Cicak Militan di Malam Ramadhan

Cicak Militan di Malam RamadhanSesungguhnya aku malu menceritakan pengalaman ini. Walau boleh jadi, ia merupakan pengalaman yang hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupku. Tapi tetap saja. ke-malu-an itu tak bisa kutanggung sendiri. Aku harus membagi-baginya dengan orang lain. Dan orang lain itu, siapa lagi kalau bukan kalian. Terima ya…

Baiklah, mari kumulai saja ceritaku ini.

Kejadian ini terjadi pada malam hari di sepertiga Ramadhan (1435 H) pertama yang entah hari ke berapa. Ketika aku sedang duduk-duduk sendiri di depan ruang tivi—anggaplah demikian, biar aku kelihatan seperti orang berada. Padahal “ruang tivi” ini sejatinya menjadi satu dengan hampir semua ruang lain, seperti; ruang tidur, ruang tamu, dan ruang parkir kendaraan – kecuali ruang makan.

Supaya lebih mudah, coba lihatlah denah di bawah ini, yang telah kubuat dengan susah payah:

Denah kira-kira Ruang Segala

Kebetulan, posisiku duduk, persis di tengah-tengah pintu—yang berukuran lumayan lebar. Antara ruang tivi tadi, dengan ruang makan di sebelahnya. Jadi, bila aku menghadap tegak lurus ke depan, maka, penglihatanku kira-kira seperti ini:

  • Mata kiri: ruang tivi
  • Persis di depan: tembok pembatas
  • Mata kanan: ruang makan

Sehingga, jelaslah kiranya, kalau aku tidak bisa melihat sisi ‘lebar’ dan ‘panjang’ dari tembok pembatas yang ada di depanku itu. Satu-satunya sisi tembok yang bisa kulihat, praktis, hanya ketebalannya saja.

Saat sedang suntuk-suntuknya menonton program monoton di salah satu channel tivi nasional—dan rasa-rasanya, hampir semua channel tivi nasional, punya citarasa yang sama membosankannya—mataku menangkap sekelebatan kecil yang secara intens bergerak-gerak di bagian atas tembok di ujung sana.

Gerakannya begitu liar, namun sebentar kemudian ia tiba-tiba diam. Ia baru saja terpeleset dari ketinggian tembok itu, jatuh ke lantai dingin di bawahnya.

Mungkinkah diamnya itu merupakan refleksi kerasnya benturan dengan lantai, sehingga membuat dadanya terasa sesak sampai-sampai ia sulit bernapas? Bisa jadi.

Atau, mungkinkan diamnya itu merupakan wujud malu setengah mati, karena aksi kekonyolannya itu dilihat oleh seorang saksi—yang tak lain adalah diriku? Ini juga mungkin.

Yang pasti, ia benar-benar tidak bergerak. Kurasa ia masih shock berat. Buktinya, sampai 3 menit ia tak segera beranjak. Hanya bagian kepalanya saja yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Bergerak-gerak menoleh ke kiri dan ke kanan, kemudian ke depan dan ke belakang.

Walau gerakan kepalanya mirip-mirip headbanging layaknya sedang menonton konser death metal band, aku yakin maksudnya bukan ke sana, karena gerakan kepalanya terlalu pelan untuk bisa dibilang garang.

Dari kursiku, bahasa tubuhnya terus kuperhatikan. Tak sedetikpun pandangan kulepaskan. Terus terang aku penasaran. Kira-kira apa yang akan dilakukannya kemudian.

Ia mulai berjalan walau masih perlahan. Kupikir ia hendak kembali ke tembok yang sama, yang baru saja manghancurkan harga dirinya. Ternyata tidak. Ia memilih berjalan pelan, dan itu ke arahku!

Apakah ia hendak menghilangkan saksi mata (aku), melancarkan aksi forced disapearance-nya? Entahlah. Tapi, aku kok jadi sedikit takut.

Sebentar kemudian, ia kembali berdiam di salah satu pojokan. Kemudian melipir lagi di tepian antara tembok dan lantai, sedikit demi sedikit menuju ke arahku.

Bila ia seekor cicak yang baik, seharusnya, ia bisa merayap dengan gaya sebagaimana mestinya cicak-cicak lain pada umumnya. Namun menurut hematku, ia bukanlah jenis cicak biasa. Ia jelas berbeda. Keturunan ras cicak militan!

Buktinya apa?

Kalian tentu pernah, bahkan sering menyaksikan seekor cicak yang melipir dan merayap di lantai, di mana keempat telapak kakinya menjejak mantap di bidang perlintasan jalan yang sama, bukan?

Pada kasusku, cicak ini sangat istimewa. Bahkan aku berani menjamin, kalian pun tidak pernah menyaksikan jenis kelakuannya yang satu ini. Bila saja ia hanya melipir berjalan bersisian dengan tembok rumah, tentu kurasa lumrah. Tapi ini…

Ia berjalan dengan 2 kaki kanan (depan-belakang) menapak lantai, dan 2 kaki lainnya (depan-belakang) menjejak di tembok rumahku. Awalnya kupikir aksinya ini hanya akan berlangsung pada beberapa centimeter jalurnya saja, ternyata tidak! Ia merayap ala militan seperti itu sampai di ujung tembok, persis di depanku. Artinya, ia melakukan tindakan militan itu 3.5 meter jauhnya!

Kalau ia kira dengan mengendap-endap seperti itu tubuhnya telah terkamuflase sempurna, sehingga aku tidak dapat melihatnya dan tidak akan menyadari kehadirannya, maka, perkiraannya jelas salah besar!

Aku melihatmu kawan!

Sangat jelas!

Sekali lagi, sangat jelas!

Jadi, jangan pernah melakukan hal itu lagi di depanku, karena yang malu bukan hanya dirimu, tapi juga aku—yang melihatmu. [BEM]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s