13 Tips Fotografi Pernikahan (Wedding Photography) untuk Pemula

13 tips fotografi pernikahan (wedding photography) untuk pemula

13 tips fotografi pernikahan (wedding photography) untuk pemula yang akan saya bahas di sini sengaja lebih banyak dititik beratkan pada aspek non-teknis. Mengapa?

Karena hampir bisa dipastikan, kalian yang tidak diduga-duga ditunjuk, atau memilih mencari/menerima job sebagai fotografer wedding, tentu sudah memiliki pengetahuan dasar teknis fotografi yang relatif memadai. Kalau pun ada perasaan pengetahuan tersebut dianggap kurang, saya percaya ini lebih kepada faktor pengalaman atau jam terbang, dan bukan karena faktor ketidakmampuan.

Baiklah, untuk mempersingkat waktu, mari kita mulai membahas ke-13 tips ini satu per satu…

  1. Kenali kemampuan diri sendiri

Mengetahui sampai sejauh mana kemampuan diri sendiri adalah sesuatu hal yang bijaksana. Bila yang pro saja masih berpotensi melakukan kesalahan, apalagi kita sebagai fotografer wedding pemula, bukan?

Sebelum melangkah lebih jauh—khusus bagi yang baru pertama kali terjun—pastikan diri kalian siap, baik secara lahir mau pun bathin, dengan segala macam resiko atau konsekuensi yang terkandung dalam sebuah kegiatan fotografi pernikahan.

Kenali kemampuan diri sendiri
Kenali kemampuan diri sendiri

Ingat! Kita akan/sedang mengerjakan dokumentasi momen sekali-seumur-hidup mereka. Bahkan pasangan yang pada awalnya tak peduli sekali pun—yang langsung percaya pada kita tanpa background check terlebih dahulu—tetap bakal kecewa kalau hasil foto fotografer pilihan mereka di bawah standar rata-rata. Blur di sana, under exposure di sini, over exposure di situ, dan lain sebagainya.

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah, saya tidak sedang menjatuhkan semangat kalian. Ini lebih kepada berbagi pengalaman agar kalian lebih mempersiapkan diri sebelum sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.

Dan, satu lagi. Resepsi pernikahan adalah ritual yang tidak hanya mempersatukan kedua mempelai saja, tapi juga mempersatukan keluarga besar keduanya. Artinya apa?

Artinya, audience foto kita tidak hanya terbatas pada kedua mempelai saja, melainkan juga anggota keluarga besar mereka. Tingkat kekecewaan kedua mempelai bisa teramplifikasi lewat banyaknya jumlah anggota keluarga mereka yang sama kecewanya (setelah melihat hasil foto kita), begitu pun sebaliknya dengan tingkat kepuasan. Which side will you fall for? It’s your call.

 

  1. Kenali klien/calon mempelai

Setiap orang/klien/calon mempelai punya karakter yang berbeda-beda. Ada yang perfeksionis, ada yang serius tapi santai, ada yang masa bodoh, ada pula yang sulit ditebak. Sekarang minta A, besok ganti B. Begitu B terpenuhi, eh, malah minta kembali ke A lagi.

Untuk menangani tipe klien beragam seperti ini, komunikasi mutlak diperlukan. Dengan komunikasi, kita jadi tahu apa keinginan calon mempelai. Begitu pun sebaliknya. Calon mempelai tahu apa yang bisa mereka harapkan dari memilih kita sebagai fotografer pernikahan mereka.

 

  1. Mulai dari kerabat atau teman sendiri

Sejauh yang saya ketahui, fotografer wedding pemula umumnya memulai karir mereka lewat perantara hubungan kekerabatan atau pertemanan—setidaknya beberapa teman yang berprofesi sebagai tukang potret pernikahan (kebanyakan dijadikan pekerjaan sampingan), memulai dari jalur ini. Bisa awalnya hanya dimintai tolong saja – yang penting ada dokumentasi, bisa sebagai fotografer cadangan, bisa juga langsung didaulat menjadi fotografer inti.

Mulai dari kerabat atau teman sendiri
Mulai dari kerabat atau teman sendiri

Apakah klien pertama yang datangnya dari hubungan kekerabatan atau pertemanan ini pernah melihat hasil foto mereka?

Seharusnya pernah.

Apakah kemampuan fotografi dan hasil foto mereka baik?

Yah, minimal standar-lah, karena secara logika tidak mungkin juga mereka bakal dimintai tolong kalau hasil fotonya jelek. Bukan begitu?

Kelebihan memulai dari kerabat atau teman sendiri adalah, kita bisa mempelajari hal-hal yang terkait fotografi pernikahan dengan cara yang lebih mudah. Mulai dari proses negosiasi, penguasaan diri saat bergerak dan memotret di depan orang banyak, hingga delivery hasil akhir.

Minimal, perasaan canggung saat menghadapi orang lain tidak sebesar jika kita harus menghadapi klien (dan anggota keluarganya) yang nota bene adalah orang asing bagi kita.

 

  1. Perlengkapan fotografi: sewa atau punya sendiri

Untuk fotografer wedding pemula, yang namanya perlengkapan fotografi kadang menjadi dilema. Khususnya jika dana yang kita punya sangat terbatas. Mau beli sendiri, mahalnya bukan main. Jika pun dipaksakan, apa iya klien akan selalu kita dapatkan? Bagaimana kalau cuma 6 bulan sekali?

Apakah dengan berkata seperti ini berarti saya menjatuhkan semangat kalian sebagai pemula?

Big NO! Ini lebih kepada spirit “Hope for the best, plan for the worst.”

Baiklah. Sekarang, mari kita bahas satu per satu, faktor apa saja yang bisa dijadikan bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk memiliki sendiri atau menyewa;

 

Memiliki peralatan fotografi sendiri

  • Modal awal sangat besar. Jika sebelumnya sudah memiliki perangkat sendiri, abaikan poin ini.
  • Margin keuntungan yang diperoleh untuk setiap sesi foto relatif lebih tinggi ketimbang harus sewa,
  • Tidak perlu antar-jemput peralatan, baik sebelum mau pun setelah digunakan. Oke. Beberapa tempat penyewaan kamera dan peralatan fotografi memang menyediakan fasilitas ini, namun bagaimana kalau ternyata timing pengantaran mereka meleset? Ini pernah saya alami dan sangat berbahaya! Pertaruhannya tentu saja image kita—yang rencananya hendak dibangun.
  • Kita lebih aware terhadap performance peralatan yang dimiliki.
  • Performance peralatan pribadi relatif lebih baik ketimbang peralatan sewaan (walau tidak selalu begitu), karena ia hanya digunakan pada saat ada pekerjaan saja, dan hampir bisa dipastikan jarang berpindah-pindah tangan. Sementara kamera sewaan, apalagi tempat sewanya cukup tenar, peluang peralatan fotografi berpindah-pindah tangan tentu sangat tinggi, dan itu secara otomatis pula akan mempercepat umur pakai. Pada kamera, performance sensor adalah yang paling gampang diidentifikasi. Sensor kamera yang terlalu sering digunakan biasanya akan membuat warna foto terlihat lebih pucat.

 

Menyewa peralatan fotografi

  • Modal awal relatif lebih kecil.
  • Margin keuntungan sedikit banyak terpengaruh.
  • Rentang pemilihan peralatan yang diinginkan lebih luas. Dari low hingga ke level advanced. Namun kelemahannya adalah, semakin tinggi spek/spesifikasi peralatan, semakin tinggi pula biaya sewa yang harus dikeluarkan—dan secara otomatis turut mempengaruhi margin keuntungan. Selain itu, biaya sewa peralatan ini umumnya akan jadi lebih mahal pada saat akhir pekan dan musim kawin.
  • Tak perlu mengeluarkan biaya dan/atau tenaga untuk merawat perlengkapan fotografi sebagaimana jika kita memilikinya sendiri.
  • Dengan menyewa, sadar atau tidak, sebenarnya kita juga turut melakukan yang namanya me-review. Seiring perjalanan waktu, kita jadi tahu perangkat mana saja yang sekiranya sesuai dengan kebutuhan dan layak digunakan, mana pula yang tidak. Jadi, seandainya suatu saat nanti ada rejeki dan memutuskan untuk membeli, modal praktek langsung di lapangan bisa digunakan sebagai acuan.

 

  1. Ketahui susunan acara pernikahan

Susunan acara pernikahan sangat penting, baik bagi mempelai, juga bagi kita sebagai seksi dokumentasi. Ia menjadi semacam rel yang dapat menentukan mulus tidaknya perjalanan sebuah perhelatan acara pernikahan.

Dari sana kita bisa mengetahui apa saja rencana yang akan dilakukan oleh keluarga besar mempelai. Dari sana pula kita sebagai fotografer dapat memperkirakan beragam momen yang nantinya bakal terjadi, positioning saat memotret, hingga menentukan sudut pandang (angle) pengambilan gambar/foto yang baik.

 

  1. Pemilihan lensa

Di antara ke-13 poin tips fotografi pernikahan (wedding photography) untuk pemula ini, mungkin materi pemilihan lensa adalah yang paling awal dan sering kita—sebagai pemula—pertanyakan. Entah ditanyakan kepada diri sendiri, entah ditanyakan ke teman yang lebih paham, atau ditanyakan ke forum-forum fotografi. Atau boleh jadi pertanyaan itu mewujud ke dalam bentuk pencarian jawaban secara mandiri pada situs-situs terkait di internet.

Jika dana terbatas, sebenarnya lensa kit semacam 18-55mm, 15-85mm, 18-135mm, atau 18-200mm, sudah cukup. Tinggal ditambahkan flash eksternal saja. Mengapa cukup?

Karena kebutuhan klien yang memilih menggunakan jasa pemula, pada umumnya tidak terlalu wah. Yang penting ada dokumentasi dengan kualitas relatif memadai, pun sudah cukup.

Namun demikian, untuk hasil yang lebih baik dan jika anggaran dana mencukupi, penggunaan lensa premium 24-70mm f/2.8 dan/atau 70-200mm f/2.8 juga bisa dijadikan pilihan. Sebagai info saja, kedua lensa ini termasuk yang paling sering digunakan oleh para fotografer pernikahan.

Lantas, jika lensa premium ini bisa kita usahakan, apakah lensa kit yang kita punya jadi tidak berguna?

Lensa kit tetap berguna, terutama karena focal length terendah yang dimilikinya—umumnya 15mm atau 18mm—sangat bermanfaat untuk mengambil objek foto dengan cakupan yang relatif lebar, seperti; foto keluarga besar, atau suasana aula tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan.

 

  1. Antara RAW dan JPG/JPEG

Penggunaan format RAW pada acara penting semacam pernikahan punya banyak keuntungan. Salah satunya adalah fleksibilitas post-processing yang lebih baik ketimbang format JPG/JPEG (foto terkompresi).

Dengan file RAW, kita bisa lebih leluasa melakukan segala macam pengaturan—baik itu brightness, contrast, exposure, fill light, recovery, bahkan sampai sharpening dan noise reduction—tanpa perlu mengorbankan kualitas gambar secara keseluruhan.

Antara RAW dan JPG (JPEG)
Antara RAW dan JPG (JPEG)

Jika boleh saya ibaratkan, RAW itu seperti novel, sementara JPG/JPEG layaknya ringkasan atau review dari novel itu sendiri. Versi padat yang terbentuk dari beberapa bagian novel yang dianggap penting.

Dari analogi ini, menurut kalian, mana yang jalur ceritanya lebih gampang di-edit atau diutak-atik? Novel atau ringkasannya?

Tentu novel, ya.

Dengan segala fleksibilitas yang dimiliki file berformat RAW, sayangnya, terkandung juga beberapa kelemahan, yaitu; kebutuhan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, dan terlalu time consuming pada saat post-processing. Ingat! Dalam setiap acara, setidaknya dibutuhkan ratusan, bahkan ribuan kali klik. Jika semua foto diambil dalam format RAW, tapi klien malah meminta format JPG/JPEG, bagaimana?

Tambahkan dengan spek komputer yang serba terbatas….

Kelar hidup sampeyan!

Namun demikian, sepanjang memory card yang tersedia pada saat itu dianggap cukup—minimal 32 GB—saya pribadi lebih suka menggunakan kedua format tersebut secara bersamaan; RAW + JPG/JPEG.

Bagaimana jika memory card yang kita miliki terbatas?

Jangan khawatir! Hanya menggunakan format JPG/JPEG pada saat pemotretan pun sebenarnya tidak menjadi masalah, karena aplikasi pengolah gambar seperti Photoshop, memiliki fitur yang memampukan kita membuka dan mengedit file berekstensi JPG/JPEG—lewat perantara aplikasi Adobe Camera Raw dengan segala fitur yang tetap aktif—layaknya mengedit file RAW biasa.

 

  1. Tunjukkan portfolio yang kalian punya

Di luar sana, setidaknya ada 2 kategori fotografer pernikahan pemula menurut saya, yaitu; mereka-mereka yang pernah memiliki pengalaman minimal satu kali menjadi fotografer pernikahan, dan mereka-mereka yang belum pernah memiliki pengalaman sama sekali.

Bagi yang pernah memiliki pengalaman (saya sengaja tidak menyebutnya dengan ‘berpengalaman,’ karena konotasinya cenderung ke arah profesional), menunjukkan portfolio kepada calon klien adalah sangat disarankan, sebab sedikit banyak portfolio ini dapat meningkatkan kepercayaan calon klien kepada kita.

Sementara bagi yang belum pernah, tak perlu gelisah. Sebelum kalian akhirnya ditunjuk sebagai fotografer pernikahan, tentu pernah (atau jangan-jangan, malah sering?), kan, memotret teman-teman sendiri dengan berbagai gaya yang berbeda-beda? Entah itu sebutannya “foto keluarga,” entah itu “pre-wedd-pre-wedd-an,” entah itu “pura-puranya candid,” dan lain sebagainya.

Apa pun sebutannya, selama di foto tersebut ada gambar ‘orang,’ tunjukkan. Pilih foto terbaik yang kalian punya, layaknya foto tersebut akan diikutkan dalam sebuah lomba untuk menang.

 

  1. Jadilah sensitif dengan kondisi sekitar

Perhelatan pernikahan merupakan perayaan kebahagiaan terbesar bagi kedua mempelai dan keluarga besar mereka. Di dalamnya bercampur tamu yang datang dari mana saja. Kerabat, teman, handai taulan. Mulai dari yang sering bertemu, jarang bertemu, hingga yang sudah bertahun-tahun baru bertemu lagi di tempat itu.

Jadilah sensitif dengan kondisi sekitar, dan selalu siaga untuk momen-momen candid
Jadilah sensitif dengan kondisi sekitar, dan selalu siaga untuk momen-momen candid

Dari demikian beragamnya karakter dan latar belakang ini, kemudian berkumpul di satu tempat yang sama, tentu berpeluang memunculkan cerita-cerita tak terduga. Darinya, terpancinglah ekspresi-ekspresi kaget, haru, bahagia, tawa, canda, bahkan mungkin ekspresi paling aneh sama sekali.

Untuk membuat sebuah foto dengan impresi yang kuat, siagakan terus ‘radar’ kalian. Jangan biarkan momen-momen berharga seperti ini terlewat begitu saja.

Dan, satu lagi. Hindari memotret tamu undangan saat mereka sedang makan, kecuali karena keinginan mereka sendiri (biasanya untuk tujuan lucu-lucuan). Mengapa?

Karena, orang yang sedang makan tidak pernah terlihat menarik saat dipotret. Dan, tidak menutup kemungkinan, mereka akan marah karenanya. Saya pernah mencobanya pada teman sendiri, sekedar untuk lucu-lucuan, tapi yang terjadi saya malah dimaki-maki. Padahal jelas-jelas dia ini teman sendiri. Bayangkan, bagaimana jadinya kalau dia orang lain?

 

  1. Senyum, senyum, dan senyum

Secara naluriah, hampir semua manusia punya kecenderungan lebih menyukai seseorang dengan wajah yang terlihat ramah. Itu pula sebabnya, mengapa manusia mulai belajar tersenyum pada minggu kelima usia kehidupannya.

Efek fotografer murah senyum
Efek fotografer murah senyum

Charles Darwin mengatakan, pada umumnya bayi mengetahui bahwa dengan menangis ia dapat menarik perhatian orang tuanya, namun dengan senyum ia dapat mempertahankan perhatian tersebut.

Keramahan yang ditunjukkan dengan wajah yang selalu tersenyum, sejauh pengalaman saya, sangat membantu ketika kita hendak ‘mendekati’ objek foto. Dengannya, kita menghilangkan sekat penghalang. Pose mereka jadi lebih rileks, kita bisa lebih mudah mengarahkan gaya, hasil akhirnya pun secara otomatis ikut baik pula.

 

  1. Jika fotografer lebih dari satu

Untuk memperoleh cakupan dokumentasi yang lebih baik, satu fotografer saja tentu tak akan cukup. Karenanya tak jarang kedua mempelai menginginkan adanya fotografer kedua, entah sebagai tambahan atau cadangan. Fungsinya? Apalagi kalau bukan untuk saling melengkapi.

Masalahnya, juru foto lebih dari satu orang itu juga memiliki kelemahannya sendiri. Saking asyiknya mengabadikan momen, kadang kita tidak sadar telah mengacau momen terbaik yang hendak dibidik oleh rekan kita dengan masuk ke dalam ‘frame’ mereka. Begitu pun sebaliknya.

Untuk menghindari hal ini, sebelum acara dimulai, alangkah baiknya jika kita saling berkoordinasi terlebih dahulu. Tujuannya, supaya ‘kesadaran’ terhadap posisi masing-masing tetap terkontrol selama acara berlangsung.

Bergerak dalam format V, dan hindari formasi garis lurus
Bergerak dalam format V, dan hindari formasi garis lurus

Sebenarnya ada 2 cara termudah yang bisa digunakan sebagai ‘tools’ untuk menghindari saling menginterupsi komposisi, atau yang lazim disebut dengan ‘bocor’ atau masuk frame ini, yaitu;

  • Menggunakan lensa tele. Penggunaan lensa lebar, secara tidak sadar, seringkali menuntut kita mendekati objek foto. Semakin detil hasil yang diinginkan, semakin ketat pula jarak antara juru foto dengan objeknya. Akibatnya jelas, potensi saling interupsi komposisi tak dapat dihindari. Kondisi ini hampir sama dengan keadaan saat para wartawan berebut meliput tersangka KPK yang baru saya keluar dari ruang periksa. Bandingkan dengan wartawan olahraga saat pertandingan sepak bola Piala Dunia yang seluruhnya menggunakan lensa tele. Walau jumlah mereka lebih banyak dari pemain yang sedang bertanding, namun satu sama lain tidak saling menginterupsi objek foto masing-masing.
  • Selalu bergerak dalam format ‘V.’ Selalu posisikan objek foto di pangkal lengan (titik bawah) huruf ‘V,’ sementara kedua fotografer berada di kedua ujung atas huruf ‘V’ tadi. Hindari formasi garis lurus—horizontal/vertikal/diagonal—dengan objek foto berada di titik sentral kalian.

 

  1. Peraturan tempat ibadah

Hampir sebagian besar acara pernikahan selalu melibatkan yang namanya tempat ibadah. Yang muslim di masjid, yang kristen dan katolik di gereja. Apa pun tempat ibadahnya, aturan paling dasar yang secara instingtif langsung saya pahami adalah dalam hal mobilitas atau berpindah-pindah posisi ke sana kemari.

Saat sesi pemotretan, sebisa mungkin hindari bergerak dengan fase cepat atau seperti orang tergesa-gesa. Mengapa?

Karena selain berpotensi mengundang perhatian dan dapat mengganggu konsentrasi tamu yang hadir, bergerak tergesa-gesa dalam tempat ibadah—terutama ketika ritual keagamaan terkait pernikahan, berlangsung—juga dapat dianggap sebagai pelanggaran etika.

Perhatikan peraturan tempat ibadah
Perhatikan peraturan tempat ibadah

Untuk pengambilan gambar di gereja, sebelum acara dilangsungkan, disarankan berkoordinasi atau menghubungi pihak gereja terlebih dahulu. Tujuannya untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan saat ibadah berlangsung. Entah itu menggunakan flash, bergerak ke sana kemari, naik ke altar, bahkan sampai boleh-tidaknya memotret sekali pun.

Dari pengalaman beberapa teman, gereja katolik umumnya memiliki peraturan yang relatif lebih strict. Namun demikian, rata-rata gereja berbagi aturan yang sama dalam hal, “area altar adalah wilayah terlarang.”

Jadi jangan heran jika kalian jarang melihat foto tampak depan wajah kedua mempelai saat ritual sakral berlangsung. Yang paling sering, tentu saja foto tampak samping.

 

  1. Koordinator foto
Koordinator foto dari pihak keluarga mempelai
Koordinator foto dari pihak keluarga mempelai

Bagi yang belum terbiasa, mengarahkan orang sedemikian banyaknya untuk difoto bersama-sama tentu bisa menjadi kendala. Walau kita tahu formasinya tampak berantakan, karena ada perasaan sungkan (baca: tidak pe-de), biasanya langsung sikat saja. Yang penting semua orang masuk ke dalam frame.

Jika pun susunannya melebihi lebar frame, kita lebih pilih mundur daripada mengatur. Padahal kalau mau jujur, semakin kita mundur, semakin kecil dan sulit pula wajah-wajah dalam frame itu untuk dikenali.

Demi menghindari hal ini, ada baiknya kita meminta salah satu perwakilan dari pihak keluarga mempelai yang dapat difungsikan sebagai koordinator foto. Terutama mereka-mereka yang sudah terbiasa menghadapi orang banyak.

***

Sebenarnya masih banyak materi yang ingin saya eksplorasi lebih jauh. Tapi, demi mengingat 13 tips fotografi pernikahan (wedding photography) untuk pemula ini sudah demikian panjang, niat itu terpaksa saya urungkan. Jika di antara teman-teman pembaca di sini—baik yang amatir, terlebih lagi yang sudah profesional—ada yang ingin menambahkan, sangat dipersilahkan. Atau jangan-jangan, ada yang mau berkolaborasi? Atau malah mau menggunakan jasa saya untuk mengabadikan momen bahagianya? Hahaha. Salam. [BEM]

Advertisements

3 thoughts on “13 Tips Fotografi Pernikahan (Wedding Photography) untuk Pemula”

  1. aku mau dipotret jugaaaaa …

    Lain kali bagi tips fotografi pernikahan pake kamera saku dong 😆
    *nambah2in PR*

    1. Boleh. Golek pasanganmu dulu. Nanti tak poto2in. Gampang itu sih. Heee…
      Tips fotografi pernikahan pake kamera saku?
      Hmmm, menarik ini temanya. Apalagi banyak ketemu fenomena kayak gini, di mana fotografer benerannya sering bener direcokin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s