Ojek Reaksi Cepat

ojek reaksi cepat

Waktu itu, hari masih pagi. Jam baru menunjukkan pukul sembilan. Anjelo baru turun dari bus AKAP yang ditumpanginya sejak dari Newyorkarto, lewat Puertorico, dan berakhir di Kampung Pulo. Ia baru pulang dari dinas kantor yang menguras banyak pikiran dan tenaga. Seluruh energinya sudah habis sejak dari kota pertama. Satu-satunya yang belum habis, malah semakin bertambah, adalah rasa kantuk dan tubuh yang semakin lelah. Ditilik secara fisik, ia jelas ada. Tetapi secara ‘nyawa,’ mungkin sedikit lagi tiada.

Di pinggir jalan raya Kampung Pulo, ia bagai dewa yang dielu-elukan hambanya. Baru saja menjejakkan kaki di bumi, tiba-tiba langsung dikerubungi banyak orang, padahal ia tidak kenal siapa mereka.

“Ojek, Bang!… ojek!?” teriak orang-orang yang mengerubunginya tadi, dengan telunjuk mengacung mirip lawan mengajak bertarung.

Ah, ternyata Anjelo salah sangka. Ia bukan dewa, dan mereka bukan hamba-hambanya. Mereka cuma predator yang mengincar sesuatu yang berharga di balik saku celananya. Tapi bukan yang ‘itu,’ ya.

Kesadarannya yang mulai hilang, dipaksakannya agar bisa bertahan sedikit lebih panjang. Setidaknya, sampai di rumah nanti.

Para tukang ojek itu lama mengerubunginya, tapi Anjelo tak ambil peduli. Ia berjalan pelan menerobos kerumunan itu, tanpa menghiraukan lagi tawaran mereka. Langkahnya baru terhenti di salah satu motor matik yang terpakir nyentrik dekat dengan “tempat kejadian perkara” semula.

Motor imut itu langsung disemplaknya tanpa banyak tanya. “Gang Setan nomer 8, Bang.” Setengah sadar ia berkata-kata. Namun tak ada jawaban dari lawan bicaranya. Yang ada hanya tatapan penuh permusuhan. Ngehek nih tukang ojek, umpatnya dalam hati. Bukannya cepetan berangkat, malah ngeliatin!

Didorong rasa kesal, emosinya tiba-tiba meningkat ke level tiga per empat. “Ayo, Bang! Niat narik enggak sih!” ucapnya sedikit kasar, sembari menatap sewot abang-abang di sampingnya yang tetap saja bergeming.

Yang dihardik menjawab balik tak kalah sengit. “Mas! Situ buta ya!” dengan mulut bersungut-sungut, si abang berjalan ke bagian depan sepeda motornya. Tangannya segera meraih sesuatu yang entah sejak kapan tergantung di situ. Sebentar kemudian, ia kembali lagi manghampiri Anjelo. Dan sepotong karton putih dengan tulisan besar-besar berhuruf kapital itu langsung ditodongkannya lekat-lekat ke jidat Anjelo. “Liat nih! DI-JU-AL!” dengan suara lantang, si abang mengeja tulisan itu per suku kata. Siapa tahu orang yang sedang dihadapinya ini belum bisa membaca.

“Ooooo…,” jawab Anjelo seraya manggut-manggut, tanda mengerti. Tanpa merasa bersalah, ia segera melipir pergi, mendekati motor lain yang terparkir tidak jauh dari situ.

“Bangsaaaat!”

Walau suaranya membahana, makian orang ini tak dihiraukan Anjelo sama sekali. Tapi, karena teriakan ini pula, kesadarannya yang semula hampir hilang, kini kembali pulih sepenuhnya. Seratus persen. Bagi Anjelo, yang namanya kafein itu tidak harus selalu berbentuk cair. Berbentuk suara pun bisa.

Pelajaran (mencari ojek) pertama membuat Anjelo waspada. Kali ini ia harus lebih berhati-hati.

Ojek idaman kembali ditemukan—dengan tipe motor favorit, yang masih matik-matik juga.

“Ojek Bang!” Anjelo memegang jok ojek barunya sambil menatap ke kerumunan tukang ojek yang sedang duduk bermalas-malasan di saung pangkalan di depannya. Tak ada jawaban dari mereka. Yang ada cuma tatapan penuh kekesalan. Tadi berlagak gak butuh, sekarang nyari-nyari. Bangsat nih orang. Begitu kira-kira suara isi hati para tukang ojek ini.

Anjelo tak berputus asa. Sekali lagi, ia coba bertanya. “Ini motor, abangnya yang mana ya, Bang?” suaranya diperhalus, diikuti senyum tipis yang tidak bisa dibilang manis.

Para tukang ojek di depannya, masih saja tak menjawab. Mereka malah saling adu pandang sambil sedikit berbisik-bisik. Jari telunjuk mereka saling tunjuk. Mirip betul dengan sekumpulan bocah ingusan yang ketahuan melakukan kesalahan, tapi masing-masing tidak mau disalahkan.

Anjelo, yang semula merasa didiamkan, berubah heran dengan kerumunan tukang ojek di depannya—yang tiba-tiba saja bubar jalan.

Namun keanehan baru lagi-lagi terjadi. Salah satu dari mereka segera menghampirinya, seraya menyampaikan kalimat yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya debu. “Sebentar ya, Bang,” katanya.

“Emang kenapa Bang?”

“Tenang. Tunggu aja dulu,” balasnya.

Apa maksudnya, coba? Dahi Anjelo mengernyit. Ia menangkap kalimat terakhir tadi bagai sebuah isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Tak berselang lama, salah satu tukang ojek yang semula ikut barisan bubar jalan, kembali lagi ke saung pangkalan. Kali ini dengan ranting kering di tangan.

Dengan ranting yang tak begitu panjang ini, ia mengendap-endap masuk ke dalam saung. Jaraknya dijaga sedemikian rupa pada posisi aman, sehingga bila terjadi sesuatu di luar kendali, ia tetap bisa pulang walau api belum padam. Mottonya berbalik 180 derajat dengan motto petugas pemadam kebakaran.

“Lah… bangun Lah…” suaranya halus dan pelan. Ranting tadi digunakannya untuk sekedar menyentuh bagian kaki, dan membangunkan seseorang yang masih tertidur di bagian saung yang lebih dalam.

Sebentar-sebentar, ia selalu mundur ke belakang—dengan sedikit berlari, tapi selalu kembali lagi. Pikiran Anjelo terlempar berpuluh-puluh tahun ke belakang. Ia jadi ingat masa kanak-kanaknya dahulu, ketika dipaksa menyalakan petasan sebesar kaleng Khong Guan yang sumbunya tak juga kunjung bisa dinyalakan.

Duarrr!!!

Anjelo kaget bukan kepalang. Suara itu terdengar begitu kencang dari dalam saung. Tukang ojek tadi lebih kaget lagi. Pontang-panting ia berlari menyelamatkan diri. Tapi sebentar kemudian, kembali lagi.

“Udah bangun lu?” tanyanya pada orang itu seraya mengendap-endap.

“Udah,” jawab orang yang baru dibangunkan—dan bereaksi secara militan—tadi. Setengah sadar, ia bertanya, “Ada apaan si?”

“Ada sewa tuh.” Telunjuknya menuding ke arah Anjelo, diikuti lirikan mata dari lawan bicaranya.

“Ohhh… tengyu Pet.” Ia mengucapkan terima kasih kepada kawannya sesama tukang ojek, yang belakangan diketahui Anjelo, bernama Pedro. Padahal sebelumnya Anjelo mengira panggilan ‘Pet’ itu akan lebih merujuk pada ‘Copet,’ ‘Kopet,’ atau ‘Ngepet.’

Dalam tatanan perkawanan para tukang ojek ini, cara paling aman untuk membangunkan orang tadi, ya, memang demikian. Harus menggunakan alat bantu. Sebab, kalau tidak, siap-siap saja menerima bogem mentah atau tendangan tanpa bayangan darinya. Asal tahu saja, hal ini dilakukannya bukan karena ia tukang cari gara-gara, tapi lebih kepada penyakit lama yang dideritanya sejak taman kanak-kanak, yaitu penyakit kaget stadium empat komplikasi latah tingkat berat.

Ketiduran 1 jam membuat semangat ‘Lah’ kembali menyala-nyala. Ia segera bangkit menghampiri Anjelo, dengan menyisakan retakan lumayan lebar di bangku saung akibat tendangan tanpa bayangannya barusan.

“Ojek Bang?” tanyanya kepada Anjelo.

Anjelo yang masih shock akibat suara keras tadi, kini masih harus kaget lagi. Tatapannya kosong ke arah atas. Ia mendongak lama tanpa menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya.

“Jadi ngojek kagak Bang?” tangan tukang ojek selebar kipas sate itu dikibas-kibaskan di depan wajah Anjelo yang masih melongo seperti orang dongo.

“I-iya Bang. Jadi.” Anjelo berhasil menguasai diri.

Walau sudah tinggal lama di Kampung Pulo, yang namanya melihat tukang ojek setinggi pemain basket mungkin ya, baru kali ini. Wajar saja, karena setiap hari dia selalu bawa motor sendiri. Biar kata motor gua busuk, yang penting tarikannya masih yahud. Begitu kira-kira alibinya setiap ditanya kawan-kawannya perihal alasan tidak gonta-ganti kendaraan, padahal setiap hari motornya itu selalu mogok dan menyusahkan.

“Abang punya nama siapa?” tanya Anjelo refleks. Ia tiba-tiba tertarik dengan ‘anomali’ yang satu ini.

“Nama dari orang tua sih Pe’i, Bang. Syafei. Tapi nama dari anak-anak itu,” ia menunjuk teman-temannya yang mulai berkumpul lagi di saung, “mereka kasih saya nama: Galah. Karena tinggi kali ya,” jelasnya sambil nyengir ala kuda.

“Saya Anjelo, Bang.” Sesuai adat ketimuran, Anjelo segera membalas dengan memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan, menunggu jabatan dari tangan lawan. Gerakan tangannya segera disambut sang pemain basket… eh, tukang ojek dengan semangat 45.

Galah memang tinggi, tetapi perawakannya lebih kepada kulit pembalut tulang ketimbang seorang olahragawan. Indikasi kontrasnya debit rejeki di antara kedua jenis profesi ini.

“Gang Setan nomer 8 ya, Bang.”

“Siappp…”

Galah segera menyiapkan tunggangan matiknya. Sebenarnya ini bukan motornya sendiri. Motor ini adalah motor pinjaman dari adik iparnya, karena motor batangan miliknya terpaksa disekolahkan sementara, gara-gara kekurangan biaya untuk berobat anaknya. Ya. Disekolahkan. Dalam bahasa Galah dan teman-teman satu kastanya itu, kata ini setara artinya dengan ‘digadaikan.’

Ketika motor telah siap, masalah baru, muncul. Kaki Galah yang demikian jenjang hanya menyisakan sedikit ruang pada jok penumpang. Motor matik ini seketika berubah jadi motor Harley. Yang single seater pula. Anjelo seketika kekurangan yodium. Lehernya tiba-tiba bertembolok menyimpan gondok. Ia hanya bisa mengumpat dalam hati. Karena mau membatalkan, ia tidak tega, akhirnya ya sudah, terima saja. Sisa jok penumpang yang tak lebih luas dari sampul DVD bajakan itu disemplaknya dengan terpaksa.

“Cabut, Bang.” Tak tersirat semangat dari nada suaranya.

“Siap!” pada suara Galah, justru terdengar sebaliknya.

Semula, motor dipacu Galah dengan kecepatan sedang, namun jarak yang lumayan jauh membuatnya jadi tak sabaran, sehingga lama kelamaan itu motor dipacunya semakin kencang seperti sedang uber setoran padahal bukan. Ia tak sadar kalau sedang membawa penumpang, yang tanpa kebut-kebutan pun, posisi duduknya sudah hampir jatuh.

Jalan panjang berbatu menuju rumahnya, membuat pantat Anjelo serasa disiksa di neraka. Behel motor berbahan besi yang sebagian didudukinya itu seringkali membentur tonjolan tulang di pantat tepos-nya yang hampir-hampir rata tak berbalut daging. Setiap melewati satu lubang jalanan, pasti selalu diikutinya dengan lafal ‘Anjing’ di dalam hati. Anjelo menjadi seorang penyayang binatang, sekarang.

Mereka baru sampai di gang kedua terakhir menjelang rumah Anjelo. Supaya Galah tidak kaget dan siap mengambil ancang-ancang, Anjelo segera memberikan aba-aba, “Di depan nanti kanan ya, Bang.”

Galah, yang masih dalam kondisi semangat, segera menjawab, “Siap, Bang!” yang langsung diikutinya dengan membelokkan motor ke arah kanan, pada jalur yang berlawanan.

“Eh! Banggg!… Bangg!!!” seraya mencengkram bahu Galah, Anjelo kaget bukan kepalang. Keringat dinginnya tiba-tiba bercucuran. Kejadian ini tidak pernah ia duga sebelumnya. Padahal tikungan gang terakhir masih 25 meter lagi, tapi kenapa Galah sudah mengambil ancang-ancang dari titik ini!

Kalau cuma melawan arah, Anjelo sudah terbiasa. Tapi, melawan arah dengan memotong kendaraan yang sedang melaju kencang di jalur lawan, baru kali ini ia hadapi. Hatinya kecut. Ia takut setengah mati. Sementara Galah, ia tetap bergeming, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kenapa Bang?” tanyanya.

Pakek tanya-tanya ‘kenapa,’ lagi. Bangsat! Bathin Anjelo.

“Lu gimana sih, Bang! Kan belokannya masih jauh, kenapa lu ngambil ancang-ancang dari sini. Mending kalo pake liat-liat dulu pas mau nyebrang. Lah, ini kagak! Ampir liwat kita tadi!” Anjelo tak lagi peduli batasan usia dan tata krama berbahasa. Kalau sedang emosi, beginilah warna aslinya.

Dan, yang lebih menjengkelkan lagi, komplainnya itu hanya berbalas cengir kuda dari bibir tukang ojeknya.

Akhirnya, sampai juga ia di rumah. Gerakan Anjelo tampak begitu perlahan saat turun dari jok belakang. Kakinya tak henti gemetar. Pantatnya kebas, mati rasa. Hati dan pikirannya masih trauma. Gara-gara kejadian tadi, badannya terasa lemas bukan main, dan sialnya, itu tak kunjung hilang. Ia seperti Anjelo tak bertulang. Anjelo presto.

Sambil bergetar, tangannya merogoh kantong belakang, mencari selembar uang sepuluh ribuan sebagai pengganti jasa tukang ojeknya. Galah menerima uang itu dengan sukacita. Setelah berterima kasih seperlunya, ia segera bergegas kembali ke pangkalan.

Begitu punggung tukang ojek ini tak tampak lagi, Anjelo berteriak kencang layaknya pekik kemerdekaan…

“TUKANG OJEK BANGSAAATTTTT!!!”

Pak Citro, tetangga sebelah rumah yang saat itu sedang asyik menyiram tanaman dan mendengar teriakannya, tiba-tiba saja menghambur ke luar. Ia kepo. “Ada apa, Mas Anjelo?”

“Eh!… ngg… anu…” Anjelo bingung harus menjawab apa. “Enggak, Pak. Gak ada apa-apa.” Tanpa pamit lagi, Anjelo langsung beranjak pergi.

Naik ojek itu lagi. [BEM]

Advertisements

2 thoughts on “Ojek Reaksi Cepat”

  1. dibayar berapapun aku ga mau naik ojeknya Pak Galah …
    Sisa joknya cuma segitu, trus gimana cara mboncengnya? 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s