Keadilan Energi Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan Energi Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sumber: freedesignfile.com

Berdasarkan data tahun 2011, total produksi PLN mencapai 183,420.93 GWh. Di mana 142,739.06 GWh (77.8%) diproduksi sendiri, sementara sisanya, 40,681.87 GWh (22.2 %) dibeli dari pihak ketiga.

Dari angka 142,739.06 GWh (77.8%) yang diproduksi sendiri, ternyata PLN (masih) menggunakan sebagian besar sumber-sumber energi primer, yaitu komoditas energi yang bisa ditambang atau diperoleh langsung dari sumber daya alam, seperti;

  • Batubara: 54.950,57 GWh
  • Minyak: 41.846,27 GWh
  • Gas alam: 32.138,47 GWh
  • Tenaga air: 10.315,55 GWh
  • Panas bumi: 3.487,39 GWh

Yang menarik dari data ini adalah, dari sekian sumber energi primer yang digunakan, pemanfaatan panas bumi sebagai satu-satunya sumber energi terbarukan masih terbilang kecil.

Tentu tidak ada yang salah dengan data ini. Karena biar bagaimanapun, teknologi pemanfaatan energi tak terbarukan telah berkembang jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga wajar bila konsumsi sumber energi yang dulunya disebut dengan penemuan itu, kini disebut dengan ketergantungan. Tanpa disadari, kita telah masuk ke dalam zona nyaman dalam mengkonsumsi energi tak terbarukan.

Beruntung, datangnya kesadaran bahwa cadangan sumber daya alam tak terbarukan ini hampir habis, belum terlalu terlambat. Sehingga dari total seluruh sumber daya alam tak terbarukan yang masih tersedia itu, bisa ‘dicadangkan’ sebagai modal transisi mulus menuju pemanfaatan energi terbarukan di masa-masa mendatang.

Dalam kaitannya dengan negara kepulauan seperti Indonesia, pembangunan infrastruktur energi terbarukan dapat dilakukan secara independen di mana saja. Tidak seperti pembangunan infrastruktur energi tak terbarukan yang membutuhkan jaringan distribusi dan modal yang sangat besar, dengan sumber energi utama yang biasanya hanya terkonsentrasi di lokasi-lokasi tertentu saja.

Tak heran, jika mereka-mereka yang tinggal di daerah-daerah yang letaknya cukup jauh dan cenderung terisolasi dari pusat distribusi energi cuma bisa iri tanpa bisa ikut menikmati. Kalaupun bisa, biasanya, ‘harga’ yang mereka bayar akan berkali lipat lebih banyak daripada manusia-manusia kota.

Untuk menutupi kesenjangan ini, satu-satunya cara adalah dengan berdikari secara energi. Contohnya seperti yang telah dilakukan oleh Ibu Tri Mumpuni bersama sang suami Iskandar Budisaroso Kuntoadji pada puluhan desa yang kini teraliri listrik secara mandiri.

Kunci utama dari energi berdikari ini adalah kerjasama dari semua pihak, mulai dari masyarakat sampai lembaga penggerak. Intinya, selama kita mau, pasti kita mampu. [BEM]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s