Kartu Peserta Jamsostek (KPJ) Hilang, Dana Tetap Bisa Dicairkan

Kartu Peserta Jamsostek Hilang
Kartu Peserta Jamsostek Hilang

Hampir 10 tahun sejak pertama kali saya menjadi peserta dan pemegang kartu Jamsostek—sekarang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Dalam rentang waktu tersebut, 2 kali registrasi kepesertaan terjadi. Kebijakan perusahaan baru menginginkan saya dan segenap karyawannya wajib memiliki kartu peserta atas nama perusahaan mereka sendiri, alias tidak meneruskan/melanjutkan pembayaran iuran keanggotaan dari perusahaan lama. Karenanya, kini saya memegang 2 kartu peserta dengan nomor berbeda untuk 1 nama yang sama. Atas nama saya sendiri tentunya.

Pencairan dana BPJS Ketenagakerjaan untuk kartu terakhir (kartu terbaru), bisa dibilang sama sekali tak terkendala. Kuncinya terletak pada kartu peserta. Ia harus dalam kondisi baik, validitas data saat proses registrasi pertama tidak bermasalah, serta kartu yang dipegang tidak hilang. Sebab itulah, proses pencairan dana dari kartu terbaru saya tinggal mengikuti alurnya saja. Tak perlu mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain. Cukup datang ke kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan pilihan, dan semua prosesnya—mulai dari awal sampai akhir—dapat dilakukan di gedung yang sama pada hari yang sama pula.

Masalah, baru muncul ketika saya hendak mencairkan dana dari kartu peserta lama. Perusahaan lama tempat saya bekerja dahulu, entah di mana rimbanya. Kartu peserta hilang. Fotocopy kartu plus catatan nomor kartu tersebut pun tidak pegang.

Awalnya saya sangat skeptis. Dengan kondisi tersebut, apa iya dana saya masih bisa cair? Kalau pun bisa cair, bakal serumit apa kira-kira birokrasi yang akan saya hadapi? Dokumen apa saja yang harus saya persiapkan? Apakah sama dengan yang sebelumnya, atau ada tambahan lain?

Karena penasaran, saya coba mencari jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cara terjun langsung ke lapangan – dengan bermodalkan pengalaman mencairkan dana Jamsostek dari kartu terbaru yang sebelumnya telah saya lakukan.

Seperti apa sajakah prosedur yang harus saya lalui untuk bisa mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) tersebut? Simak terus tahapan-tahapan berikut;

 

Mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan

Dokumen-dokumen yang saya persiapkan untuk mengurus pencairan dana dengan kondisi kartu BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) hilang, tak jauh beda dengan dokumen-dokumen yang saya persiapkan untuk kasus pencairan dana secara normal, yaitu;

  • Kartu Keluarga (KK) asli + fotocopy
  • Kartu identitas diri KTP/SIM asli + fotocopy
  • Surat keterangan berhenti bekerja (Surat Paklaring/Referensi) asli + fotocopy

Mengapa membawa dokumen-dokumen ini begitu penting?

Sebab, hanya dokumen-dokumen inilah yang bisa saya jadikan sebagai bukti-bukti terakhir untuk mengklarifikasi validitas kepemilikan akun tersebut.

Pada tahap ini, terus terang saya masih ragu. Apakah hanya dengan membawa beberapa dokumen tersebut, benar-benar dapat membantu kelancaran mendapatkan nomor kartu KPJ yang hilang atau tidak. Sebab, walau pun saya telah membawa semua dokumen tadi, nyatanya, dengan hanya bermodalkan kartu Jamsostek dari perusahaan baru saja, nomor Kartu Peserta Jamsostek (KPJ) lama saya—yang telah hilang bertahun-tahun itu—sudah bisa dilacak keberadaannya pada database mereka.

 

Datang ke kantor cabang terdekat

Karena kantor cabang (kacab) Setiabudi – yang berlokasi di Menara Jamsostek Lt. 2, Jalan Gatot Subroto Kavling 38, Jakarta Selatan – adalah kantor BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) terdekat dari rumah, maka saya putuskan untuk datang ke sana. Pertimbangan lainnya; kantor cabang ini masih satu area dengan kantor wilayah DKI Jakarta. Sehingga, bila kantor cabang tidak bisa menangani permasalahan yang saya hadapi, saya bisa langsung mengeskalasinya ke kantor wilayah tadi, yang notabene masih satu lokasi.

Sebenarnya, kedatangan saya ke kacab Setiabudi ini lebih terfokus pada proses pencairan dana dari kartu terbaru (kartu kedua). Dan, daripada bolak-balik, tentu akan lebih efektif/efisien bila bisa sekalian mengurus pencairan dana dari kartu lama (kartu pertama) secara paralel.

“Sebelum (kartu terbaru) ini, saya juga punya kartu Jamsostek dari perusahaan lama. Tapi sudah hilang. Saya gak punya fotocopy dan catatan nomornya. Kira-kira masih bisa ditarik gak, dananya, Pak?” tanya saya kepada petugas saat itu.

Tanpa komentar apa-apa, petugas yang ditanya segera mencari rekaman data yang saya tanyakan di komputernya.

“Kartu dari Perusahaan X?”

“Yak. Betul, Pak.”

“Nomornya…” sambil bergumam sendiri, ia menuliskan nomor kartu peserta Jamsostek tersebut di selembar kertas. Begitu selesai, kertas itu segera dilalukan ke saya, “Nanti bikin surat kehilangan dari kepolisian dulu. Jangan lupa sertakan nomor (kartu KPJ) ini, berikut nama perusahaan yang mendaftarkannya. Perusahaan X.”

Karena tulisan tangannya lebih mirip tulisan stenografi, alias sulit dipahami, saya meminta sang petugas untuk mengeja ulang nomor-nomor itu satu per satu. Kemudian menuliskannya kembali menggunakan tulisan tangan sendiri.

Untuk memastikan bahwa nomor-nomor yang baru saja ia ucapkan, dan saya tulis, telah benar, kini gantian saya yang mengeja, sementara ia memvalidasi catatan saya. Setelah yakin tak ada kesalahan penulisan, barulah saya merasa aman.

Mengapa tindakan crosscheck ini perlu dilakukan?

Tujuannya, semata guna memperkecil kesalahan saat membuat surat kehilangan dari kepolisian nanti. Sebab, jika saya sampai salah mencatat, itu akan sama artinya dengan kerja 2 kali, alias 2 kali datang ke kantor polisi. Dalam pikiran saya, surat kehilangan yang harus direvisi, tentu dapat mengundang kecurigaan polisi. Dan, kalau sudah begini, proses merevisi surat kehilangan dari kepolisian, boleh jadi akan lebih rumit lagi. Betul, tidak?

Khusus poin ini, ada sedikit tips dari saya;

  • Karena mengurus/mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) dengan kondisi kartu hilang hanya bisa dilakukan di kantor cabang tempat kartu tersebut dikeluarkan, jangan lupa tanyakan kepada petugas, perihal kantor cabang tersebut beserta alamatnya.
  • Jangan lupa tanyakan juga saldo akhirnya. Yah, setidak-tidaknya, kalau jumlah saldo yang terkumpul tersebut lumayan besar, kan, bisa jadi tambahan semangat untuk mengurusnya lebih giat. 🙂

 

Membuat surat kehilangan dari kepolisian

Sebenarnya, pembuatan surat kehilangan ini bisa dilakukan di pos/kantor polisi mana pun. Namun, alangkah baiknya jika ia dibuat di pos/kantor polisi yang terdekat dengan tempat kejadian perkara.

Saya sendiri membuat laporan kehilangan barang/surat-surat ini di polsek yang terdekat dengan rumah. Tempat di mana kartu tersebut hilang.

Saat membuat surat kehilangan tersebut, polisi akan meminta data lengkap kita, mulai dari nama, tempat dan tanggal lahir, agama, kewarganegaraan, jenis kelamin, pekerjaan, serta alamat sesuai KTP. Selanjutnya, barulah keterangan tentang surat-surat, barang/benda yang hilang. Saya diminta memberikan nomor Kartu Peserta Jamsostek beserta nama perusahaan yang mendaftarkan kartu yang hilang tersebut.

Dari pengalaman pribadi, proses ini hanya berlangsung sekitar 15 menit saja. Kebetulan saat saya mengurusnya, kondisi polsek memang sedang sepi. Jadi tidak perlu mengantri.

Dan satu lagi. Pembuatan surat kehilangan ini ternyata gratis! Padahal sebelumnya saya sempat berpikir akan keluar uang setidak-tidaknya 15,000 Rp. Apakah ini murni keberuntungan? Atau memang demikian adanya? Entahlah.

 

Datang ke kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan tempat kartu dikeluarkan

Sampai di titik ini, saya telah melengkapi diri dengan 4 dokumen yang diperlukan, yaitu; KK asli + fotocopy, KTP asli + fotocopy, Surat Referensi asli + fotocopy, ditambah Surat Kehilangan dari kepolisian.

Karena kantor cabang Kebon Sirih (Jakarta Pusat I) adalah tempat di mana kartu peserta saya dikeluarkan, maka ke sanalah tujuan berikutnya. Lokasinya di Jalan K.H. Wahid Hasyim No. 94, Jakarta Pusat. Telp. (021) 3905119, 3905029. Tak jauh dari perempatan Jalan Sabang, Sarinah. Ke arah MNC Tower.

Peta Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) Kebon Sirih
Peta Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) Kebon Sirih

 

Lihatlah gambar Street View dari Google Maps di atas. Bagi kalian pengendara sepeda motor, begitu sampai di kantor cabang ini mungkin akan sedikit kebingungan. Mencari-cari di mana kiranya parkir motor berada. Karena memang, di pelataran parkir satu-satunya—yang berada di depan gedung—itu, tak nampak satu pun sepeda motor terparkir di sana.

Tenang. Tak perlu bingung. Area parkir motor tetap tersedia. Hanya tempatnya memang sedikit nyentrik, karena ia berada di teras depan gedung, bagian dalam. Posisi ajaib yang membuat siapa pun yang pertama kali datang, akan mengira, bakal memarkir sepeda motor mereka di dalam lobby kantor.

Karena bingung harus ke bagian mana terlebih dulu, maka saya putuskan bertanya ke resepsionis di bagian depan, yang tugasnya (lagi-lagi) dirangkap oleh petugas keamanan. Yah, setidak-tidaknya, ini adalah kantor cabang kedua yang menerapkan dualisme fungsi resepsionis merangkap sekuriti.

“Silahkan, ini diisi,” ujar sang sekuriti, seraya menyodorkan selembar formulir duplikasi/revisi/koreksi. Ia melanjutkan, “Surat kehilangan dari kepolisian sudah bikin?”

“Sudah, Pak. Sudah saya bawa juga.”

“Kalau begitu, formulirnya diisi dulu. Nanti tanda tangan di sini,” menunjuk ke kolom tanda tangan pemegang kartu yang hilang, “terus di sini.” Kali ini ia menunjuk ke kolom yang harus ditandatangani dan distempel oleh perusahaan pendaftar kartu yang hilang tersebut.

Permasalahannya adalah, saya tidak tahu apakah perusahaan lama tempat saya bekerja itu masih aktif atau tidak. Karena pada kenyataannya, sudah hampir 10 tahun saya lost contact dengan mereka.

“Tapi, saya gak tahu perusahaannya masih aktif atau enggak, Pak.”

“Tetap, Mas. Dokumen ini harus ditandatangani perusahaan bersangkutan.”

Di tengah adu argumentasi dengan sekuriti, seseorang berbatik hijau yang berpenampilan layaknya seorang petinggi, kemudian menengahi. “Kenapa, Mas?”

“Begini, Pak…” sedikit putus asa, saya terangkan duduk perkaranya secara panjang lebar dari awal.

“Oh. Masih, masih. Perusahaan itu seharusnya masih aktif. Coba ditanyakan di dalam,” katanya dengan penuh percaya diri—tapi lebih mirip “sok tahu” dalam penilaian saya saat itu. Dan, entah siapa “di dalam” yang ia maksud.

Menjelang akhir percakapan, sang sekuriti kembali menginterupsi. “Coba tanya di dalam, Mas. Ini nomor antriannya.”

Satu lagi “di dalam,” kembali saya dapatkan. “Di dalam” pangkat dua. “Di dalam” kuadrat.

Pertanyaannya; Who is this, “di dalam”!?

Terlalu banyak counter yang saya bahkan tak tahu fungsi masing-masing mereka itu, apa? Dan saya, bingung dibuatnya. Harus ke ‘dalam’ yang mana?

Begitu hendak menjejakkan kaki ke ruangan dalam, samar-samar terdengar percakapan antara Bapak tadi, dengan petugas sekuriti. “Selamat siang, Pak. Saya Direktur Utama Jamsostek. Saya ke sini mau melihat proses kerja…”

“Ah… rupanya saya baru saja bicara dengan Direktur Utama Jamsostek (belakangan, saya ketahui bernama Elvyn G. Masassya). Berarti ia benar-benar tahu permasalahan yang saya hadapi, dan bukannya sok tahu, seperti penilaian saya sebelumnya,” bathin saya.

Tapi, di antara puluhan juta peserta BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) dan ratusan ribu (jutaan?) perusahaan yang terdaftar, dari mana ia tahu perusahaan lama tempat saya bekerja, masih aktif? Padahal saya tidak menyebutkan nama perusahaan sama sekali, dan bertemu muka, ya, baru kali ini?

 

Klarifikasi aktif tidaknya perusahaan lama

Pukul 11 siang, suasana di dalam kantor cabang Kebon Sirih relatif ramai. Beberapa counter berjejer rapi. Menempati 2 sisi pinggiran ruang. Sisi kiri dan sisi belakang. Saya masih belum tahu harus ke counter mana terlebih dahulu.

Dari semua panel display mesin antrian (queuing system) yang ada, hanya counter Pelayanan Informasi sajalah yang mendekati nomor antrian saya. Mungkin, counter ini yang mereka maksud dengan “di dalam” tadi.

Agak lama waktu yang saya butuhkan untuk menunggu panggilan. Menurut perkiraan, kurang lebih 1 jam, setelah 4-5 orang. Sedikit ramah tamah khas bagian pelayanan, langsung dilanjutkan dengan penyampaian maksud dan tujuan.

Pernyataan serupa layaknya percakapan pertama dengan sekuriti di depan sana, saya ulangi kembali. Tujuannya pun masih sama. Mencari tahu status aktif tidaknya perusahan lama tempat saya bekerja.

“Masih ingat nomor kartunya, Mas?” tanya sang petugas.

“Ini nomornya, Mas,” jawab saya, seraya menyodorkan catatan nomor Kartu Peserta Jamsostek yang hilang, yang saya dapat dari Kantor Cabang Setiabudi sebelumnya.

Tanpa banyak tanya, ia segera mencari tahu status perusahaan tersebut di database BPJS.

“Perusahaan X?” ia mengklarifikasi.

“Yak. Betul. Perusahaan X,” ulang saya, untuk meyakinkan.

“Di sini (database BPJS Ketenagakerjaan), perusahaannya sudah gak aktif. Sejak Agustus 2013.”

“Terus bagaimana, Mas? Apa saya tetap harus minta stempel plus tanda tangan ke perusahaan itu untuk isian formulir revisi/duplikasi/kehilangan?”

“Kalau masih aktif, iya. Harus minta tanda tangan dan stempel perusahaan itu. Mau gak mau,” terangnya. “Tapi, karena perusahaannya sudah gak aktif, jadi, ya gak perlu. Sebentar saya print-kan datanya untuk lampiran keterangan—pengganti kartu yang hilang.”

Data selesai di-print. Seraya menyerahkan lembaran hasil print tersebut, petugas Pelayanan Informasi ini juga memberikan 3 lembar formulir tambahan lainnya untuk segera diisi, seperti:

  • Lembar daftar/checklist dokumen pendukung yang diperlukan untuk proses pencairan dana.
  • Formulir Permintaan Pembayaran Jaminan Hari Tua (JHT) yang memuat daftar isian data lengkap kita sebagai peserta Jamsostek.
  • Surat pernyataan belum bekerja di atas materai secukupnya.

Saya termasuk beruntung, karena perusahaan lama tempat saya bekerja—10 tahun lalu—telah tiada. Sehingga tidak perlu repot-repot datang ke sana hanya sekedar untuk meminta stempel dan tanda tangan.

Sebab, seandainya perusahaan tersebut masih ada, yang menjadi kekhawatiran saya adalah; apakah data saya sebagai karyawan mereka masih ada? Jika masih ada, apakah jajaran manajemennya masih yang lama, atau telah diganti dengan orang-orang baru? Jika telah berganti dengan orang-orang baru—dan ini sangat mungkin terjadi, mengingat rentang waktu yang demikian panjang—akankah prosedur pengurusan ini cukup mudah, atau malah jadi lebih susah? Bakal seperti apa pula ‘sambutan’ mereka ketika saya tiba-tiba datang dengan membawa permasalahan sepele yang menahun seperti ini? Di mana pula alamat perusahaan (kecil) itu sekarang? Apakah masih sama dengan yang dulu, atau jangan-jangan sudah pindah? Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Kalau mau dijabarkan seluruhnya, tentu daftar pertanyaan ini bisa jadi sangat panjang. Dan, dengan pertanyaan-pertanyaan negatif seperti ini, bukan berarti saya pesimis. Ini lebih kepada persiapan mental untuk menghadapi kondisi terburuk.

Terburuk dalam artian, dana BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) saya, yang telah terkumpul selama bertahun-tahun itu, ternyata tidak bisa dicairkan, akibat stempel dan tanda tangan perusahaan lama tak berhasil didapatkan.

Jadi tipsnya adalah, sebelum salah satu atau seluruh dokumen pendukung pencairan dana Jamsostek hilang (seperti; kartu peserta Jamsostek asli + fotocopy, surat paklaring/referensi asli + fotocopy, atau catatan terkait kedua dokumen tersebut), dan kalian belum bekerja lagi setelah masa tunggu pencairan dana Jamsostek berakhir, segera urus dan cairkan dana tersebut. Sebab kalau tidak, ya, siap-siap saja merasakan apa yang saya alami ini.

 

Melanjutkan pencairan dana layaknya prosedur pencairan dalam kondisi normal

Sejauh ingatan saya. Berbelitnya prosedur mencairkan dana dengan kondisi di mana Kartu BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) hilang, hanya cukup sampai di titik ini saja. Karena, prosedur yang harus saya jalani selanjutnya, bisa dibilang sama persis dengan proses pencairan dana secara normal yang pernah saya bahas pada artikel sebelumnya, yang bila di-breakdown secara garis besar, maka akan tampak seperti ini;

  • Mengisi 3 lembar formulir, yang sebelumnya diberikan oleh petugas Jamsostek.
  • Melampirkan dokumen-dokumen pendukung seperti KK asli + fotocopy, kartu identitas diri KTP/SIM asli + fotocopy, surat paklaring/referensi dari perusahaan lama, dan buku tabungan atas nama peserta pribadi + fotocopy, bila cara pembayaran dana yang dikehendaki via transfer bank. Pada kasus saya ini, daftarnya bertambah 2 item lagi, yaitu; surat keterangan kehilangan dari kepolisian, dan 1 lembar lampiran keterangan pengganti kartu yang hilang.
  • Masukkan seluruh dokumen tersebut ke dropbox untuk diperiksa kelengkapannya oleh petugas Pemeriksaan Dokumen.
  • Datangi counter Pelayanan Klaim sambil menyerahkan seluruh dokumen yang telah diperiksa sebelumnya oleh petugas di counter Pemeriksaan Dokumen. Di counter ini, validitas seluruh dokumen tadi, kembali diklarifikasi. Karenanya, kita akan diminta menunggu sementara waktu. Setelah dinyatakan OK, petugas akan memanggil dan meminta foto diri kita via webcam yang telah tersedia di meja mereka.
  • Bila pembayaran dana BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) yang dikehendaki via transfer bank, maka urusan di kantor cabang, selesai sampai di sini. Selanjutnya, kita harus menunggu sekitar 1 minggu, hingga dana tersebut cair/ditransfer.
  • Bila pembayaran dana yang dikehendaki, dilakukan secara tunai. Maka kita harus menunggu selama beberapa jam lagi, hingga pihak bank (Bank Bukopin) selaku pembayar jaminan, memvalidasi dan mencairkan dana ini.

***

Kurang lebih, begitulah prosedur yang harus saya jalani—selama 3-4 jam—akibat kehilangan salah satu dokumen pendukung pencairan dana dari kartu KPJ lama. Namun jangan khawatir. Seperti halnya pengalaman saya di atas. Walau kartu BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) hilang, dana yang terkumpul/tersimpan tetap bisa dicairkan. Pengalaman saya adalah buktinya. Semoga bermanfaat. [BEM]

 

Update:

Untuk teman-teman yang membutuhkan formulir Permintaan Duplikat KPJ, silahkan download di SINI atau di SINI.

Formulir ini bisa digunakan untuk merevisi data jika ada yang tidak sesuai, sekaligus formulir pendukung bilamana kartu KPJ kita hilang. Sebagai tambahan; proses perubahan data dan proses pencairan dana bisa dilakukan secara bersamaan di kantor cabang mana pun. Jadi tidak perlu lagi datang ke kantor cabang penerbit KPJ hanya untuk melakukan revisi data.

Thanks to Mbak Icha untuk tambahan informasi dan kiriman formulirnya. 🙂

 

Advertisements

367 thoughts on “Kartu Peserta Jamsostek (KPJ) Hilang, Dana Tetap Bisa Dicairkan”

  1. selamat sore…mau tanya ya dulu saya pernah masuk anggota kartu peserta Astek 22 tahun yang lalu, krn kartu nya keselip baru ketemu tahun 2016, dan saya mau memperpanjang sekalian update alamat, namun sy ditanyakan perusahaan saya yg pernah mendaftarkan ke PT Astek, namun sy lupa Nama perusahaan nya krn sdh lama sekali, dan kayaknya perusahaan itu sdh gak ada dialamat yg dulu itu, bagaimana cara sy utk bisa daftarin kembali ya? mohon petunjuk..

    1. Wah, ini problemnya teknis sekali. Saya cuma bisa menyarankan Pak Eman datang langsung ke kantor cabang terdekat untuk mengkonsultasikannya langsung dengan petugas berwenang di sana.

  2. selamat pgi pak sya numpng tya sya puja krtu jamsostek tapi gak bisa di cair kan karna surat dari perusaan hilang blm sempat di cair kan mau mintak surat lgi perusaan nya udah tutup jdi selusi ny mcm mn pak

    1. Coba datangi kacab terdekat atau kacab tempat akun bapak pertama kali didaftarkan. Kemudian jelaskan kondisinya, sekaligus minta petugas di sana untuk mengecek status perusahaan dimaksud. Setelah itu baru tanya solusinya seperti apa. Urutan proses seperti inilah yang dulu saya gunakan (sesuai isi artikel ini), sehingga akhirnya saya diberikan print-out berikut catatan oleh petugas–yang menerangkan kalau perusahaan tempat saya bekerja dulu, benar, sudah tutup. Setelah itu, saya baru bisa melanjutkan proses pencairan.

  3. Mbak kartu jamsostek saya hilang.
    Saya mau mengurusnya tapi nomor jamsostek saya gak ingat.
    Gimana solusinya tu mbak.

    1. Mungkin bisa coba datangi kantor cabang tempat kartu Mas Sumardi (yang hilang itu) didaftarkan. Jangan lupa bawa dokumen-dokumen pendukung yang bisa menjadi bukti kepemilikan kartu yang hilang tersebut, Mas.

  4. Mas, mbak saya mau tanya, saya ikut BPJS ketenagakerjaan di 2 perusahaan yang berbeda, yang satu kartu pesertanya tdk sy terima dr perusahaan, yang satunya lagi hilang, saya sdh tidak bekerja di kedua perusahaan tersebut.tapi saya ada pertinggal surat informasi saldo yang dikirim oleh Pihak BPJS, dimana didalam surat tersebut tercantum nama peserta, perusahaan, dan Nomor KPJ. apakah Surat tersebut bisa dipakai sebagai pengganti kartu peserta, tanpa harus isi form BPJS untuk kehilangan ? Mohon infonya lagi mas, Di perusahaan yang kedua, Tahun pertama saya masuk nama Perusahaannya X, tapi ditahun kedua berganti nama menjadi PT Y, sementara di data kepesertaan saya yang tertulis adalah PT X, apakah harus meminta surat keterangan juga dari Perusahaan tersebut ? Satu lagi mas/mbak masalah saya, KTP yang saya pakai waktu daftar BPJS dulu alamatnya masih domisili di Medan, sekarang saya sudah Pakai e-KTP Jabar.Mohon pencerahannya ya mas/mbak, Terimakasih banyak.

    1. Wah, kondisinya complicated banget, Mbak. Untuk kondisi seperti ini, saya sarankan Mbak Rehna mengkonsultasikannya langsung ke kantor cabang BPJSTK terdekat, supaya problem solvingnya bisa lebih pasti. Sebagai gambaran aja; kalo merujuk ke pengalaman temen-temen di kolom komentar artikel ini, bahkan untuk satu problem saja (misal: mau nyairin dana, tapi alamat sudah berubah), rata-rata mereka kepayahan menyelesaikannya. CMIIW.

  5. apa bisa saya mencairkan bpjs ketenagakerjaan dengan bermodal surat kehilangan dari kepolisian karena kartu jamsostek saya hilang yang aslinya

    1. Kalo aturan yang berlaku sekarang masih sama kayak kasus saya di artikel ini, kemungkinannya masih bisa ya. Tapi mungkin untuk sekarang ini ada beberapa penyesuaian persyaratan/peraturan. CMIIW.

  6. Mas, mbak mau tanya kalau nomor untuk kartu jamsosteknya hilang dan nggak punya referensi pemberhentian kerja gimana ya solusinya? Terimakasih

  7. mhon maaf ni sbelum nya.
    saya blum menerima kartu bpjs ktenagakerjaan nya..
    minta pencerahannya.

  8. Terima kasih banyak, artikel ini sangat membantu. Karena saya mengalami hal yg sama persis. Terima kasih..

  9. Thanks for sharing! Informasi ini sangat bermanfaat dan membantu karena ini kali pertama saya akan mencairkan dana bpjstk :)) Terima kasih

  10. Mas atau mbak,, boleh tanya jika saya sudah di urusin perusahaan tapi kartunya blum di kasih sedangkan saya sudah habis kontrak,, cara cek atau mencairkan gimana ya,, sudah 2 tahun yang lalu habis kontrak di perusahaan,, tolong pencerahanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s