Pengalaman Kursus Setir/Mengemudi Mobil Transmisi Manual: Pengetahuan Dasar Penting untuk Pemula!

Pengalaman Kursus Setir-Mengemudi Mobil Transmisi Manual – Pengetahuan Dasar Penting untuk Pemula!

Bisa mengemudi mobil adalah kemampuan yang sudah lama saya inginkan. Sebetulnya banyak sekolah mengemudi/kursus setir mobil di sekitar rumah. Namun karena saya belum melihat kebutuhan ke arah sana, kursus ini urung saya ambil. Sebagai gantinya, kalau ada teman yang punya mobil, kadang saya todong untuk minta diajarkan. Yah, walau dari sekian banyak teman, cuma satu orang saja yang rela meminjamkan mobilnya—Toyota Kijang lawas, transmisi manual—untuk saya belajar. Catat! Meminjamkan, bukan mengajarkan.

Artinya apa? Artinya, setelah lingkar kemudi diserahkan kepada saya, pengoperasian mobil ini sepenuhnya berdasarkan pengetahuan perkiraan saja.

Kira-kira jalannya ajrut-ajrutan, tambah lagi gasnya tanpa memperhitungkan kondisi jalan di depan. Kira-kira mau nabrak, injak rem cepat-cepat (baca: mendadak). Kira-kira belokan tajam, bejek gas dalam-dalam supaya beloknya lebih cepat. Kira-kira jalan di depan sempit, segera minta ganti supir. Pokoknya resep celaka paling sempurna saya lakukan semua.

Untungnya, pada saat saya melakukan kesalahan, tepat ketika kondisi jalanan baru saja sepi. Kalau ramai, dijamin biaya pengobatan yang harus saya tanggung, jumlahnya cukup untuk beli 1-2 mobil yang sama. Terutama pada kasus tikungan tajam. Bukannya menurunkan kecepatan, pedal gas malah saya bejek dalam-dalam. Otomatis yang terjadi adalah mobil malah masuk ke jalur berlawanan dengan kondisi hampir-hampir terguling, saking tingginya kecepatan saat berbelok.

Terbayang, ya, betapa mengerikannya kalau pada saat itu dari arah yang berlawanan sedang ramai orang atau kendaraan?

Bahkan teman semobil yang saat itu sedang tidur akibat ngantuk berat, tiba-tiba saja segar bugar (baca: tegang) dan langsung lupa kalau dia itu sebetulnya sedang ngantuk berat. 😀

Untuk menghindari pengalaman yang sama terulang pada kalian, lebih amannya memang mengambil kursus di sekolah-sekolah mengemudi. Karena mobil latihan yang digunakan umumnya telah dimodifikasi sedemikian rupa—ada penambahan pedal kopling dan rem di bawah kursi penumpang depan, tempat instruktur duduk—sehingga proses latihan seharusnya jauh lebih aman.

Selain itu, di tempat kursus setir mobil ini kita juga akan dibekali pengetahuan dasar penting untuk pemula yang sangat berguna saat kita mengemudi sendiri di jalan raya.

Nilai plus lain dari kursus setir ini adalah, kita bebas memilih mobil jenis apapun untuk latihan. Entah itu mobil bertransmisi otomatis (matic), transmisi manual, minibus, sedan, hatchback, dan lain-lain, tergantung ketersediaan.

Bagi kalian yang berencana akan mengambil kursus mengemudi, sebelum mendaftar, saya akan membagikan beberapa informasi penting yang harus diperhatikan—disusun berurutan, berdasarkan pengalaman pribadi—di antaranya yaitu:

 

  1. Pengenalan instrumen standar

Pengenalan instrumen standar adalah pelajaran dasar pertama yang akan diterima setiap siswa. Bagi yang baru pertama kali duduk di cockpit, belakang kemudi, mungkin akan merasa sedikit bingung melihat berbagai instrumen yang (perasaan) “banyak amat” itu.

Tapi sebelum sampai di situ…

Benda pertama yang akan kita terima dan harus dipelajari dengan sangat cepat sebagai supir driver pemula adalah kunci mobil. Jujur saja, saat pertama kali diserahkan kunci, serasa ada desir di hati. Dan telapak tangan ini tiba-tiba saja bergerak ritmik, antara kontraksi dan relaksasi.

Kalau mau dibanding-bandingkan, mungkin rasanya itu seperti ujug-ujug dipaksa menikahi anak Pak Kiai yang cantik dan solehahnya bukan main (#Uhuk), tapi kita gak tahu bagaimana cara mempertanggungjawabkan jawaban kita setelah bilang, “Siap, Pak Kiai!” secara spontan dan tanpa sadar.

Kalau sekedar dititipi kunci mobil, tentu saya pernah. Dan rasanya, ya biasa-biasa saja. Tapi, dititipi kunci mobil sekaligus diberikan tanggung jawab untuk mengoperasikannya langsung di jalan raya untuk pertama kali… ya baru kali ini.

Deg-degan sih enggak. Cuma lemes aja, badan.

Setelah masuk dan duduk di belakang kemudi, instrumen-instrumen standar seperti; lampu sein, wiper, dim headlight, klakson, tuas gear, posisi pedal kopling-rem-gas, rem tangan, switch AC, dan lain-lain segera diperkenalkan.

Dari sekian banyak instrumen yang harus dipelajari tersebut, setidak-tidaknya ada 2 kelompok instrumen yang pengendaliannya benar-benar harus segera kita kuasai, yaitu:

  • Instrumen operasional primer (bawah), seperti: Pedal kopling-rem-gas, tuas gear, lingkar kemudi/setir, dan rem tangan.
  • Instrumen operasional sekunder (atas), seperti: Tuas lampu sein dan kaca spion kiri-kanan.

Dari pengalaman saya, kedua kelompok instrumen ini adalah yang paling sering digunakan pada saat latihan—dan tentu saja, setelah latihan dan seterusnya.

 

  1. Kemudi/Setir

Selesai pengenalan instrumen standar, instruktur meminta saya memutar kunci kontak dari posisi ‘LOCK’ ke posisi ‘ON.’ Karena terbiasa membawa motor, tentu saja teknis yang saya gunakan, ya, tekan kuncinya sedikit ke arah dalam, kemudian putar ke posisi ON, pasti mesin mobil bisa langsung menyala.

Tak dinyana, jangankan mesin menyala, kunci kontak pun tidak mau diputar sama sekali.

“Coba setirnya diputer sedikit, Mas,” instruksi sang instruktur, yang segera saya ikuti. Sama saja. Tidak bisa diputar. Macam kunci tadi, setir ini pun sama kerasnya kayak kepala batu!

“Coba lagi, Mas.” Nadanya datar, tapi terdengar sedikit kesal. Entah karena efek bangun tidur paksa, atau perulangan kesalahan yang sudah terlalu sering ditemui dan sangat membosankan, setiap pergantian siswa.

Butuh 2-3 kali percobaan hingga akhirnya setir + kunci kontak itu bisa diputar. Setelah mencari-cari informasi di internet, barulah saya ketahui, ternyata setir ‘nge-lock’ semacam ini, lumrah terjadi.

Nah! Jika hal ini benar-benar terjadi, yang harus kita lakukan adalah memutar setir mobil sambil memutar kunci kontak berulang kali, sampai kondisi mengunci teratasi dan mobil dapat di-starter. Oh, ya. Lakukan hal ini secara perlahan dan penuh perasaan. Tidak perlu menggunakan kekerasan tenaga extra, karena dikhawatirkan malah akan merusak kunci kontak tersebut.

Bagi driver pemula seperti saya:

Sebelum menjalankan mobil, ada baiknya memastikan ban depan lurus terlebih dahulu. Tujuannya, agar kita punya patokan (ancang-ancang) perihal berapa kali setir harus diputar saat mobil mulai dijalankan, khususnya jika jalan di depan ramai, sempit, dan langsung menikung.

Caranya bagaimana?

Gampang. Tinggal putar lingkar kemudi ke kanan atau kiri secara full, kemudian putar 2x ke arah berlawanan (please don’t confuse ½ putaran dengan 1x putaran), dan pastikan logo pada bantalan/pad klakson tidak terbalik.

 

  1. Rileks sebelum memulai praktek di jalan raya

Sebelum memulai praktek mengendarai mobil di jalan raya, renggangkanlah semua otot-otot tubuh kalian. Rileks, serileks-rileksnya. Jangan kaku atau tengang, karena itu hanya akan menghambat pelajaran. Kemahiran mengemudi pun jadi lebih sulit dicapai.

Jika keadaan rileks sudah tercapai, langkah selanjutnya adalah men-sugesti diri dengan kalimat afirmasi seperti, “Gue pasti cepet bisa,” berulang kali. Selain itu? Ada satu hal lagi yang bisa kalian lakukan, yaitu; kalau mau cepat bisa, sedikit nekad boleh dicoba. Yang penting self control jangan dilupa.

 

  1. Memulai praktek di jalan raya

Sebelum menyalakan mesin mobil, pastikan semua perangkat pendukung yang membutuhkan daya kelistrikan, seperti; AC, tape, wiper, lampu-lampu, dan lain sebagainya, dalam keadaan mati (Off). Tujuannya agar aki (accu) tidak cepat tekor akibat mendapat beban awal yang terlalu besar.

Jangan lupa, atur kursi pengemudi (posisi duduk) senyaman mungkin. Sebagai patokan posisi mengemudi ideal, kalian bisa melakukan hal berikut ini:

Pegang lingkar kemudi dengan kedua tangan dan pastikan keduanya berada di posisi jam 9 dan posisi jam 3. Dengan punggung bersandar pada kursi dan kedua tangan pada lingkar kemudi, pastikan kedua siku tangan kalian membentuk sudut sekitar 120° (tidak lurus 180°).

Jika tangan kalian lurus, artinya kursi terlalu jauh. Majukan sampai posisi siku tangan membentuk sudut 120°. Sebaliknya, jika tangan kalian terlalu bengkok (<120°), mundurkan kursinya.

Sekarang, pasang seat belt dan nyalakan mesin mobil. Pastikan pedal kopling dan rem diinjak penuh sebelum melepas rem tangan. Jika sudah, masukkan tuas transmisi/persneling ke gigi 1.

Sebelum kita lanjutkan…

Sampai di titik ini, pastikan kalian betul-betul mengingat posisi gigi 1-2-N(eutral)-3-4-5 dan R(everse). Alasannya apa? Untuk mengantisipasi kesalahan memindahkan tuas transmisi ke gigi yang salah ketika mobil sedang melaju. Dan jika kesalahan ini benar-benar terjadi, maka kemungkinannya ada 2, yaitu:

  1. Laju kendaraan jadi kurang responsif, bahkan cenderung memaksakan kinerja mesin. Contoh: Perpindahan dari gigi 1 langsung melompat ke gigi 3 atau 4 saat macet atau melaju di tanjakan.
  2. Mesin meraung karena laju kendaraan tertahan engine break. Contoh: Perpindahan dari gigi 3 (dengan kecepatan sekitar 40-50 km/jam) langsung lompat ke gigi 1.

Akibat yang harus kita tanggung jika poin pertama sering terulang adalah mesin kendaraan berpotensi cepat rusak. Sementara untuk poin kedua, akibatnya lebih fatal lagi. Selain mesin terancam cepat rusak, juga sangat membahayakan pengendara lain di belakang kita.

Ok, mari kita lanjutkan…

 

  1. Setengah kopling

Saat ini, kondisi mobil sudah masuk gigi 1. Suara mesin idle, dan pedal kopling dan rem sedang terinjak penuh.

Sebelum pedal kopling dan rem kita angkat, ada satu hal lagi yang penting untuk kalian ketahui, yaitu: Tanpa di-gas pun, jika tuas transmisi sudah berada pada posisi gear 1, kemudian kita lepas kopling pelan-pelan, mobil akan bergerak maju.

Sebelum mengangkat pedal rem, angkat pedal kopling pelan-pelan hingga mesin terasa sedikit menderu (posisi setengah kopling) dan tahan. Bila mesin mati, berarti bukaan kopling terlalu besar.

Dengan posisi setengah kopling, angkat pedal rem pelan-pelan hingga mobil bergerak maju perlahan. Sampai pada fase ini, (dengan posisi setengah kopling) untuk sementara, fokuskan kontrol gerak dan henti mobil hanya pada pedal rem.

Perhatikan jalan di depan. Begitu dianggap aman, perlahan-lahan lepas pedal rem, kemudian dilanjutkan dengan melepas pedal kopling tadi hingga penuh. Jika laju kendaraan terlalu pelan, tambahkan kecepatannya dengan menekan pedal gas.

Lakukan semua langkah tersebut di atas dengan perasaan. Dan jangan lupa… rasakan dan asah feeling kalian terhadap dimensi mobil, lebar jalan, serta lingkungan sekitar.

 

*********

PENTING UNTUK DIPERHATIKAN!

SELAMA SESI LATIHAN ASAH FEELING, (SELALU) GUNAKAN PERASAAN, SERTA FOKUSKAN PERHATIAN KALIAN LEBIH KE PEDAL KOPLING DAN REM. GUNAKAN PEDAL GAS HANYA SEPERLUNYA DAN SECUKUPNYA.

Kenapa?

Karena kebanyakan kecelakaan yang terjadi dan dilakukan oleh driver pemula, umumnya adalah salah mengidentifikasi antara pedal rem dan pedal gas. Niatnya mau nge-rem, malah nge-gas. Atau sebaliknya, niatnya mau nge-gas, malah nge-rem.

*********

 

 

  1. Saat mobil melaju

Saat mobil melaju, fokuskan perhatian kalian hanya ke jalan di depan saja. Untuk sementara ini, ‘abaikan’ lalu lintas atau semua kendaraan yang berada di belakang.

Kalau ada yang klakson, bagaimana? Abaikan.

Kalau ada yang mau mendahului? Persilahkan duluan.

Kalau mereka marah-marah? Ya, terima saja. Kita, kan, sedang latihan. Maklum kalau mereka marah, karena memang terganggu.

Intinya, JANGAN PANIK! Panik hanya akan membuat konsentrasi belajar, buyar.

Next…

Jika suara mesin terdengar menderu dan laju kendaraan terasa tertahan, artinya kalian sudah melewati batas maksimal gigi 1 (kecepatan sekitar 10-20km/jam). Segera ganti ke gigi 2, jika jalan di depan relatif lengang.

Yang perlu diingat sebelum oper gigi adalah; selalu injak pedal kopling sampai habis/mentok. Tujuannya, selain perpindahan transmisi jadi lebih halus, masa pakai rumah kopling dan kampas kopling secara otomatis pula akan lebih panjang (awet).

Setelah transmisi masuk gigi 2, lepas pedal kopling pelan-pelan. Saat pedal kopling telah berada di posisi sekitar ¾ kopling, supaya laju mobil tetap halus dan tidak ajrut-ajrutan, mulai imbangi dengan menekan pedal gas pelan-pelan. Pakai perasaan.

Alkisah, di suatu tempat nun jauh di sana…

Terdapatlah seorang siswa ndablek yang rajin penasaran tapi gak paham-paham, “Perasaan udah pelan-pelan, kok masih ajrut-ajrutan? Terus gue mesti pake perasaan yang mana!?”

Dan, sang instruktur yang sudah sampai pada titik sabar penghabisan itu, hanya menjawabnya dengan menekan tombol lontar kursi pengemudi… The End.

 

  1. Tikungan dan putaran

Setelah perkenalan jalan raya (yang relatif lurus), siswa didik kemudian akan dihadapkan pada menu yang sedikit lebih sulit, yaitu; tikungan dan putaran.

Seberapa sulit? Ini tergantung pada kadar kepanikan kalian. Kendala yang ditemui pengemudi pemula saat menghadapi tikungan dan putaran umumnya adalah; mulai dari laju mobil yang ndut-ndutan sampai mesin mati di tempat.

Untuk menghindari kendala ini, sebetulnya mudah saja. Kunciannya ada pada setengah kopling dan rem (silahkan baca kembali bagian “Setengah kopling”). Jika kurang yakin saat hendak berbelok atau menikung, berhentilah sejenak untuk mengevaluasi kondisi sekitar. Ini lebih baik.

Selain setengah kopling sama rem, ada lagi gak, kuncian lain?

Ada! Di antaranya, yaitu;

  • Belok di jalan lebar? Gunakan kaca spion kiri/kanan sebagai patokan. Jadi, begitu kaca spion sejajar dengan pembatas jalan tikungan, baru putar kemudi ke kiri/kanan. Bisa diputar penuh atau 1x putaran saja, tergantung situasi dan kondisi jalan pada saat itu.
  • Putar balik di jalan lebar? Gunakan sandaran kursi depan atau batang frame tengah kendaraan sebagai patokan. Jadi, begitu sandaran kursi depan atau batang frame tengah telah sejajar dengan ujung pembatas jalan, baru putar lingkar kemudi secara penuh ke kanan/kiri.
  • Belok di jalan sempit? Gunakan patokan putar balik.
  • Putar balik di jalan sempit? Gunakan patokan putar balik. Tapi sebelum memutar, ambil ancang-ancang agak melebar, supaya langsung ‘putus’ sekali jalan (tak perlu memaju-mundurkan kendaraan).
  • Putar balik di jalan sempit banget? Kalau gak terpaksa banget, lebih baik dihindari.

Dengan keempat patokan (plus 1) di atas, jangan lupa! Begitu mobil ‘masuk’ dan sejajar dengan jalan (tikungan atau belokan) yang dituju, cepat-cepat luruskan roda depan.

Untuk pemula seperti kita (atau jangan-jangan, saya doang?), cepat-cepat meluruskan roda depan sambil jalan itu enggak gampang. Kalau hal ini terjadi pada kalian, keep calm. Berhentilah barang sejenak. Take your time untuk meluruskan roda depan, kemudian baru kembali jalan.

Bagaimana kalau orang-orang pada ngamuk di belakang? Abaikan dan jangan panik. Keselamatan diri dan orang lain atas kecerobohan yang mungkin kita lakukan jauh lebih penting.

 

  1. Tanjakan yang bikin deg-degan

Tanjakan, bagi pemula, seringkali terasa lebih sulit dibandingkan dengan tikungan dan putaran, khususnya jika terjadi kemacetan panjang. Kenapa? Karena selain harus mempertahankan posisi mobil terakhir berhenti, kita juga harus memikirkan supaya pada saat kembali dijalankan, mobil tidak mundur dan menabrak kendaraan di belakang.

Apalagi bila mengingat, semakin tinggi keterampilan mengemudi seseorang, semakin besar pula kemungkinan mereka pilih berhenti rapat-rapat dengan kendaraan kita. Kenapa begitu? Alasannya beragam. Mulai dari faktor kebiasaan, tidak sabaran, sampai mencegah disalip kendaraan lain dari samping.

Dan kabar buruknya adalah, kondisi ini berada di luar kontrol kita. Itulah sebabnya mengapa bagi para pengemudi pemula, jalan tanjakan terasa lebih sulit ketimbang jalan datar atau menurun. Apalagi kalau tanjakannya terbilang curam macam jalur Puncak.

Lantas solusinya bagaimana? Lagi-lagi, tentu saja setengah kopling, plus jam terbang. Oh, ya. Jika kondisi jalan semakin curam, jangan lupa gunakan tambahan rem tangan. #SelamatPusing

Di luar sana ada yang bilang, kalau kita bisa berhenti di tanjakan hanya mengandalkan setengah kopling tanpa injak pedal rem, berarti kita sudah bisa dibilang jago. Ada yang mau coba?

 

  1. Latihan mundur (lurus)

Tidak seperti bergerak maju, untuk bisa menguasai kemampuan memundurkan mobil secara sempurna butuh waktu latihan yang, menurut saya, 2x lebih lama ketimbang bergerak maju.

Kenapa? Karena pada saat memundurkan kendaraan, sudut pandang kita jadi serba terbatas dan dengan tingkat resiko yang tentu saja lebih tinggi daripada bergerak maju. Jadi, kalau sedikit saja salah perhitungan, perkara nabrak mah urusan gampang.

Ketrampilan yang harus dikuasai pertama kali adalah mundur sejauh-jauhnya dengan tetap mempertahankan kelurusan lintasan. Tidak boleh serong sedikit pun, dan hanya boleh mengandalkan kaca spion. Dan satu lagi, pertahankan jarak antara roda dengan pembatas jalan sekitar 20 cm.

Saat melakukan latihan mundur (lurus) ini, supaya mobil aman dari kerusakan, pilihlah jalanan yang hanya dibatasi tanah atau rumput pada tepiannya. Jangan jalanan yang dibatasi pedestrian ber-separator beton.

 

  1. Latihan mundur (menikung)

Konsep dasar latihan mundur menikung sama seperti latihan mundur lurus. Tambahannya adalah, begitu roda belakang sejajar dengan pojokan tikungan, sambil bergerak mundur perlahan, mulailah putar kemudi ke kiri/kanan sampai penuh.

Saat memundurkan kendaraan, terus perhatikan keadaan sekeliling (kiri-kanan, depan-belakang). Jika ditemui penyeberang jalan atau pengguna jalan lain di belakang, prioritaskan mereka. Santai saja. Gak perlu tergesa-gesa.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terkait latihan mundur, kalian bisa coba tonton video ini: What is the difference when steering forward and reversing. Di sana diterangkan secara informatif mengenai teori steering dan aplikasinya di dunia nyata. Kabar baiknya, teori steering ini juga bisa kita gunakan sebagai acuan saat latihan parkir.

 

  1. Latihan Parkir

Secara umum parkir terbagi menjadi 3 sistem, yaitu; parallel parking, angle parking, dan bay parking. Pada kondisi sebenarnya, ketiga jenis parkir ini hampir bisa dipastikan akan menuntut kita untuk menggunakan salah satu dari keempat cara/metode yang ada, seperti;

  • Parkir mundur ke kiri
  • Parkir mundur ke kanan
  • Parkir maju ke kiri
  • Parkir maju ke kanan

Pertanyaannya, metode/cara parkir mana yang paling mudah?

Ini tentu saja kembali ke kebiasaan masing-masing pengemudi. Namun, jika kalian pernah memperhatikan area parkir di mall/plasa, atau hotel, atau area parkir resmi lainnya, dari keempat cara di atas, parkir mundur (buntut duluan) adalah yang paling sering digunakan.

Sementara cara parkir maju (kepala duluan) biasanya akan banyak kita jumpai pada area parkir pinggir jalan dengan volume lalu lintas yang relatif padat dan tempat parkir terbatas, seperti misalnya; di pasar-pasar tradisional atau minimarket.

Menurut pengakuan instruktur saya, kalau kita sudah menguasai parkir mundur, mau parkir model apapun pasti bisa. Nah! Jika apa yang dia bilang benar, maka fokuskanlah latihan parkir kalian lebih banyak ke metode ini.

Lantas, bagaimana cara keluar parkirannya?

Untuk keluar dari area parkir sistem bay parking;

  • Jika keluar kepala duluan, keluarlah pelan-pelan dengan menggunakan patokan putar balik (lihat bagian “Tikungan dan Putaran”).
  • Jika keluar buntut duluan, keluarlah pelan-pelan. Begitu roda depan sejajar dengan bemper kendaraan di samping kiri-kanan, segera putar kemudi. Sesuaikan putaran kemudi dengan kondisi lahan.

Untuk keluar dari area parkir sistem parallel parking;

  • Mundurlah terlebih dahulu untuk melebarkan jarak antara bemper-depan-mobil-kalian dengan bemper-belakang-mobil-di-depan. Ingat! Jaga jarak aman dengan kendaraan di belakang. Setelah space keluar dianggap cukup, baru putar kemudi penuh ke kiri/kanan. Maju pelan-pelan.
  • Jika space yang tersedia relatif sempit, memaju-mundurkan kendaraan mutlak diperlukan. Bagaimana caranya? Silahkan belajar kepada ahlinya.

Kalau mau kita simpulkan secara sederhana, sebenarnya kuncian parkir itu terletak di ‘patokan.’ Selama patokan kita benar, mudah-mudahan aman.

Sebagai informasi tambahan: Di luar ekspektasi, dari 10x pertemuan, pelajaran khusus parkir yang saya terima hanya sekali pertemuan. Itu pun hanya bay parking saja (parkir mundur dari sisi kiri dan sisi kanan). Paralel parking? Skip. Angle parking? Itu juga skip.

 

Note:

Catatan pengalaman ini menggunakan minibus Toyota Avanza G transmisi manual sebagai platform latihan.

 

***

 

Selain beberapa materi praktek seperti telah disebutkan di atas, ada beberapa informasi umum yang juga patut untuk kalian ketahui, yaitu seperti:

 

Perhitungan biaya kursus

Hampir setiap tempat kursus/sekolah mengemudi memiliki paket-paketnya tersendiri. Berdasarkan komparasi pribadi, dari 3 sekolah mengemudi yang saya datangi, paket latihan terkecil adalah 5x pertemuan (@1 jam). Umumnya, semakin sedikit jumlah pertemuan (sesi latihan) dalam suatu paket yang diambil, biayanya akan semakin mahal.

Mari kita ambil contoh real biaya pendidikan dari 3 sekolah mengemudi yang saya datangi:

Sekolah Mengemudi X

  • 7x pertemuan = 475,000 Rp = 67,857 Rp per sesi latihan
  • 10x pertemuan = 630,000 Rp = 63,000 Rp per sesi latihan
  • 14x pertemuan = 830,000 Rp = 59,285 Rp per sesi latihan

Sekolah Mengemudi Y

  • 6x pertemuan = 520,000 Rp = 86,666 Rp per sesi latihan
  • 8x pertemuan = 610,000 Rp = 76,250 Rp per sesi latihan
  • 10x pertemuan = 700,000 Rp = 70,000 Rp per sesi latihan

Sekolah Mengemudi Z

  • 5x pertemuan = 440,000 Rp = 88,000 Rp per sesi latihan
  • 8x pertemuan = 500,000 Rp = 62,500 Rp per sesi latihan

Dengan melihat skema biaya kursus di atas, jika saya ingin mengambil paket dengan 10x pertemuan, maka Sekolah Mengemudi X adalah yang termurah. Sementara jika saya ingin mengambil paket dengan 8x pertemuan, maka Sekolah Mengemudi Z adalah yang termurah.

Tapi, apakah selalu demikian?

Bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung dari paket (banyaknya jumlah pertemuan) yang diambil dan besaran tips—umumnya antara 15,000 Rp s/d 20,000 Rp—yang wajib diberikan kepada instruktur, tiap kali selesai latihan.

To make it short, sebelum memutuskan mengambil paket latihan mana di sekolah mengemudi apa, buatlah kalkulasi sederhana untuk mengetahui biaya sebenarnya per sesi latihan, dengan rumus:

Biaya per paket + biaya pendaftaran + (tips x total pertemuan)

Dengan rumus di atas, untuk paket dengan 10x sesi latihan, saya dapati biaya pendidikan di Sekolah Mengemudi X ternyata lebih murah 70,000 Rp dibandingkan dengan Sekolah Mengemudi Y. Karenanya, Sekolah Mengemudi X lah yang pada akhirnya saya ambil. Namun, kekurangannya adalah, pada Sekolah Mengemudi X tidak disertai teori teknik perawatan/gangguan pada mobil dan pengenalan rambu-rambu lalu lintas.

Oh, ya. Jika biaya kursus langsung dibayar lunas, umumnya kita akan dibebaskan dari uang pendaftaran yang nominal standard rata-ratanya = 20,000 Rp itu.

 

Kartu absensi, berpengaruhkah?

Saat mendaftar setiap siswa akan diberikan kartu absensi yang fungsinya, sebetulnya lebih ke arah log latihan saja (sudah berapa kali kita latihan). Perkara waktu, kita relatif memiliki kebebasan untuk menentukan kapan hari dan jam latihan yang diinginkan—selama masih sesuai dengan jadwal latihan yang telah mereka tetapkan, tentunya. Atau gampangnya, waktu latihan = sesuai kesepakatan bersama. Pokoknya cingcai-lah.

Kenapa bisa begitu?

Sebab, kalau mereka memaksakan jadwal secara strict (misal; setiap hari wajib latihan selama satu jam pada slot jam yang sama), tentu akan lebih sulit menjaring siswa baru yang mau belajar, karena waktu luang setiap orang (baca: calon siswa) berbeda-beda. Apalagi kalau mengingat ini jenis kursus umum, yang lebih sering bersifat keinginan dan bukan tuntutan kebutuhan.

 

Apakah kuota “1 jam/sesi latihan” itu murni 1 jam?

Kalau merujuk ke pengalaman pribadi, dari 10x pertemuan, 2x-nya murni 1 jam, sementara sisanya (yang 8x), selalu terjadi pengurangan waktu, dengan rentang bervariasi mulai dari 5-15 menit. Tak peduli apakah saya datang tepat waktu atau datang terlambat, kuota 1 jam per sesi latihan, lebih sering kurang, ketimbang lebih.

Gampangnya, kalau datang tepat waktu saja, waktu latihan saya cenderung berkurang, maka dengan datang terlambat, waktu latihan ini secara otomatis pula akan semakin berkurang lagi.

Berdasarkan hasil observasi pribadi selama latihan, kalau dihitung rata-rata, maka pengurangan waktu yang saya alami dari 8x pertemuan tersebut mencapai 7-10 menit. Dengan total kerugian waktu mencapai 56-80 menit. Supaya lebih gampang, mari kita bulatkan saja kerugian waktunya menjadi 60 menit bin 1 jam.

Dengan data ini, berarti, dari total biaya 10x pertemuan yang dibayarkan (+tips instruktur), saya hanya menerima murni 9x pertemuan (@1 jam/sesi latihan) saja.

Pertanyaan adalah:

Apakah hal ini juga dialami siswa lain di sekolah mengemudi yang sama? Saya tidak tahu.

Apakah hal ini juga dialami siswa lain di sekolah mengemudi yang berbeda? Apalagi, itu. Tambah tidak tahu.

 

Karakter Instruktur

Sebagaimana halnya para siswa, instruktur pun bisa bermacam-macam karakternya. Mulai dari pendiam, acuh tak acuh, supportive, informatif, galak, gak sabaran (kadang terkesan meremehkan), agak bijak*, dan lain-lain.

*) Khusus untuk poin “agak bijak,” jangan terlalu berharap banyak. Terutama kalau jam terbang pengajar relatif tinggi (sudah berada di titik jenuh mengajar?), dan insentif mengajar yang mereka terima dari perusahaan dianggap kurang. Masih ingat, kan, teori “Kepuasan karyawan berimplikasi terhadap kepuasan pelanggan”?

Setiap kita yang baru belajar memulai sesuatu, tentu pinginnya mendapatkan guru/mentor yang supportive dan punya tingkat kesabaran level dewa. Sehingga, setiap kita melakukan kesalahan yang sama di masa-masa awal belajar—yang sebetulnya pun tidak kita harapkan untuk melakukannya—sang mentor ini tidak lantas cepat naik darah.

Masalahnya, untuk kursus yang sifatnya umum seperti ini, kita sebagai siswa, baru akan mengetahui karakter pengajar pada saat pelajaran dimulai—dan pada kasus saya, kita harus bertahan dengan pengajar yang itu-itu lagi sampai sesi terakhir dari paket yang diambil, selesai.

Jadi, kalau sejak awal kita sudah gak sreg dengan gaya mengajar sang instruktur, ya, mau gak mau harus bertahan dan beradaptasi dengan gaya mengajarnya itu.

Kalau gak tahan bagaimana? Bisa sih, langsung keluar. Tapi ini berarti rugi 2 kali. Sudah ketrampilan gagal didapatkan, uang pelajaran pun ikut-ikutan melayang. Karena pada umumnya, uang yang sudah dibayarkan, tidak bisa dikembalikan.

Lantas, apakah seluruh instruktur kursus mengemudi mobil, karakternya cenderung tidak menyenangkan? Tentu tidak. Itu terlalu men-generalisir, namanya. Terlalu tendensius.

Walau pada kenyataannya tidak selalu begitu, supaya terkesan adil, mari kita anggap saja, rasio antara pribadi mentor yang menyenangkan dengan yang tidak = 50:50. Rasio yang sama juga berlaku buat para siswa.

Pertanyaan berikutnya: Bagaimana kalau kita ketiban ‘berkah’ mendapatkan mentor setir mobil yang secara subjektif dianggap kurang/tidak menyenangkan?

Yah, seperti yang saya katakan sebelumnya; bertahan dan beradaptasilah. Go with the flow. Untuk seorang self learner seperti saya—yang lebih suka mencari jawaban sendiri, ketimbang menggantungkan pertanyaan kepada orang lain—setidaknya cara ini cukup efektif dan bisa mengurangi endapan gondok di tenggorok.

Karena biar bagaimana pun, suka atau tidak suka, dalam kasus ini, we are the pupil, and they are the teacher. Kunciannya ada pada pemilihan point of view kita sendiri. Mau melihatnya dari sisi negatif atau positif.

Intinya, agar ilmu yang diajarkan “sang guru” mudah kita cerna, untuk sementara, jangan terlalu banyak tanya. Ikuti saja apa yang mereka minta. Hmm, saya tiba-tiba teringat cerita “perintah Khidir kepada Musa.” Untuk yang penasaran, silahkan buka Al-Qur’an, surat Al-Kahfi ayat 70.

Pesan saya; belajarlah memperhatikan, jangan cuma mendengarkan. Dan, jangan lupa kosongkan gelasnya.

 

Setting pedal kopling, rem, dan gas

Kalau merujuk pada pengakuan sang instruktur, saya berasumsi bahwa setting pedal kopling, rem, dan gas, pada setiap mobil yang digunakan sebagai sarana latihan menyetir, sebelumnya telah diatur supaya sesuai dengan gaya berkendara instruktur kita. Tujuan utamanya, tentu saja agar mereka merasa nyaman saat mengajar, tanpa harus mengorbankan kenyamanan siswa yang belajar.

Kenapa diatur sesuai ‘standar’ instruktur dan bukan sesuai keinginan siswa? Ya, karena, capek aja. Terbayang, kan, betapa repotnya kalau setiap ganti siswa (yang rata-rata hanya 1 jam per sesi latihan), ketiga pedal ini mesti di-setting ulang. Sementara instrukturnya cuma satu, yang dia-dia juga. Nu sorangan wae.

Jadi, kecuali mobil yang digunakan sebagai sarana latihan adalah milik kita pribadi, suka atau tidak, kita harus belajar dengan karakter pedal settingan mereka. Pada kasus saya, settingan ketiga pedal ini dibuat relatif sensitif, dengan jarak main yang sangat rapat macam mobil balap. Karenanya, saya harus benar-benar ‘main’ perasaan. Kayak kalo aku ngobrol sama kamu. #Eaa

Khusus poin ini, saya punya satu tips sederhana untuk mengetahui bagaimana karakter settingan pedal kopling, rem, dan gas, pada mobil latihan yang kita gunakan. Caranya adalah dengan memaju-mundurkan mobil perlahan-lahan selama lebih kurang 5 menit, sampai dapat ‘feeling’-nya.

Tapi problemnya adalah… tidak setiap instruktur bakal memberikan kesempatan kepada kita untuk meraba-raba bagaimana settingan ketiga pedal ini bekerja. Jadi, begitu masuk sesi, walau masih pertemuan pertama, siswa cenderung akan langsung diarahkan untuk segera mengoperasikan mobil di jalan raya.

***

Well, semoga artikel “Pengalaman Kursus Setir/Mengemudi Mobil Transmisi Manual: Pengetahuan Dasar Penting untuk Pemula!” ini berguna untuk teman-teman semua. Bagi yang sudah mahir, boleh di-share tips dan triknya di sini. Sementara bagi yang masih pemula seperti saya, kalau ada pertanyaan seputar kursus, silahkan diajukan. Salam. [BEM]

Advertisements

10 thoughts on “Pengalaman Kursus Setir/Mengemudi Mobil Transmisi Manual: Pengetahuan Dasar Penting untuk Pemula!”

  1. Pemaparannya sangat detail mas. Terimakasih infonya, walaupun belum praktek udah deg deg seer duluan nih (dibaca : panik) ga kebayang kalau udah on board….

    1. Terima kasih juga udah mampir, Mbak Vega.

      Kuncian kursus stir mobil yang lalu jadi terasa mudah buat saya itu ada dua faktor, Mbak:
      1. Percaya diri atau anggap aja kursusnya gak susah, “Gue pasti cepet bisa!”
      2. Awareness terhadap dimensi kendaraan (Panjang x Lebar x Tinggi) — dalam hal ini tentu aja mobil yang digunakan untuk praktek. Semakin besar ukuran/dimensi mobil yang dipake waktu kursus, semakin baik. Jadi, ke depannya, begitu nyetir mobil yang ukurannya lebih kecil, feeling kita langsung main. Seenggak-enggaknya begitu menurut saya, juga berdasarkan dari cerita teman-teman lain (satu-dua orang dari mereka bahkan pernah pegang bis malam).

      Kalo saya bisa, Mbak Vega pasti juga bisa.
      Semangattt!!! 😀

  2. sya ndak boleh blajar bawa kendaraan ama suami sya. kata suami saya ” emak2 bawa kendaraan abis dah jalanan ” 😦

  3. Jadi inget kemarin pas pulang ke kampungnya mbah, setengah ngantuk nyetir mobil. BUkannya nginjek gas, malah nginjek rem. Pantesan mobilnya gak jalan #Duh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s