Tips Memilih Kacamata

Tips Memilih Kacamata

Memilih kacamata gaya yang tepat itu gampang-gampang susah. Gampang, karena di pasaran pilihannya sangat beragam—mulai dari bentuk, ukuran, warna, bahkan sampai ke masalah harga. Susah, karena tidak semua produsen menyertakan informasi atau panduan terkait produk mereka. Maka tak heran, jika kita mengalami kesulitan saat hendak menentukan pilihan kacamata mana yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk menjawab masalah tersebut, berikut ini ada beberapa tips memilih kacamata yang bisa kalian jadikan bahan pertimbangan;

 

Radiasi sinar Ultra Violet (UV)

Kita semua paham, radiasi UV yang terkandung dalam sinar matahari dapat menyebabkan kanker kulit. Tapi, berapa banyak yang tahu, kalau ternyata, sinar ini juga dapat mengganggu kesehatan mata?

“Anda mesti menyaring sebanyak mungkin radiasi sinar UV yang sampai ke mata,” terang Lee Duffner, M.D., seorang profesor ophthalmology dari Universitas Miami yang juga bertindak sebagai juru bicara American Academy of Ophthalmology (AAO), yang bermarkas di San Fransisco, California.

Dalam dunia kedokteran dikenal beberapa penyakit mata yang disebabkan oleh sinar UV ini. Di antaranya yaitu; Photokeratitis atau Ultraviolet Keratitis (sensasi “mata terbakar” yang kadang dibarengi dengan perasaan “mata berpasir”), Inflamatory atau peradangan, dan Pinguecula (deposit kekuningan antara kornea dengan sklera).

Paparan sinar UV dalam jangka panjang, bahkan dapat menimbulkan gangguan yang lebih serius. Ia berpeluang menyebabkan katarak (pengaburan lensa mata dan membran transparan di sekitarnya yang menghalangi jalan masuknya cahaya) dan merusak retina.

Untuk menghindari hal ini terjadi, pilihlah kacamata yang mampu menahan 99-100 persen radiasi UV-A dan UV-B yang datang. Jangan lupa, kacamata tersebut harus mampu menyaring/memfilter 75-90 persen cahaya yang masuk ke mata. Pertimbangkan juga bentuk frame yang menutup rapat di seluruh sisi-sisinya, terutama jika kalian banyak menghabiskan waktu di luar ruangan di bawah terik sinar matahari.

 

Pertimbangan nama brand

Siapa pun tentu ingin menggunakan anggarannya secara optimal. Semakin mahal harga sebuah barang, ekspektasi seseorang biasanya akan semakin tinggi pula—terutama bagi mereka yang membeli atas dasar fungsi, bukan hanya untuk tujuan mengejar fashion semata.

Membeli dari perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis barang saja, terutama dari brand/merek dagang ternama, apalagi yang sudah mendunia, lebih saya sukai. Karena dengan bertumpu pada satu jenis barang produksi saja, tentu perhatian brand tersebut akan lebih terfokus. Dengan perhatian yang terfokus, secara logika, seharusnya, hasil akhirnya juga lebih bagus—walau tidak selalu demikian kenyataannya.

Namun demikian, brand-brand yang menyandang nama besar, terutama yang telah mendunia, tetap bisa dijadikan sebagai jaminan kepastian kualitas oleh para (calon) pelanggannya.

Tentu tak ada perusahaan besar yang mau mempertaruhkan reputasi yang telah mereka bangun dengan susah payah, bukan? Karena, kalau sampai mereka berani mempertaruhkan reputasi, itu sama saja artinya dengan berjudi. Dan, dalam perjudian, bukankah jumlah yang kalah selalu lebih banyak ketimbang yang menang?

Lantas, bagaimana dengan merek-merek dagang yang tidak ternama?

Merek dagang tak ternama ini tetap bisa ikut meramaikan pasar kacamata. Hanya, pada level yang berbeda. Tidak seperti brand-brand populer, target konsumen mereka pada umumnya berada pada kelas menengah ke bawah.

Bagi konsumen kelas menengah ke bawah, selama kebutuhan dasar mereka terhadap sebuah kacamata, terpenuhi—seperti; rasio harga-kualitas, model, warna, dan lain sebagainya—maka itu pun sudah cukup.

 

Material pembuatan

Mahal murahnya sebuah produk kacamata, jelas, dipengaruhi oleh material pembuatannya. Kata orang Indonesia, “Ada harga, ada rupa.”

Tapi, bukankah kacamata harga puluhan ribu rupiah dengan yang jutaan rupiah, kelihatannya sama saja. Jadi, untuk apa bayar lebih mahal?

Betul. Secara kasat mata, hampir tak ada bedanya. Tapi, begitu kita bicara teknologi, perbedaannya baru akan terasa. Bahkan kadang, antara bumi dengan langit.

Di balik layar, harga lebih mahal yang kita bayar, sebenarnya untuk mengkompensasi biaya Research and Development (R&D) yang dikeluarkan perusahaan. Sebagai gantinya, konsumen bisa menikmati hasil kerja mereka, yang diwujudkan dalam bentuk performa, daya tahan, dan kenyamanan dari kacamata yang diproduksi.

 

Material lensa

Di pasaran, setidaknya ada 3 material standar yang paling umum digunakan, yaitu; Crown Glass, CR-39 (biasa dikenal dengan plastik atau resin keras), dan Polycarbonate. Bagaimana kelebihan dan kekurangan masing-masing material tersebut, bisa kalian lihat pada tabel di bawah ini:

3 material lensa kacamata yang paling banyak digunakanGampangnya, kita bisa mengartikan Refractive Index dengan ketebalan material, Specific Gravity dengan berat material, dan Dispersion (Abbe Value) dengan kejernihan material.

Kaca adalah material paling stabil dan tahan gores. Ia menawarkan kualitas optik terbaik dari seluruh material lensa yang ada. Sayangnya, ia juga punya kelemahan, yaitu lebih rapuh dibandingkan material lainnya. Agar ia lebih kuat dan aman digunakan, maka material kaca harus dikeraskan terlebih dahulu pada proses pembuatannya.

Selain ketiga material di atas, sebenarnya masih ada beberapa material pembuatan lensa lain nya, seperti; NXT, Trivex, Spectralite, Ormex, MR-8, MR-7,MR-10, dan MR-174.

Untuk aktifitas olahraga, Polycarbonate dan Trivex adalah jenis material kacamata yang paling sering digunakan.

Sementara NXT, yang dibuat dengan material inti Trivex, adalah polimer generasi terbaru yang semula—pada awal 1990-an—dikembangkan hanya untuk kepentingan militer Amerika. Soal performa, jangan ditanya. Material ini memiliki daya tahan, proteksi, dan kejernihan optik yang superior. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, kecuali harganya yang relatif mahal, lensa ini tidak memiliki kelemahan sama sekali.

Sebenarnya material lensa tidak sampai di sini saja. Seiring perkembangan zaman, masing-masing produsen pun terus memacu kuda teknologi mereka untuk memenangkan persaingan. Sehingga tak heran jika berbagai jenis material baru, kemudian bermunculan.

Sebut saja teknologi Liteforce dari Ray-Ban. Liteforce adalah termoplastik semikristal yang memiliki ketahanan luar biasa terhadap bahan kimia dan mekanis. Karenanya pula, teknologi ini banyak digunakan pada industri kimia dan penerbangan.

Teknologi Liteforce diaplikasikan sebagai material optik—yang ditempa pada temperatur ekstrim—akan memiliki beberapa keunggulan, seperti; sangat ringan, fleksibilitas, durabilitas, dan kenyamanan superior.

Terkait teknologi Liteforce, beberapa koleksi Ray-Ban dari Zalora kelihatannya cukup menggoda. Sayang, untuk menebusnya, sepertinya saya harus menabung terlebih dahulu. Hahaha.

Dibanding Liteforce, ada sebuah teknologi yang lebih tua dan terus dikembangkan serta masih digunakan sampai sekarang; Photochromic. Teknologi ini memampukan lensa bereaksi terhadap cahaya, khususnya radiasi UV. Light sensitive.

Jadi, begitu kacamata terpapar radiasi UV, molekul kimia dalam lensa akan segera bereaksi dengan menciptakan beragam derajat gelap—umumnya dalam hitungan detik. Dengan begini, jumlah cahaya yang masuk ke mata akan tetap terjaga, sehingga, tak peduli kondisi cahayanya seperti apa, pemakainya tetap bisa melihat dengan jernih dan nyaman. Lensa photochromic sendiri bisa terbuat dari kaca, polycarbonate, atau plastik.

 

Material frame

Pemilihan material frame yang baik, sangat diperlukan. Karena ia dapat mempengaruhi umur pakai sebuah kacamata. Bahkan boleh jadi, dalam jangka panjang, kacamata pilihan tersebut bisa dijadikan barang investasi atau barang koleksi yang sangat mahal harganya.

Seperti apa sajakah material frame yang ada di pasaran, dan apa saja keunggulan masing-masing material tersebut? Coba simak daftar berikut:

  • Serat karbon. Material canggih ini sangat ringan, fleksibel, dan memiliki kekerasan yang luar biasa. sehingga tak heran bila ia biasa digunakan pada industri penerbangan dan balap performa tinggi. Bagi mereka yang menginginkan teknologi terkini dengan kualitas tertinggi, tak akan salah bila pilihan dijatuhkan pada material ini.
  • Sangat kuat, ringan, awet, non-korosif, dan terbuat dari metal hypoallergenic yang tidak mudah menyebabkan alergi.
  • Satu-satunya material frame yang bisa langsung digunakan dan tidak perlu ‘diolah’ lagi—sebagaimana material lainnya. Kayu merupakan salah satu zat yang paling tangguh dan kaku yang disediakan oleh alam. Selain dapat memunculkan nilai seni dan estetika, ia juga tak mudah patah, fashionable, serta ramah lingkungan. Untuk mencapai kekuatan tersebut, tentu tak sembarang kayu yang bisa digunakan. Ia harus datang dari jenis kayu keras, seperti; cocobolo, purpleheart, bloodwood, pinus, kenari, oak, dan lain sebagainya.
  • Memberi begitu banyak kedalaman dan kecerahan warna, bentuk, serta detail. Meski lebih berat dan mudah patah dibanding material metal, plastik tidak mudah menyebabkan alergi pada para penggunanya, cukup gaya, memiliki warna-warna unik, dan dapat dipadukan dengan warna lainnya.
  • Sebenarnya, acetate masih termasuk keluarga plastik juga. Hanya, ia lebih ringan dan tahan lama dibandingkan plastik biasa. Menariknya, frame acetate memiliki pola yang telah tertanam pada dirinya, sementara plastik reguler, tidak (pola harus dicetak).

Warna lensa

Setiap warna lensa mewakili keunggulannya masing-masing. Dari setiap warna lensa yang berbeda, akan menyaring panjang gelombang cahaya yang berbeda pula. Ada yang bisa meningkatkan intensitas warna, ada yang bisa mengubah warna, dan ada pula yang bisa mempengaruhi tingkat kontras suatu warna.

Lantas, warna seperti apa sajakah yang sebaiknya dipilih dan cocok untuk kebutuhan kita? Berikut ini ada beberapa warna yang bisa kalian jadikan panduan dalam memilih warna yang tepat:

  • Abu-abu. Memberikan persepsi warna asli, tapi tidak meningkatkan kontras warna. Lensa abu-abu termasuk lensa yang paling umum digunakan karena kemampuannya melindungi mata dari radiasi sinar UV. Cocok untuk lari atau bersepeda.
  • Seperti abu-abu, memberikan penggunanya persepsi warna asli, namun meningkatkan kontras warna, mencerahkan area gelap, dan mengurangi kelelahan mata pada kondisi cahaya terang. Cocok digunakan ketika hujan mau pun saat cuaca cerah.
  • Biru dan Ungu. Menahan silau cahaya putih yang tampak oleh mata. Penggunaan warna ini cocok untuk seluruh aktifitas olahraga, dan disarankan oleh Asosiasi Tenis Profesional Amerika Serikat (USPTA) untuk para atlit tenis profesional.
  • Memberikan persepsi kedalaman warna yang sangat baik pada kondisi cahaya rendah, karena ia menahan cahaya biru untuk meningkatkan kontras. Warna ini dikenal sangat nyaman digunakan dalam rentang waktu yang relatif panjang. Cocok untuk cuaca apa pun.
  • Walau menyebabkan distorsi warna, ia dapat meningkatkan kontras dan memberikan kesan kedalaman warna yang baik pada kondisi cahaya rendah seperti saat cuaca mendung.
  • Walau menyebabkan distorsi warna minor, ia dapat meningkatkan kontras warna. Sama seperti warna kuning, kacamata ini cocok digunakan saat cuaca mendung atau ketika cahaya matahari tidak terlalu terik.
  • Kecuali melindungi mata dari debu dan angin (supaya tidak berair), lensa kacamata ini tidak memiliki fungsi lain, sehingga cocok untuk olahraga malam.
  • Cermin (mirrored). Memantulkan cahaya berintensitas tinggi, sehingga mampu mengurangi silau dengan sangat baik. Lensa jenis ini sering menjadi tren dan cukup gaya. Cocok untuk aktifitas di tempat-tempat yang berpeluang menyilaukan mata, seperti saat berlayar, memancing, menyetir, sampai mendaki gunung.
  • Membuat pandangan menjadi lebih teduh, serta memberikan kesan elegan kepada pemakainya. Cocok digunakan di tempat-tempat terang.

 

Warna frame

Secara harfiah, warna berarti properti yang dimiliki oleh suatu benda yang menghasilkan sensasi berbeda-beda pada mata, sebagai akibat dari cara objek memantulkan cahaya. Secara psikologis, warna merupakan sebuah alat bantu yang powerful. Dengannya, kita bisa mengirim pesan negatif mau pun positif, meningkatkan penjualan, memberi efek menenangkan, bahkan bisa membuat seorang atlit memompa semangatnya lebih keras lagi.

Perhatikan warna kulitmu sebelum memilih kacamata

Saat memilih kacamata, perhatikanlah warna rambut dan kulit kalian, serta bentuk frame dan warna yang akan dipilih, karena ini akan mempengaruhi tampilan kalian secara keseluruhan saat menggunakannya.

Frame berwarna hitam, silver, abu-abu, ungu, hijau, pink, dan biru, cocok digunakan oleh kalian yang memiliki warna kulit dingin. Sementara bagi kalian yang berwarna kulit hangat, frame berwarna putih, off-white, kuning, krem, coklat,jingga, olive, merah, dan gold patut dipertimbangkan.

Dengan kata lain, bagi kalian yang berwarna kulit hangat, pilihlah frame yang berbasis warna kuning. Sementara bagi kalian yang berwarna kulit dingin, pilihlah frame dengan basis warna biru.

Last but not least. Tak peduli apa pun warna frame yang akhirnya kalian pilih, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu kenyamanan.

 

Bentuk wajah

Setiap orang memiliki bentuk wajah yang berbeda-beda, dan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, seperti; oval, bulat, kotak, berlian, persegi panjang (oblong), dan berbentuk hati.

Terkait kacamata. Supaya bentuk frame yang kita pilih sesuai dengan bentuk wajah, maka ada satu aturan umum yang perlu diperhatikan, yaitu; usahakan bentuk frame yang dipilih, tidak sama dengan bentuk wajah kalian.

Bagi yang memiliki bentuk wajah oval, berbahagialah. Aturan umum tersebut tidak berlaku untuk kalian. Karena orang-orang yang memiliki bentuk wajah oval ini cenderung cocok atau bisa memakai frame mana saja sesukanya. Namun demikian, masing-masing jenis wajah ini juga memiliki bentuk frame terbaik mereka.

Wajah berbentuk bulat misalnya. Pemilik wajah ini sangat cocok menggunakan frame persegi atau tebal. Sementara wajah berbentuk berlian cocok dengan frame tanpa bingkai atau oval.

Ada pun wajah berbentuk kotak lebih baik menggunakan frame yang cenderung tipis dan melingkar. Pemilik wajah berbentuk persegi/oblong akan tampak lebih baik dengan frame oversize—untuk menyeimbangkan wajah yang panjang.

Dan yang terakhir, wajah berbentuk hati. Bagi mereka yang memiliki wajah berbentuk hati, disarankan memilih frame oval, rata pada bagian atas, atau banyak warna.

Ukuran wajah kalian juga patut dipertimbangkan juga. Jika wajah kalian sangat kecil dan berfitur halus, memilih frame berukuran besar lebih baik dihindari. Sebaliknya. Jika wajah kalian cenderung besar, memilih frame berukuran kecil tentu akan membuat tampilan kalian menjadi aneh, karena akan tampak tidak proporsional.

***

Baru tahu, kan. Kalau ternyata, yang namanya memilih kacamata itu gampang-gampang susah—karena ternyata banyak juga bahan pertimbangan yang harus diperhatikan? Hehehe. Tapi, dengan membaca sampai di paragraf terakhir ini, setidak-tidaknya, beberapa tips memilih kacamata yang saya berikan di atas, dapat mengurangi sedikit kebingungan kalian, kan? Atau, jangan-jangan, malah tambah bingung? [BEM]

Advertisements

4 thoughts on “Tips Memilih Kacamata”

  1. Syarat kacamataku agak sederhana. Lensa kiri-kanannya harus minus 1/4 dan silinder 1/4, materialnya ringan, jadi ga berat kalo pas dipake rada lamaan.

    Pengen punya kacamata yang lensanya Photochromic, tapi nanti deh 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s