Haenyeo: Wanita Penyelam & Lautan

Haenyeo: Wanita Penyelam dan Lautan
Para Haenyeo sedang berjalan menuju lautan

Menyelam bebas (freediving/breath hold diving). Beberapa tahun terakhir, olahraga satu ini begitu digandrungi kaum muda Indonesia, terutama mereka-mereka yang mencintai dunia traveling dan petualangan bawah air. Selain berfungsi sebagai penunjang kegiatan liburan (umumnya wisata pantai dan laut), kegiatan freediving sebenarnya juga memiliki fungsi lain, yaitu; sebagai sarana kompetisi untuk mengejar prestasi, sekedar meningkatkan kemampuan pribadi, atau mungkin… demi gengsi?

Tapi, tunggu… semua itu tidak berlaku di sana.

Di belahan bumi itu, menyelam bebas diperlakukan secara berbeda. Apa yang kita sebut penunjang liburan, bagi mereka adalah perjuangan kehidupan. Apa yang kita sebut rekreasi, bagi mereka adalah tradisi. Hebatnya lagi, seluruh penyelam bebas ini berasal dari kaum wanita, yang dari segi usia, tak ada lagi yang bisa dikatakan muda. Ok! Ada. Tapi, 45. Yah, setidaknya itulah usia termuda di kalangan mereka. Muda dalam arti kiasan, bukan sungguhan.

Haenyeo. Begitulah bagaimana wanita-wanita hebat ini biasa disebut. Mereka tinggal di sebuah pulau berbentuk oval, tempat di mana Gunung Halla menjulang menantang awan di bagian tengahnya: Pulau Jeju, aka Cheju Do, aka Jejudo. Sebuah pulau seukuran 2.5 kali Kota Jakarta yang terletak di bagian paling ujung selatan negara Korea Selatan. Bila kita bandingkan dengan Indonesia, dengan menarik satu garis lurus pada peta, maka posisinya akan berada persis di sebelah utara (sangat) jauh Pulau Buru, Kepulauan Maluku.

Di provinsi otonomi khusus (special self-government) ini, haenyeo, yang berarti “wanita lautan,” kadang juga disebut dengan Jamnyeo, yang berarti wanita penyelam,” atau Jamsu, yang secara harfiah berarti “masuk ke air.”

Berdasarkan dokumen “Resolutions and Recommendations” yang diterbitkan IUCN, dari hasil Kongres Konservasi Dunia di Pulau Jeju pada September 6-15, 2012 yang lalu, menyebutkan, bahwa populasi haenyeo yang semula berjumlah 23,081 orang pada tahun 1965, telah menurun drastis menjadi tinggal 4,995 orang saja pada tahun 2010. Dari angka yang tersisa tersebut, mayoritas (> 97%) berusia lebih dari 50 tahun—dengan yang paling tua, berusia 75 tahun.

Perbandingan letak antara Pulau Jeju dengan Pulau Buru
Perbandingan letak antara Pulau Jeju dengan Pulau Buru

Jika kita menengok jauh ke belakang, sekitar 200-an tahun yang lalu. Sejarah mencatat, tidak hanya kaum wanita saja yang menjadikan menyelam bebas sebagai pekerjaan. Kaum pria pun demikian. Bahkan, mereka menyelam bersama-sama pada awalnya, dengan bertelanjang dada.

Namun, begitu ajaran Konfusianisme masuk ke Pulau Jeju—sekitar awal abad ke-18—dan menjadi tuntunan hidup di sana, kondisi ini berangsur-angsur berubah. Mereka dituntut untuk menentukan ‘dunianya’ masing-masing berdasarkan jenis kelamin. Dunia yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dari ajaran kepercayaan tersebut.

Sebagai akibatnya, kaum pria sedikit demi sedikit meninggalkan pekerjaan menyelam mereka, kemudian beralih ke pekerjaan pertanian dan nelayan. Dan, dengan demikian, bidang pekerjaan menyelam bebas (freediving) sepenuhnya menjadi “hak milik” kaum wanita.

Haenyeo mampu menyelam hingga kedalaman 20 meter selama 5 menit, tanpa bantuan alat pernapasan sama sekali. Di bawah sana, mereka mencari gurita, bulu babi, rumput laut, hingga kerang abalone yang akan bertambah mahal harganya jika sudah tersaji di atas meja.

Semakin tinggi jam terbang yang dikantongi, semakin cakap pula kemampuan para freediver wanita ini mengenali di lingkungan seperti apa kira-kira, calon tangkapan mudah didapatkan. Segala warisan pengetahuan, mereka pelajari secara otodidak. Turun temurun lewat garis perempuan. Sehingga, bila alur garis pengetahuan tersebut kita breakdown, maka ia akan tampak seperti ini:

Pengetahuan yang diperoleh anak perempuan, datang dari ibu dan neneknya. Pengetahuan yang diperoleh ibunya, datang dari nenek dan nenek buyutnya. Pengetahuan yang diperoleh neneknya, datang dari nenek buyut dan ibu nenek buyutnya, dan begitu seterusnya. Pengetahuan tersebut disampaikan secara lisan/verbal, tanpa textbook.

Pada awalnya, dalam sehari, para freediver haenyeo hanya mampu menyelam rata-rata selama 1 jam di musim dingin dan 3 jam di musim panas. Namun, kondisi ini berubah drastis begitu wetsuit diperkenalkan pada tahun 1970. Produktifitas mereka meningkat jadi lebih tinggi, dengan rentang jam kerja yang lebih panjang; 3 jam di musim dingin, dan 8 jam di musim panas. Tanpa istirahat!

Alat-alat yang digunakan haenyeo untuk ‘berburu’ masih terbilang tradisional dan relatif banyak, seperti;

  • Gakji dan Bitchang. Biasa digunakan untuk mengangkat kerang-kerangan dari sela-sela bebatuan.
  • Gongjaeg, Rake, dan Biasa digunakan untuk ‘memanen’ tumbuh-tumbuhan laut.
  • Mangsiri. Berfungsi layaknya kantong keranjang atau ‘tas,’ yang digunakan untuk menaruh/mengumpulkan hasil tangkapan. Alat ini berbentuk jaring melingkar berdiameter 40-50cm, tanpa gagang.
  • Taewak. Selain berfungsi sebagai pelampung (life-buoy) yang digunakan untuk beristirahat barang sejenak saat para freediver wanita ini muncul ke permukaan, alat ini juga berfungsi sebagai pengait mangsiri.
  • Eyes (kacamata). Apakah istilah ini merupakan adaptasi dari kosakata Bahasa Inggris, tidak diketahui secara pasti. Yang jelas, istilah ‘eyes’ mulai digunakan sejak abad ke-19. Eyes yang biasa digunakan para “putri duyung” Jeju ada 2 macam, yaitu; yang berukuran kecil (seperti kaca mata renang biasa), dan yang berukuran besar (seperti masker selam klasik berbentuk oval).
  • Serta perlengkapan menyelam bebas lainnya, seperti; pakaian selam, ikat pinggang pemberat, dan sepatu katak.

Di pulau yang telah mendapatkan penghargaan UNESCO pada ketiga kategori Natural Science ( Biosphere Reserve, Natural World Heritage site, dan Global Geopark) ini, rupanya para haenyeo memiliki rentang kualifikasi yang cukup beragam. Kualifikasi mereka biasa ditentukan berdasarkan status sosial, lingkungan alamiah, cara memancing, lokasi desa, dan lain sebagainya. Walau pun demikian, mereka tetap memiliki satu kesamaan, yaitu tantangan alam yang berupa potensi serangan hiu, serta faktor cuaca.

Sayangnya, saat ini, kaum muda Pulau Jeju (1,848 km²)—khususnya wanita—tak lagi mau meneruskan tradisi leluhur mereka. Pun, sebaliknya. Kaum tua tak bersedia mewariskan pengetahuan mereka.

Dengan adanya fenomena ini, ditambah data statistik yang telah diterbitkan IUCN sebelumnya, apakah ia merupakan sebuah pertanda, bahwa legenda mereka akan berhenti sampai di sini saja? Entahlah. Yang jelas, kalau hal ini terus berlangsung, tanpa adanya campur tangan pemerintah Korea Selatan, bukan suatu yang mustahil, kalau pada akhirnya trah haenyeo bakal menemui ‘ajal.’ Boleh jadi, haenyeo yang kita kenal sekarang, adalah generasi penutup sejarah panjang nenek moyang mereka.

Pada akhirnya… jika Indonesia punya Franky Sahilatua dengan “Lelaki dan Rembulan” (crap! I think I revealed my age), maka Korea Selatan punya Haenyeo: Wanita Penyelam & Lautan. [BEM]

***

Kecuali film action dan manhwa (manga Korea), sebenarnya saya kurang begitu suka dengan segala hal yang berbau Korea. Entah itu Gangnam Style, K-Pop, apalagi drama percintaan korea. Seringkali, begitu lihat di TV, channel langsung saya ganti.

Anehnya… kok ya bisa-bisanya, kali ini justru memilih salah satu tradisi Korea sebagai materi pembahasan saya! Apakah ini karma? Kurang tahu juga. Tapi saya yakin, ini masih ada korelasinya dengan peringatan Hari Ibu yang jatuh pada Desember 22 yang lalu. Dan, karena saat itu belum menghadiahkan apa pun untuk ibunda tercinta, maka mari kita anggap artikel ini sebagai penghargaan kecil saya kepada beliau. Happy belated Mother’s Day, Mom. Love You.

 Lebih banyak tentang Haenyeo:

 

Artikel ini dibuat sebagai ajang asah keyboard bareng @awardeean, dengan tema: Pulau Jeju. Yang ndilalah! Kok, ya dia malah banyakan membahas drama Korea-nya, ketimbang pulaunya: Nostalgia Dae Jang Geum di Pulau Jeju. Sepertinya, hari ini saya kena karma ganda. Hahahahaaaduh biyunggg…

 

Advertisements

3 thoughts on “Haenyeo: Wanita Penyelam & Lautan”

  1. Sayang banget kalau tradisi ini menghilang 😦
    Tapi, memang, perlahan tuntutan dan kebutuhan hidup masyarakatnya juga berubah, sih. Sekarang jadi lebih banyak pilihan, termasuk soal pekerjaan.

    Jadi pengen kenalan sama salah satu Haenyeo ini. Tapi, kapan ke Korea-nya? #Duh

    Omong2, coba deh tonton Dae Jang Geum. Keren lho itu. Bukan drama percintaan yang menye2. Cuma 50-an episode kok :p

    1. Kibar2 bendera putih, kalo disuruh nonton K-Drama 50 eps. X_X
      Top score nonton drama serial itu, mungkin cuma “How I Met Your Mother” doang. Marathon 24 Jam! (berapa seasons tuh ya?)
      Itu pun karena terpaksa. Gak ada film lain yang bisa ditonton. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s