Deluge,” kamu bisa datang ke Provinsi Ang Thong. Tepatnya di belakang Wat Thong Khong, dekat Sungai Chao Phraya. Tempat ini cukup terkenal dengan kelezatan Pad Thai-nya.

Pad Thai
Pad Thai

Tapi, bagi kamu yang ingin merasakan kelezatan Pad Thai, tentu tak perlu jauh-jauh pergi ke sana. Cukup datang ke resto Thai Alley saja, dan kamu pun akan disuguhi dengan menu Pad Thai lezat bercitarasa otentik. Hashtag; #ILoveThaiAlley

Cita rasa otentik? Memang, apa jaminannya?

“Karena, chef dan hampir seluruh bahan/bumbu dasarnya, kami datangkan langsung dari Thailand. Gak semua resto Thailand (di Indonesia) kayak gitu. Selain itu, kita juga berani di bumbu. Jadi taste kita itu strong banget. Rasa asam dan pedasnya nendang,” terang Ambar Arum, Marketing Executive Thai Alley.

Yang dimaksud dengan bahan dasar di sini adalah, bahan-bahan khas Thailand, yang jika diganti dengan bahan-bahan lokal akan sangat mempengaruhi hasil akhirnya, terutama dari segi rasa. Contoh bahan-bahan dasar ini, seperti misalnya; teh, pasta Tom Yam, chili oil, dan beberapa secret ingredients lainnya yang tentu saja tidak bisa disebutkan.

Bagi kamu yang ingin mencoba membuat sendiri signature dish Thailand ini, silahkan simak resep ala Thai SELECT berikut ini: (penjelasan tentan Thai SELECT, dibahas kemudian)

 

Bahan-bahan (untuk 1 porsi)

  • 5 ekor udang yang sudah dikupas
  • 1 sdt bawang putih cincang
  • 1 sdm bawang merah cincang halus
  • 3 sdm minyak sayur
  • 2 sdm kecap ikan (asin)
  • 1 sdm sari asam jawa
  • 1 sdm asinan lobak cincang halus
  • 1/2 sdt serbuk paprika merah
  • 50 gr gula aren
  • 10 gr udang kering
  • 50 gr tahu putih dipotong tipis-tipis
  • 150 gr mie tipis
  • 100 gr tauge
  • 20 gr kucai, potong sepanjang 1 inci cut
  • 1 butir telur
  • 1 jeruk limau, potong jadi dua

Cara membuat

  1. Rendam mie selama 5 menit sebelum dimasak, agar melunak
  2. Panaskan 1 sdm minyak sayur di wajan, goreng bawang putih dan bawang merah, lalu tambahkan mie dan siram sedikit demi sedikit dengan air sampai mie menjadi lembut.
  3. Tambahkan kecap ikan, gula, dan sari asam jawa. Aduk dengan cepat untuk mencegah supaya mie tidak saling menempel.
  4. Panaskan 1 sdm minyak sayur secara terpisah, lalu tambahkan asinan lobak, tahu putih, dan udang kering. Aduk hingga merata dengan mie, kemudian pinggirkan ke salah satu sisi wajan agar terdapat ruang untuk memanaskan 1 sdm minyak sayur berikutnya.
  5. Pecahkan telur pada wajan dan cacah tipis-tipis. Campurkan dengan mie yang teah disiapkan, sambil menambahkan kucai dan tauge.
  6. Pindahkan ke piring saji. Taburi dengan kacang goreng dan perasan jeruk limau. Kemudian hiasi dengan kucai mentah dan tauge.

Tips

  • Lakukan penambahan minyak secara bertahap
  • Terus-menerus periksa mie saat memasak, jika masih kering dan keras, siram sedikit demi sedikit dengan air atau tambahkan lebih banyak minyak.

Informasi tambahan

  • Kandungan Gizi : Protein, Karbohidrat, Kalsium, Fosfor, Zat Besi dan Vitamin C
  • Persiapan: 15 menit
  • Lama memasak: 10 menit
  • Total waktu yang dibutuhkan hingga tersaji: 25 menit
  • Tingkat kepedasan: 2/5

 

Tom Yam Talay

Menu selanjutnya yang saya cicipi adalah Tom Yam Talay, yang disajikan menggunakan wadah paling outstanding dibanding menu yang lain: Panci Steamboat (kadang disebut dengan panci Sterno atau panci Shabu-shabu) dengan kompor mini di bagian dasarnya.

Kelebihan penggunaan wadah saji dari panci jenis ini adalah kita memiliki kebebasan mengatur temperatur kuah sup Tom Yam yang dihidangkan.

Mau tetap panas? Biarkan panci tertutup rapat. Tapi ingat! Jangan terlalu lama, karena selain berpotensi mengurangi kadar gizi, overcooked juga bisa merubah tekstur dan cita rasanya.

Mau tetap hangat? Buka tutup panci dan biarkan kompor menyala.

Atau, mau kuah sup lebih cepat dingin? Tinggal matikan kompor dan buka tutup pancinya.

Tom Yam Talay (sumber Thai Alley)
Tom Yam Talay (sumber Thai Alley)

Kalau boleh jujur, dari sekian menu yang saya cicipi, Tom Yam Talay adalah salah satu menu paling favorit yang membuat saya ingin kembali lagi ke Thai Alley. Kuahnya begitu segar, dengan komponen rasa asam dan pedas yang terasa pas di lidah.

Pengalaman kuliner ini pada akhirnya menggiring saya pada asumsi, bahwa lidah Thailand dengan lidah Indonesia itu ternyata tidak jauh berbeda. Kita sama-sama suka pedas dan berani di bumbu. Yang membuat karakter masakan Thailand terasa berbeda, mungkin hanya terletak pada kecenderungan rasa asamnya saja. Karena masakan mereka banyak yang menggunakan lime juice pada bahan dasarnya.

***

Dari 85 menu makanan yang disajikan Thai Alley, mayoritas berporsi besar. Mengapa? Karena pada dasarnya konsep kuliner mereka memang ditujukan untuk “makan tengah.” Walau banyak juga customer yang mampu menghabiskannya seorang diri—biasanya laki-laki.

Di Thailand sana, istilah makan tengah lebih dikenal dengan sebutan “makan bersama”—pada masa lalu biasanya diawali dengan sapaan “Gin khao reu yang?” yang berarti, “Sudah makan, belum?”

Saking cintanya penduduk Thailand terhadap makanan, kata sapaan tersebut bahkan sampai dianggap serupa dengan sapaan, ‘Halo’ atau ‘Hai’ di kehidupan sehari-hari. Setidak-tidaknya, sampai istilah ‘Sawatdee’ mulai diperkenalkan pada tahun 1943.

Khao Niew Mamuang (Ketan Mangga) - copyright Thai Alley
Khao Niew Mamuang (Ketan Mangga) – copyright Thai Alley

Di antara puluhan menu yang dimiliki restoran berkarakteristik dominan pedas dan asam ini, ada 3 menu best seller yang umumnya menjadi favorit konsumen mereka, yaitu; Tom Yam (baik Goong, Talay, maupun Pla Tom Yam), Pad Thai, dan Khao Niew Mamuang.

Dan, Tahukah kamu?

  • Jika Pad Thai adalah signature dish-nya Thailand, maka Tom Yam adalah signature dish-nya Thai Alley.
  • Kati Sod ice cream atau es krim kelapa adalah satu-satunya menu yang hanya bisa kamu temui di Thai Alley dan tidak tersedia di resto Thailand lainnya.
  • Krathong Thong adalah menu kategori snack yang sudah tidak lagi tersedia pada buku menu mereka.
Belajar membuat Kati Sod Ice Cream 1
Belajar membuat Kati Sod Ice Cream 1
Belajar membuat Kati Sod Ice Cream 2
Belajar membuat Kati Sod Ice Cream 2
Belajar membuat Kati Sod Ice Cream 3
Belajar membuat Kati Sod Ice Cream 3
Belajar membuat Kati Sod Ice Cream 4
Belajar membuat Kati Sod Ice Cream 4
Penjurian Kati Sod Ice Cream terbaik
Penjurian Kati Sod Ice Cream terbaik
Tim Mawar, pemenang games membuat Kati Sod Ice Cream
Tim Mawar, pemenang games membuat Kati Sod Ice Cream
Kati Sod Ice Cream 1
Kati Sod Ice Cream 1
Kati Sod Ice Cream 2
Kati Sod Ice Cream 2
Gerobak es krim Kati Sod
Gerobak es krim Kati Sod

Mau yang rasanya tak kalah unik? Kamu bisa coba menu premium Tom Yam Goong Ma Praw Oon.

Hidangan ini adalah sup tradisional khas negeri Budha Emas berisi jamur, serai, dan udang besar, yang disajikan menggunakan mangkuk dari batok kelapa segar. Supaya lidah Indonesia kita tidak sungsang saat mengeja namanya, mari kita sebut saja menu ini dengan Tom Yam seafood air kelapa.

Tom Yam Goong Ma Praw Oon (sumber Thai Alley)
Tom Yam Goong Ma Praw Oon (sumber Thai Alley)

Sayangnya, dessert Khao Niew Mamuang/Ketan Mangga tidak tersedia pada saat itu, karena buah mangga Arumanis yang menjadi bahan dasarnya, rupanya tidak setiap waktu ada alias tergantung musim—masa panen mangga lokal ini umumnya antara bulan Juli sampai November, sementara saya datang pada bulan Februari.

Pada buku menu, presentasi Ketan Mangga termasuk yang paling sederhana di antara menu-menu lain yang saya coba. Setengah potong buah mangga dipotong kecil-kecil bergelombang, disandingkan dengan setangkup ketan ber-topping krim kelapa dan beralaskan daun pisang berbentuk lingkaran.

Sebelum dan sesudah masuk ke dalam daftar buku menu, setiap makanan maupun minuman wajib diperiksa divisi Quality Control—yang memiliki background koki—terlebih dahulu, untuk memastikan dan menjaga standarisasi rasanya. Seluruh outlet harus mengikuti standar baku yang telah ditetapkan ini.

Khao Pad Tom Yam (Nasi goreng udang)
Khao Pad Tom Yam (Nasi goreng udang)

Saat ini, kategori menu yang tersedia mulai dari Snack, Salad, Soup, Grilled & Fried, Stir Fried, Noodle, Rice, Fried Fish, Steamed Fish, Curry, Vegetable, Premium, Dessert, Drinks, hingga Kids Meal. Dan, rekomendasi saya untuk kategori Rice adalah Khao Pad Tom Yam (Nasi goreng udang) dan Khao Pad Sapparod (Nasi goreng nanas lengkap dengan udang, ikan, dan kacang mete).

Untuk para first timer, Khao Pad Sapparod yang tampilannya mirip nasi kuning dengan sensasi rasa manis-asam ini mungkin akan terasa sedikit aneh. Wajar saja. Karena rasanya memang jauh berbeda dengan nasi goreng Indonesia yang pada umumnya berkarakteristik pedas.

Dari seluruh pengunjung yang datang, sejauh ini rata-rata memesan snack dan dessert dengan rasio 1:1. Sementara untuk pemesanan main course-nya, rata-rata pengunjung memesan 1-3 menu makan tengah. Tergantung berapa banyak jumlah mereka dalam satu grup.

Bagi sebagian orang, harga yang ditetapkan resto masakan Thailand ini mungkin akan terasa mahal. Tapi tenang, dari setiap rupiah yang kamu keluarkan, harganya relatif sepadan dengan kualitas makanan yang dihidangkan, baik dari segi rasa, maupun portioning-nya—mayoritas menu main course-nya berukuran jumbo, sehingga kita bisa sharing dengan 2-3 teman yang lain.

Berkumpul bersama teman
Berkumpul bersama teman
Ambar Arum, Marketing Executive Thai Alley
Ambar Arum, Marketing Executive Thai Alley

Soal bahan-bahan, “Suplai kita datang setiap hari,” ungkap Ambar. “Mostly, lifespan-nya 2-3 hari. Kalau sayuran, 1 hari. Daging, bisa 2 hari maksimal. Sementara singkong, bisa 3-4 hari. (Untuk menjaga agar tetap segar) masuk lemari es semua, tapi gak lama-lama. Biasanya kita gak waste, sih.”

Yang dimaksud dengan “gak waste” di sini adalah sold out, atau sebelum sampai pada masa kadaluarsanya, stok sudah habis terjual dan diganti dengan yang baru.

 

Kecepatan penyajian

Sebelum pesanan sampai di meja customer, semua masakan harus selalu dicicipi terlebih dahulu. Tujuannya untuk memastikan bahwa produk tersebut telah memenuhi standard method of cooking-nya. “Kami punya SOP untuk semua resep,” papar Ambar.

Terkait serving time, Thai Alley menerapkan standard waktu maksimum satu masakan sampai di meja customer antara 15-20 menit untuk full table, dan 10-15 saat kondisi restoran sedang sepi. Yang dimaksud dengan full table di sini adalah kondisi di mana minimal 50% area restoran terisi/terokupasi. Kurang dari itu, dianggap restoran sedang sepi.

Meja dan Kursi dengan sentuhan daur ulang (recycle) 1
Meja dan Kursi dengan sentuhan daur ulang (recycle) 1
Meja dan Kursi dengan sentuhan daur ulang (recycle) 2
Meja dan Kursi dengan sentuhan daur ulang (recycle) 2

 

Di mana saja kamu bisa jumpai Thai Alley

Perusahaan lokal yang memfokuskan diri di bidang kuliner ini merencanakan membuka satu cabang setiap tahunnya. Maka tak heran, jika gerai Thai Alley yang mereka miliki saat ini telah mencapai 4 buah. Masing-masing untuk gerai Pacific Place (2012), Gandaria City (2013), Puri Indah Mall (2014), dan Summarecon Mal Serpong (2015).

Tahun 2016 ini, jika segalanya berjalan dengan mulus, rencananya akan dibuka kembali satu gerai di Mal Kelapa Gading.

Pemilihan Mal Kelapa Gading sebagai area pembukaan cabang kelima ini tentunya bukan tanpa alasan. Selain di area tersebut belum tersedia satu pun gerai Thai Alley, pasarnya juga dinilai cocok dengan target market mereka yang menyasar anak muda, eksekutif, dan keluarga dengan Socio-Economic Status (SES) B hingga A. Atau bahasa gampangnya, keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke atas.

Foto bersama teman dan keluarga
Foto bersama teman dan keluarga

Sejauh ini, gerai Thai Alley Pacific Place Jakarta yang terletak di Jl. Jendral Sudirman, Kav. 52-53, Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan, lantai 5, adalah yang paling ramai.

Weekday pasti penuh terisi oleh customer kantoran. Sementara weekend, kecenderungannya lebih sepi, tapi tetap terbilang lumayan. Kemudian, secara berturut-turut diikuti gerai Summarecon Mal Serpong, Puri Indah Mall, dan Gandaria City.

Salah satu faktor yang membuat gerai Summarecon Mal Serpong cukup happening sepertinya dikarenakan belum banyak tersedianya resto Thailand di area Tangerang,

Saya punya satu informasi rahasia yang cukup menarik. Kalau kamu ingin menikmati beragam menu Thai Alley dengan harga yang relatif sedikit lebih murah, cobalah datang ke gerai Puri Indah Mall. Kenapa bisa begitu? Tampaknya ini termasuk dalam strategi marketing mereka.

 

Strategi Marketing

Dari beberapa hal yang mempengaruhi kesuksesan dalam bisnis restoran, salah satu faktor terpentingnya adalah lokasi—baik dari segi kemudahan akses, populasi target market, maupun dari tingginya volume traffic. Ketiganya harus saling bersinergi.

Kalau sinergi ketiganya tidak terpenuhi, bagaimana? Ya, tinggal jalankan fungsi marketing saja. Caranya bisa dengan sering-sering mengadakan promosi, me-maintain customer existing (terutama customer setia), rajin meng-update info-info terbaru, meningkatkan brand awareness melalui media sosial, atau rutin mengadakan acara gathering.

Selain beberapa fungsi marketing tersebut, Thai Alley juga rutin menambah menu makanan baru, setidaknya 1-2 kali setahun dengan rata-rata penambahan 2-3 menu per tahun. Saat ini, untuk kategori makanan jumlahnya mencapai 85 menu, dari yang semula hanya 60an. Sementara kategori minuman masih relatif sama, yaitu 42 menu.

Pertimbangan ini diambil, tentu saja agar konsumen tidak bosan dan bisa kembali lagi mencoba varian menu-menu baru tersebut.

Bagi Thai Alley, konsumen adalah partner. Karenanya, setiap input dari konsumen selalu didengar. Bahkan produk, promo, penyusunan daftar buku menu, dan lain sebagainya, bisa dikatakan mostly dari masukan konsumen. Kecuali resep dasar, tentunya. Mengapa?

Karena selain telah menjadi standar baku dari Thai chef mereka, resep dasar inilah yang menjadi kunci daya tarik rasa sekaligus pembeda dengan resto-resto Thai lainnya.

Berkumpul bersama keluarga
Berkumpul bersama keluarga

Sejauh ini, rasio pelanggan yang datang adalah 1:1 atau 50% repeat customer, 50% new customer.

Kategori repeat customer ini cukup beragam. Misal, untuk gerai Pacific Place, repeat customer umumnya berasal dari executive atau karyawan. Summarecon Mal Serpong; keluarga, mahasiswa, dan karyawan. Puri Indah Mall; keluarga. Sementara Gandaria City; keluarga.

Sebaliknya, new customer pada umumnya mengetahui informasi mengenai Thai Alley dari teman-teman mereka yang pernah datang berkunjung, atau via social media.

Voucher Promo Thai Alley
Voucher Promo Thai Alley

Untuk meningkatkan loyalitas pelanggan setia, saat ini Tim Marketing Thai Alley tengah menyusun sistem loyalty card yang terintegrasi dengan website, juga apps (aplikasi smartphone). Keuntungannya bagi customer adalah, semakin banyak kita berbelanja, semakin banyak pula poin yang bisa ditukar dengan voucher makan gratis di gerai resto Thai Alley mana saja.

Jika tidak ada halangan, program ini rencananya akan di-launching antara akhir maret 2016 hingga awal April 2016 mendatang.

 

Jaminan kualitas

Soal kualitas masakan, jelas tak perlu diragukan. Thai Alley telah memiliki sertifikasi Thai SELECT dari Department of International Trade Promotion (DITP), Kementrian Perdagangan Thailand—secara langsung.

Artinya apa?

Dengan kepemilikan sertifikat Thai SELECT ini membuktikan bahwa Restoran Thai Alley telah memenuhi standar internasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Thailand. Tidak hanya dari segi originalitas taste/cita rasa saja, tapi juga dari segi pelayanan (mulai dari keramahan, kerapihan, kemampuan koki, hingga cara penyajian), atmosfer restoran (design interior dan exterior), hingga presentasi makanan.

Dari 6 sertifikat Thai SELECT yang dikeluarkan DITP untuk Indonesia, 2 di antaranya dikantongi Thai Alley. Masing-masing untuk outlet Pacific Place dan Gandaria City.

Pada tahun 2013, untuk memenuhi salah satu syarat kelayakan sertifikat Thai SELECT, sebuah restoran masakan Thailand harus sudah berjalan selama minimal 6 bulan pada tanggal pengajuan. Tapi mulai tahun 2015, masa operasional aktif tersebut diperketat lagi menjadi minimal 2 tahun.

Pengetatan syarat masa operasional inilah yang menjadi alasan mengapa outlet Puri Indah Mall dan Summarecon Mal Serpong tidak lolos seleksi pada pendaftaran sebelumnya. Masa operasional keduanya belum mencapai 2 tahun saat didaftarkan.

Untuk membuatnya lebih sulit, pengujian yang dilakukan oleh tim DITP ini bersifat rahasia. Setelah aplikasi diterima, dinilai, dan dianggap memenuhi syarat administratif (seperti; daftar menu, resep menu, foto restoran, surat legal bukti kepemilikan, dan lain-lain), kemudian mereka mengutus perwakilan profesional ke restoran yang didaftarkan untuk melakukan evaluasi lanjutan. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu alias blind visit.

Berapa kali mystery guest ini visit? Cuma mereka yang tahu.

Berapa lama prosesnya? Itu pun tergantung kebutuhan mereka. Dalam kasus Thai Alley, prosesnya memakan waktu hingga 7-8 bulan.

Karenanya, jika sebuah restoran tidak selalu perform selama masa pengujian berlangsung, peluang gagalnya tentu cukup besar. Untungnya, jika seleksi pertama gagal, kita masih bisa mengajukan permohonan pada kesempatan berikutnya.

Kabar baiknya, pendaftaran sertifikasi ini tidak membutuhkan biaya sama sekali alias free bin gratis. Sementara kabar buruknya, DITP tidak membuka pendaftaran sertifikasi Thai SELECT setiap tahun.

Design Interior Thai Alley Pacific Place Jakarta 1
Design Interior Thai Alley Pacific Place Jakarta 1
Design Interior Thai Alley Pacific Place Jakarta 2
Design Interior Thai Alley Pacific Place Jakarta 2
Design Interior Thai Alley Pacific Place Jakarta 3
Design Interior Thai Alley Pacific Place Jakarta 3

 

Kemampuan dan pengalaman koki Thai Alley

Setiap gerai Thai Alley digawangi oleh seorang Thai chef (level tertinggi) dan dibantu 2-3 chef de partie yang bertanggung jawab terhadap section-nya masing-masing. Walau pun istilah Thai chef yang digunakan di sini lebih menitikberatkan pada negara asal mereka, bukan berarti mereka tidak ahli di bidangnya, ya.

Kita ambil contoh, Chef Wut, misalnya. Koki berpostur tubuh kecil ini diam-diam sudah mengantongi pengalaman lebih dari 20 tahun menjadi koki resto Thai di berbagai negara asia dengan spesialisasi Thai cuisine. Tak ada pendidikan khusus masak-memasak yang pernah dia ambil. Skill yang dimilikinya saat ini murni didapatkan secara otodidak.

Karakter self learning seperti ini juga dijalani oleh ketiga Thai chef lain, seperti; Charoen Phranon (nickname: Chef Dam – Gandaria City), Phaithun Phanomsoet (nickname: Chef Ole – Puri Indah Mall), dan Buntam Warasit (nickname: Chef Buntam – Summarecon Mal Serpong).

Seluruhnya, termasuk Chef Wut, dipilih langsung (handpicked) oleh seorang head chef asal Thailand yang sangat senior—baik dari segi usia, maupun pengalaman—yang namanya sengaja dirahasiakan itu.

Kalau ditanya, “Di mana letak kekuatan masing-masing chef ini?” maka jawabannya adalah; skill mereka setara, dengan rata-rata pengalaman mencapai 15-20an tahun, khusus masakan Thailand. Jadi, bicara soal kemampuan, tentu tak perlu diragukan lagi, kan?

 

Bagaimana cara Thai Alley menangani keluhan pelanggan

Tak bisa dipungkiri, di mana pun dalam dunia usaha, yang namanya komplain itu pasti ada—entah sedikit, entah banyak.

Komplain menandakan bahwa bisnis kita memang berjalan. Dengan adanya komplain, kita jadi bisa terus melakukan evaluasi. Meningkatkan kemampuan dengan mengetahui kekurangan diri sendiri. Bahkan perusahaan raksasa sekaliber Microsoft pun, bisa tumbuh dan berkembang dari adanya komplain para pengguna.

Dalam hal menjaga kepuasan pelanggan, Thai Alley menerapkan kebijakan “Straight to the Point.” Komplain on the spot langsung ditangani oleh manager on duty setiap outlet. Sementara komplain yang datang melalui jalur online dan hotline akan ditangani oleh marketing executive mereka secara personal.

Untuk keluhan makanan lama dihidangkan, misalnya. Manager on duty akan langsung mengkomunikasikannya ke bagian kitchen supaya disegerakan. Sementara untuk keluhan seputar cita rasa makanan—terlalu asin, terlalu pedas, terlalu asam, dan lain-lain—manager on duty akan langsung mengeceknya ke bagian kitchen untuk memastikan apakah taste masakan tersebut sudah sesuai standar atau belum. Jika tidak sesuai standar, maka makanan akan segera diganti dengan yang baru.

Dari seluruh komentar yang masuk via jalur online maupun hotline, bisa dibilang 10-20%-nya berisi keluhan. Namun demikian, dari angka 10-20% ini, 99%-nya berhasil ditangani dengan baik. Pelanggan merasa puas dengan penanganan keluhan mereka. Respon positif tersebut umumnya disampaikan, secara lisan (kepada staff yang ditemui saat itu – 90%) maupun tulisan (melalui kolom komentar di beberapa situs review online – 10%).

“Kalau ada keluhan, umunya kita komunikasikan secara kekeluargaan dengan para pelanggan. Mereka kita undang kembali ke outlet untuk diajak berdiskusi, sekaligus memberikan komplimen berupa voucher atau makan gratis masakan yang mereka keluhkan,” jelas Ambar. “Pokoknya, We take complaints seriously!

***

Thai Street Food
Thai Street Food

Sebelum mengakhiri review komprehensif ini, mari kita breakdown kembali beberapa alasan mengapa Thai Alley layak kamu kunjungi…

Pertama: Chef dan bumbu dasarnya didatangkan langsung dari Thailand, sehingga menjamin cita rasa yang otentik – Thai Alley could bring you the best of thai cuisine. Kedua: Atmosfer resto cukup cozy dan nyaman, sehingga kamu bisa hangout berlama-lama. Ketiga: Apa yang kamu bayar sebanding dengan porsi dan taste-nya. Bahasa kerennya, it worth every penny.

Keempat: Banyak promo menarik. Kelima: Bagi kamu yang sudah pernah ke Bangkok dan ingin mengenangnya kembali, Thai Alley could bring your memories back to Bangkok. Dan yang terakhir, keenam: Ikan yang disajikan sangat segar. Karena ikan-ikan tersebut masih dalam keadaan hidup. Ia baru ditangkap dan dibunuh (kok, jadi terdengar kejam, ya) saat dipesan.

Pokoknya, “Better than Thailand!” kata Duta Besar Thailand untuk Indonesia, H. E. Paskorn Siriyaphan, saat mencicipi beragam hidangan Thai Alley, setelah upacara pembukaan “Thailand Food, Fashion, and Fun,” pada May 8, 2014 yang lalu. Jadi, kapan giliran kamu datang ke Thai Alley Pacific Place Jakarta? [BEM]

Advertisements

4 thoughts on “Thai Alley Pacific Place Jakarta (Review Komprehensif)”

  1. Baca review ini jadi kangen sama makanan-makanan Thailand *menerawang*

    Jadi penasaran sama Tom Yumnya 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s