Isyarat Hati Yatita

Isyarat Hati Yatita

Beno jadian sama Yatita!

Bagaimana bisa? Apa yang ada di pikiran Beno! Kemana perginya prinsip yang dulu pernah dia bilang? Ah, gak mungkin!

Sepanjang yang kutahu, Beno itu seorang prinsip freak. Apapun yang dia yakini, gak seorangpun bisa mengubahnya, kecuali dia sendiri yang menghendaki. Kalaupun ada api yang mampu melelehkan prinsip baja di dadanya, kemungkinannya cuma satu, kekuatan itu harus jauh lebih besar dari kapasitas ego seorang Beno.

Untuk urusan cewek, okelah, dia gampang suka dengan siapa saja. Tapi proses untuk memenangkan hati Beno, gak kalah rumitnya dengan tes masuk astronot NASA. Satu saja hal sepele gak masuk kriteria, jangan harap bisa diterima. Standar Beno terlalu menjulang, padahal tampangnya juga pas-pasan.

Kasihan…

Walaupun begitu, ada satu cewek yang mampu mendobrak beratnya suguhan aturan yang diajukan Beno—dalam kategori pacaran. Namanya Yatita.

Ya, Yatita. Cewek putih berdarah Padang itu dinyatakan lulus tanpa syarat oleh Beno, padahal lima syarat utama, plus separuh lebih syarat lainnya jelas-jelas gak terpenuhi. Dia masuk ke hati Beno lewat jalur istimewa. Dan demi itu, Beno rela mengingkari janji yang telah dibuatnya sendiri.

“Sampai kapanpun, gue gak akan pernah macarin mantan pacar temen gue! Titik!”

Perkenalan mereka bermula ketika sahabatnya, Iksu, datang ke rumah bersama dengan pacarnya—Yatita. Dan tanpa disangka, Beno telah menawan separuh cinta Yatita. Beno tahu, karena Yatita membiarkan buku hatinya terbaca melalui tatapan matanya.

Sayang, bab cinta Iksu-Yatita tamat begitu cepat. Ini semua karena Iksu selingkuh dengan karibnya. Perasaan Yatita hancur, dia mengalami depresi berat.

Selain menangis, gak ada lagi yang bisa dilakukannya. Sampai-sampai tangisnya berhitung hari. Dalam keputus-asaan, gak ada lagi tempat yang ingin dia datangi, kecuali satu. Seseorang yang paling dia percaya. Orang yang telah memenangkan setengah cintanya sejak tatap pertama dahulu. Beno.

Laki-laki lain, tentu akan berusaha memanfaatkan celah di ruang hati Yatita yang terluka – bila dihadapkan dengan situasi semacam ini. Tapi gak demikian dengan Beno, Dia bukanlah seorang oportunis omnivora pemakan segala, apalagi Yatita adalah mantan kekasih sahabatnya. Sangat tidak mungkin!

Untuk menghibur Yatita, Beno selalu berusaha meluangkan waktunya. Mendengarkan keluh kesahnya. Menasihati. Dan selebihnya… diam seribu bahasa menemani Yatita melalui fase lara.

Semakin sering Yatita bertemu Beno, luka dihatinya pelan tapi pasti sembuh. Begitupun cintanya. Yang semula hanya separuh, lambat laun menjadi utuh. Jantungnya berdegup kencang tiap kali berjumpa dengan Beno, sensasi yang selalu dia nikmati, sekaligus dia benci, karena dia tahu, prinsip hidup Beno membatasi mereka menjadi sepasang kekasih.

Bagi Beno, Yatita adalah sahabat yang paling dia sayangi, bahkan di antara teman-temannya yang lain. Tapi, rasa yang Beno punya, bukanlah sebentuk cinta harapan Yatita. Walaupun begitu, Yatita tetap bahagia bisa mengenal dan selalu dekat Beno kapanpun dia mau.

Setelah yakin kondisi Yatita pulih, Beno pun mencoba profesi baru. Mak Comblang.

“Lu mau gak gue kenalin sama teman gue? Baik kok orangnya.”

“Boleh.” Jawab Yatita dengan air muka kecewa yang setengah disembunyikan.

Teman yang dimaksud Beno adalah Wegig. Walaupun kenal lama, tapi mereka hanya teman biasa. Memilih Wegig pun bukan tanpa alasan. Dalam pandangan Beno, Wegig mampu menjaga sahabat tersayangnya itu. Singkat cerita, praktek per-mak-comblang-an sukses besar. Segalanya berjalan sesuai harapan Beno.

Tapi sebulan kemudian…

Beno dipaksa kecewa. Wegig mengkhianati kepercayaan yang diberikannya.

“Wegig minta gw jaga jarak sama elo Ben.” Yatita memecah keheningan.

“Hebat juga dia! Baru dikasih hati, langsung minta jantung.”

“Kasi tau sama dia, kalo ada orang yang berhak ngelarang-larang elu maen sama siapa aja, selain bokap nyokap lu, orangnya ya gue! Gue kenal elu jauh sebelum dia kenal elu! Otaknya dibuat mikir apa enggak!? Dia kenal elu juga dari gue! Brengsek!”

Walaupun sedikit gentar, hati Yatita tersenyum bahagia, karena dia tahu, betapa Beno sayang pada dirinya.

“Kalo kalian udah resmi jadi suami-istri, gue tau diri kok, gue pasti pergi! Tapi ini apa? Baru jadian udah sok ngelarang-larang!? Apa hak dia untuk ngelarang-larang elu maen sama gue? Karena dia merasa udah jadi pacar lu? Pacar tai! Baru dikasih kepercayaan sedikit udah berani ngelunjak! Lu bilang sama dia, kalo mau saingan, dia salah cari lawan! Suruh ke sini ngomong sama gue maunya apa tu orang!” Pitam Beno tak juga padam.

Ini adalah kali kesekian Yatita curhat mengenai hubungannya dengan Wegig. Dan setiap kali pula, kata “jaga jarak” selalu mengusik Beno.

“Bangsat! Kalo begini caranya, gue tarik lagi kepercayaan yang pernah gw kasih ke dia!”

Yatita yang Beno kenal, adalah seseorang yang selalu berpikir negatif dan bermental lemah. Dia adalah korban dari keluarga broken home. Karena itu pulalah Beno selalu menempuh berbagai cara untuk menguatkan pribadi Yatita. Pahit getir upaya membantu sahabat tersayangnya ini pun selalu kenyang dia telan. Tak sekalipun Beno menjatuhkan mentalnya. Pokoknya, support Beno selalu mengelilingi Yatita.

Setiap ada kesempatan, Yatita selalu menceritakan apa saja. Tentang dirinya, keluarganya, teman-temannya, pekerjaannya, apapun…

Tak terkecuali soal pacaran. Dari setiap cerita Yatita, Beno menganggap, segala aturan basi yang diterapkan Wegig dianggap terlalu mengada-ada, bahkan bisa mengancam proses pengembangan karakter Yatita yang selama ini dia bangun.

Beno itu tipikal manusia yang mudah percaya kepada orang lain. Tapi jangan sekali-kali menyiakan kepercayaannya. Karena, sekali dia merasa dikhianati, jangan harap kepercayaannya bisa kembali. Selamanya. Dan itu sudah terbukti. Beberapa pengkhianat yang dulunya teman dekat, bahkan karib kerabat, bisa dianggap gak pernah ada. Mati!

Prinsipnya sederhana, “Kalau ada yang baik sama gue, bakal gue bales jauh lebih baik. Tapi kalo ada yang jahat sama gw!, ya… don’t get mad lah, get even. Even harder!

Dan, untuk Wegig, prinsip terakhirlah yang berlaku. Sahabat kesayangan yang semula dipercayakan kepadanya, direbut kembali tanpa banyak bicara. Bahkan, statusnya bukan lagi sahabat, tapi kekasih.

Aneh memang. Normalnya, prinsip pacaran yang berlaku mainstream pasti atas dasar kasih sayang. Tapi bagi Beno, modal kasih sayang doang gak cukup. Butuh kemarahan level dewa untuk bisa menerima Yatita jadi kekasihnya. Sementara Wegig…

Dia harus rela kehilangan segalanya. Temannya—Beno, terlebih lagi, kekasih barunya—Yatita.

Walau banyak tanggapan miring, karena Beno dianggap merebut kekasih temannya, dia gak peduli. Kehilangan persahabatan gara-gara pacaran cuma boleh sekali terjadi. Gak boleh terjadi dua kali.

“Pacar bangsat! Gue kagak ngelarang dia pacaran sama sahabat gue. Justru gue seneng. Apalagi kalo dia bisa ngeriung bareng kita-kita. Tapi ini apa!? Belum-belum udah berani ngelarang-larang Ninggar ketemu sama kita. Kalo gak ada hukum di negara ini, pasti udah gw gulung tuh anjing!” begitu kata Beno, mengomentari kejadian pertama, saat sahabat dekatnya mulai menjauh gara-gara pacarnya cemburuan.

Beno sangat menjunjung tinggi arti persahabatan. Bahkan, kalau perlu, pacar dinomor-sekian-kan. Sahabat itu seumur hidup, tapi pacar, seumur kentut. Kalian tahu kan kentut? Dia gak akan bertahan lama, apalagi di udara terbuka. Memang, gak jarang juga yang bisa bertahan sampai ke jenjang pernikahan, bahkan sampai kuburan. Tapi itu pengecualian. Rare item.

* * *

Pelan tapi pasti, rasa sayang Beno bertambah cinta untuk Yatita. Sementara Yatita, cintanya kepada Beno semakin menggila. Boleh dibilang, Beno lah nyawanya sekarang. Tanpa Beno, Yatita seperti tak berarti apa-apa.

Sayangnya, hubungan mereka gak berlangsung lama. Semakin lebar jalan yang dibentang Beno, semakin besar pula aral yang direntang Yatita. Ketika Beno masih berstatus ‘sahabat,’ Yatita kagum setengah mati. Tapi, begitu berstatus ‘kekasih,’ setengah mati pula Yatita ingin menguasai.

Kini, nasihat-nasihat Beno tidak lagi didengar. Yatita telah berubah. Sementara Beno, hanya bisa pasrah. Sampai pada suatu klimaks, yang menjadi akhir dari segalanya.

“Aku salah apa Ben?”

Isi pesan singkat itu memang sederhana. Tapi efek yang ditimbulkan di dada seorang Beno terasa sangat menyiksa.

Pengirim: Yatita.

Satu-satunya sahabat, sekaligus kekasih yang pernah memenangkan hatinya melalui jalur istimewa. Ya, istimewa, karena untuk menerimanya, Beno terpaksa mengingkari prinsip hidup yang begitu sakral baginya.

“Kamu gak salah apa-apa Ta. Aku yang sa…”

Sambil tertunduk lemas, jemari Beno membeku di tiga huruf terakhir reply SMS-nya. Sebeku detik hidupnya.

Aku harus bagaimana lagi meyakinkan kamu Ta? Berulang kali selalu begini. Mau sampai kapan? Kamu gak kasihan sama dirimu sendiri? Dia juga kan butuh kesempatan untuk berkembang Ta. Selain dipakai, dia juga butuh untuk dirawat. Terutama hati sama pikiran kamu. Kalau kamu selalu memilih sisi terlemah dari keduanya, gak seorangpun bisa bantu kamu keluar dari lingkaran setan itu. Termasuk aku.

Satu-dua perlawanan kamu memang gak terlalu berarti buatku, tapi kalo hampir setiap hari seperti itu… Dalam rentang tahunan… Aku gak sanggup Ta. Kali ini, pukulan kamu terlalu keras. Aku bener-bener gak sanggup.

Aku tahu, cinta yang kamu punya untukku gak terukur. Dan sejak awal kamu tahu aku gak mungkin menjadikan kamu pacarku. Kamu tahu Ta, menjadikan kamu pacarku itu bukan pilihan mudah, karena aku harus mengingkari janjiku sendiri.

Tadinya kupikir, dengan jadi pacarmu adalah satu-satunya jalan terakhir yang bisa aku lakukan untuk memecut semangat perubahan diri kamu. Ternyata aku salah.

Kenapa Ta… Kenapa api lilin terakhirku yang mulai redup malah kamu tiup makin kencang, padahal itu bisa jadi penerang perjalanan kamu?

Berulang kali Beno menggeram marah pada diri sendiri. Ia merasa segala usaha yang dikerahkannya bertahun-tahun telah sia-sia. Usaha untuk membantu Yatita menjadi pribadi yang selalu berpikir positif, bagaimanapun keadaannya.

Walaupun terasa pahit, tapi Beno belajar tentang satu hal. Gak akan berubah seseorang, kecuali dia mau merubah keadaan dirinya sendiri. Beno baru sadar, dia hanya bisa memberikan jalan untuk Yatita, tanpa kuasa untuk memaksakan pilihannya.

Lambat laun, beku hati Beno mulai mencair. Dadanya kembali melega. Karena saat ini, dia punya satu jawaban terakhir untuk Yatita…

Melepaskannya. [BEM]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s