Keadilan Energi Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan Energi Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sumber: freedesignfile.com

Berdasarkan data tahun 2011, total produksi PLN mencapai 183,420.93 GWh. Di mana 142,739.06 GWh (77.8%) diproduksi sendiri, sementara sisanya, 40,681.87 GWh (22.2 %) dibeli dari pihak ketiga.

Dari angka 142,739.06 GWh (77.8%) yang diproduksi sendiri, ternyata PLN (masih) menggunakan sebagian besar sumber-sumber energi primer, yaitu komoditas energi yang bisa ditambang atau diperoleh langsung dari sumber daya alam, seperti;

  • Batubara: 54.950,57 GWh
  • Minyak: 41.846,27 GWh
  • Gas alam: 32.138,47 GWh
  • Tenaga air: 10.315,55 GWh
  • Panas bumi: 3.487,39 GWh

Continue reading Keadilan Energi Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Advertisements

Cicak Militan di Malam Ramadhan

Cicak Militan di Malam RamadhanSesungguhnya aku malu menceritakan pengalaman ini. Walau boleh jadi, ia merupakan pengalaman yang hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupku. Tapi tetap saja. ke-malu-an itu tak bisa kutanggung sendiri. Aku harus membagi-baginya dengan orang lain. Dan orang lain itu, siapa lagi kalau bukan kalian. Terima ya…

Baiklah, mari kumulai saja ceritaku ini.

Continue reading Cicak Militan di Malam Ramadhan

Hiding Behind Amazon Salt Water River

Hiding Behind Amazon Salt Water River

South America has The Amazon—the second longest river in the world. Here, in the far east of Indonesia, they also have its miniature – The Passage.

You will not find fresh water here. Sip it, and it’s definitely salt, because it is actually part of the ocean – The Kabui Strait. “Can you find the entrance?” ask Mei – our local people friend. Feel challenged my eyes scans through our surroundings to find an answer. It took me several minutes to realize this simple question has actually hard answer. Its entrance well camouflaged with surrounding environment. Thick forest on the sea verge will trick your very eyes. Guessing will eventually leads you to despair.

“So where is it?” I ask confusedly. “Just look forward,” she said. “We are heading there.” With a smile on her lips, she added.

Continue reading Hiding Behind Amazon Salt Water River

Isyarat Hati Yatita

Isyarat Hati Yatita

Beno jadian sama Yatita!

Bagaimana bisa? Apa yang ada di pikiran Beno! Kemana perginya prinsip yang dulu pernah dia bilang? Ah, gak mungkin!

Sepanjang yang kutahu, Beno itu seorang prinsip freak. Apapun yang dia yakini, gak seorangpun bisa mengubahnya, kecuali dia sendiri yang menghendaki. Kalaupun ada api yang mampu melelehkan prinsip baja di dadanya, kemungkinannya cuma satu, kekuatan itu harus jauh lebih besar dari kapasitas ego seorang Beno.

Untuk urusan cewek, okelah, dia gampang suka dengan siapa saja. Tapi proses untuk memenangkan hati Beno, gak kalah rumitnya dengan tes masuk astronot NASA. Satu saja hal sepele gak masuk kriteria, jangan harap bisa diterima. Standar Beno terlalu menjulang, padahal tampangnya juga pas-pasan.

Kasihan…

Continue reading Isyarat Hati Yatita

Bea Cukai dan Kedaulatan Ekonomi di Wilayah Perbatasan

Bea Cukai dan Kedaulatan Ekonomi di Wilayah Perbatasan

‘Bea’ dan ‘Cukai’ adalah 2 kata yang sekilas bermakna sama padahal berbeda peruntukannya, dan seringkali disalah-arti oleh kebanyakan orang. Sebelum membahas tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC), ada baiknya kita meluruskan terlebih dahulu persepsi yang selama ini keliru, dengan memahami makna ungkapan “Bea Cukai” secara baik dan benar. Untuk itu, mari kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Berdasarkan KBBI, ‘Bea’ berarti pajak, cukai, biaya, atau ongkos. Sementera ‘Cukai’ berarti pajak yang dikenakan pada barang impor dan barang konsumsi, atau bisa juga berarti; sebagian dari hasil tanah (seperti; sawah, ladang) yang wajib diberikan kepada tuan (pemilik) tanah sebagai ongkos tanah.

Agak rancu ya? Wajar saja, karena dua-duanya mengandung kata ‘pajak.’ Pertanyaan berikutnya adalah; kalau kondisinya seperti itu, kenapa tidak menggunakan kata ‘Bea’ saja, atau ‘Cukai’ saja, untuk menggantikan istilah ‘pajak’ tersebut, toh maksudnya sama saja? Kenapa harus menggunakan kedua kata tersebut—Bea Cukai—secara bersamaan?

Continue reading Bea Cukai dan Kedaulatan Ekonomi di Wilayah Perbatasan

Ojek Reaksi Cepat

ojek reaksi cepat

Waktu itu, hari masih pagi. Jam baru menunjukkan pukul sembilan. Anjelo baru turun dari bus AKAP yang ditumpanginya sejak dari Newyorkarto, lewat Puertorico, dan berakhir di Kampung Pulo. Ia baru pulang dari dinas kantor yang menguras banyak pikiran dan tenaga. Seluruh energinya sudah habis sejak dari kota pertama. Satu-satunya yang belum habis, malah semakin bertambah, adalah rasa kantuk dan tubuh yang semakin lelah. Ditilik secara fisik, ia jelas ada. Tetapi secara ‘nyawa,’ mungkin sedikit lagi tiada.

Di pinggir jalan raya Kampung Pulo, ia bagai dewa yang dielu-elukan hambanya. Baru saja menjejakkan kaki di bumi, tiba-tiba langsung dikerubungi banyak orang, padahal ia tidak kenal siapa mereka.

“Ojek, Bang!… ojek!?” teriak orang-orang yang mengerubunginya tadi, dengan telunjuk mengacung mirip lawan mengajak bertarung.

Continue reading Ojek Reaksi Cepat

%d bloggers like this: