Kekuatan Tersembunyi Mini MPV, Karimun Wagon R

Kekuatan Tersembunyi Mini MPV, Karimun Wagon RPeraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, yang ditetapkan pada Mei 23, 2013 yang lalu, menjadi tonggak sejarah dimulainya era mobil murah di Indonesia, yang kemudian dikenal dengan Low Cost Green Car (LCGC). Perubahan tidak hanya disambut oleh para produsen mobil tanah air, tapi juga masyarakat Indonesia yang telah lama bermimpi memiliki mobil dengan harga terjangkau untuk mereka dan keluarganya.

Suzuki, yang telah memulai kiprahnya di Indonesia sejak Juni 1974, tak mau tertinggal. Peluang tersebut langsung disambar dengan mengeluarkan 3 varian Karimun Wagon R—yang sebelum diluncurkan ke pasaran, disebut dengan Wagon R G-II Concept.

Pada gelaran test drive Karimun Wagon R yang diikuti belasan jurnalis di Surabaya beberapa waktu lalu, konsumsi bahan bakar terbaik dicapai pada angka 33 km/l, 3 liter lebih irit dibandingkan data riset yang pernah disampaikan Tim Suzuki Motor Corporation pada materi presentasi mereka, pada event Tokyo Motor Show Investors Conference, November 2013 yang lalu—padahal dengan angka 30 km/l saja, tim riset tersebut telah mengklaim bahwa konsumsi bahan bakar Wagon R adalah yang terendah di antara mini wagon lain. [Suzuki Motor Corporation, 2013]

Jadi, dengan kata lain, ketentuan yang mengharuskan setiap mobil sekelas LCGC mampu menempuh jarak minimal 20 km/l, seperti yang disyaratkan pada PP No. 41 Tahun 2013 tadi, otomatis terpenuhi.

Tetapi, apakah dengan harga murah dan irit bahan bakar saja sudah cukup? Apakah anda mengharapkan sesuatu yang lebih? Sebenarnya, apa saja hal yang ditawarkan mini MPV ini untuk anda?

Mari kita kupas satu per satu…

 

Kiprah Internasional Karimun Wagon R

Pada September 2012 yang lalu, generasi kelima Karimun Wagon R kembali diluncurkan di Jepang. Tak berselang lama, tepatnya pada tahun 2013, Teknologi “SUZUKI GREEN” yang dibenam ke dalam dapur pacu kendaraan mungil ini berhasil menyabet gelar Technology of the Year pada ajang RJC Car of the Year ke-22 yang diselenggarakan oleh Automotive Researchers’ and Journalists’ Conference of Japan (RJC)—sebuah organisasi nirlaba asal Jepang yang memfokuskan diri pada bidang otomotif.

Dengan perolehan jumlah voting sebanyak 283 poin, “SUZUKI GREEN Technology” berhasil mengalahkan kelima kontestan lainnya pada kategori yang sama. Teknologi ini sendiri meliputi:

  • eNe-CHARGE: sebuah sistem yang bekerja untuk menyuplai listrik ke kendaraan pada saat deselerasi (pengurangan kecepatan).
  • Engine Auto Start Stop System (Idling Stop): sebuah teknologi yang secara otomatis akan mematikan mesin pada kecepatan 13 km/j atau kurang.
  • ECO-COOL: sebuah sistem yang akan menjaga suhu kabin tetap dingin ketika mesin dimatikan.
  • Total Effective Control Technology (TECT): teknologi yang didesain untuk menyerap energi berlebih ketika terjadi benturan.

Di ajang yang sama, prestasi lain juga pernah diraih generasi Wagon R ini, yaitu pada perhelatan RJC Car of the Year ke-3 (1993-1994) dan ke-18 (2009). Masing-masing dengan penghargaan New Car of the Year, dan RJC Car of the Year. Selain itu, Karimun Wagon R juga pernah mendapatkan penghargaan pada ajang Good Design Award yang diselenggarakan oleh Japan Institute of Design Promotion (JDP) untuk kategori Good Design Long Life Design Award (2009) dan Transportation Equipment and Facilities (2012).

Sementara di India, si imut yang dikenal dengan Maruti-Suzuki WagonR ini, berhasil memperoleh penghargaan otomotif di kategori Best Entry Level Mini Car of the Year, pada ajang ET ZigWheels Car of the Year Awards (2010).

Bila pada tahun 2003-2008, si mungil ini disebut-sebut sebagai mobil dengan penjualan terbaik di Jepang, maka pada rentang yang lebih panjang (1993-2013), akumulasi penjualannya telah menyentuh angka 4 juta unit. Untuk di Jepang saja. Sementara, untuk pasar global, totalnya ‘baru’ 6.4 juta unit dan cenderung merangkak naik.

Catatan prestasi terakhir, yaitu pada ajang New Wave Marketing Award IIMS 2013, di Indonesia, Suzuki Karimun Wagon R kembali meraih penghargaan pada kategori New Wave Clarification dari Markplus Marketeer & Markplus Insight, dengan mengusung konsep “5 seater Mini MPV” LCGC. Untuk prestasi lain yang telah dicapai si mini di Indonesia, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

Prestasi Suzuki Karimun Wagon R di Indonesia

 

Spy shot

Walupun Suzuki Karimun Wagon R baru diperkenalkan ke publik Indonesia pada gelaran IIMS ke-21, pada September 2013 yang lalu, di Jakarta, [New Light of Myanmar, 2013] beberapa penampakan kendaraan ini di jalan raya ibukota telah diketahui publik sejak tahun 2012 dan 2013 silam.

Spy Shoot

Pada artikel bertarikh Juni 27, 2013, tersebut, sebuah mobil putih bernomor seri B xxxx XQX terlihat sedang ikut mengantri di pintu tol Pondok Ranji.

Coba anda perhatikan 3 huruf  terakhir pada plat nomor tersebut. Huruf ‘X’ pada plat nomor tersebut mengindikasikan; Tanda Coba Kendaraan Bermotor (TCKB). Artinya, plat nomor ini biasanya digunakan pada kendaraan-kendaraan bermotor untuk transportasi dengan tujuan seperti; pengiriman dari pabrik perakitan ke dealer, test drive, riset otomotif, dan pengiriman ke konsumen. Namun, karena kendaraan ini baru di-launching pada gelaran IIMS, September 2013 silam, maka kita bisa mencoret kemungkinan “pengiriman ke konsumen.” Yang dengannya, otomatis hanya menyisakan 3 (dari 4) kemungkinan yang baru saja disebutkan.

Artinya apa?

Artinya, (dengan melihat time stamp kedua artikel tersebut) jauh hari sebelum Karimun Wagon R dilempar ke pasar, pihak Suzuki sudah mereview kendaraan ini secara internal. Dan, sebagai hasil akhirnya, lahirlah Karimun Wagon R, kendaraan ekonomis yang kita kenal sekarang—dengan kombinasi terbaik dari segala kemungkinan yang telah dipertimbangkan pihak pabrikan.

Note:

Plat TCKB biasanya memiliki tulisan berwarna merah dengan warna dasar putih.

***

Segala hal di dunia ini pasti berubah. Yang abadi hanya perubahan itu sendiri. Saya kira pendapat ini benar adanya. Beberapa tahun yang lalu, mobil masih dianggap sebagai barang yang mewah. Tapi kini, siapa pun bisa memilikinya. Dengan kisaran harga mulai dari 77,000,000Rp – 99,900,000Rp, seseorang sudah bisa membawa Karimun Wagon R pulang. Ditambah kemudahan kredit yang ditawarkan, harga yang sudah relatif terjangkau tersebut, tentu akan terasa makin murah saja.

Lantas, apa saja yang ditawarkan mini MPV ini untuk anda?

Teruskan membaca…

 

Keuntungan di balik ukuran roda

Ukuran ban yang digunakan pada Karimun Wagon R memang relatif kecil (145/80 R13), tetapi bukan berarti pilihan ini lantas diambil sekenanya oleh pihak Suzuki. Walau terkesan sepele, pemilihan ukuran ban ini tentu telah melalui beberapa tahapan yang panjang. Berbagai pertimbangan seperti; faktor keselamatan, nilai ekonomis, nilai estetika, dan lain sebagainya, pasti telah diperhitungkan dengan matang oleh para insinyur pengembang.

Berkenaan dengan tema penghematan, penggunaan profil ban kecil jelas menguntungkan pihak konsumen, karena dengan demikian harga sparepart-nya jadi lebih terjangkau. Apalagi mengingat kecenderungan harga sparepart berbagai macam kendaraan yang semakin mahal saja setiap tahunnya.

Namun demikian, bagi yang ingin membuat sektor kaki-kaki Suzuki Karimun Wagon R menjadi lebih berisi, anda bisa menggantinya dengan ukuran 155/65 R14—seperti yang diterapkan pada Maruti Wagon R VXi—atau, ukuran yang lainnya, dengan syarat; penggantian maksimal tidak lebih dari 2 tingkat di atas ukuran standar. Jadi, bila ukuran ban standar Karimun Wagon R adalah 13”, maka maksimal peningkatan ukuran ban yang ideal adalah 15”.

Tentang bagaimana kelebihan dan kekurangan pergantian ban ini, anda bisa tanyakan kepada mekanik bengkel resmi Suzuki. Atau, bila ingin menguliknya sendiri, anda bisa menggunakan aplikasi Tyre Size Calculator yang banyak tersedia secara gratis di internet.

Perlu dicatat. Penggantian tapak ban yang semakin lebar, secara otomatis akan berpengaruh pada hemat-borosnya pemakaian bahan bakar (BBM) kendaraan—walau tidak terlalu signifikan, selama penggantiannya masih dalam batas ideal.

 

Fungsi atap tinggi

Bila diperhatikan, bagian atap Suzuki Karimun Wagon R dirancang meninggi ke bagian buritan. Selain memberi kesan ramping, desain seperti ini juga membuat volume kabinnya menjadi lebih besar dibandingkan jajaran kendaraan lain di kelasnya, sehingga bagasi yang dapat diangkut otomatis menjadi semakin banyak.

Pada kecepatan tertentu, desain atap seperti ini juga berfungsi untuk menghasilkan tekanan vertikal/ke bawah (downforce) yang lebih baik, sehingga traksi antara ban dengan aspal jalan menjadi semakin optimal.

Fungsi Atap Tinggi, Kabin Lebih LapangJadi, bagaimana gambaran downforce ini secara sederhana?

Mari kita ambil contoh; ajang balap bergengsi Formula 1. Mobil-mobil Formula 1 pada umumnya dirancang untuk menghasilkan efek downforce yang sangat luar biasa. Saking luar biasanya, bila posisi permukaan jalan kita jungkir-balikkan secara upside-down, maka dengan kecepatan 175 mil per jam, mobil tersebut akan tetap ‘menempel’ pada permukaan jalan.

Selain memberi kesan lapang, desain bodi yang cenderung meninggi (ke bagian belakang) seperti ini memungkinkan posisi kursi belakang dibuat lebih tinggi daripada kursi depan, sehingga bagi penumpang yang berada di belakang, kondisi ini akan menghasilkan efek seperti:

  • Memberi kesan lapang pada ruang kabin.
  • Sudut pandang yang luas (+- 270 derajat) dan tidak terhalang (kursi depan).
  • Berbagi kesadaran (awareness) yang relatif sama dengan pengemudi atau penumpang depan—terhadap kondisi jalan.

 

Mesin mini kemampuan mumpuni

Suara mesin alumunium K10B 998cc generasi terbaru, dengan Multi Point Injection (MPI), yang tertanam di bawah kap mesin, relatif halus, sehingga penumpang akan merasa nyaman saat berkendara. Apalagi, pada jajaran New Wagon R juga telah diterapkan optimalisasi noise reduction pada bagian-bagaian seperti; atap, dashboard, panel samping, dudukan mesin, dan bentuk kaca spion. [Suzuki Report, 2009]

Walau pun kapasitas mesin bertipe DOHC ini terbilang mini, ia cukup responsif di putaran bawah, dan masih relatif stabil pada kecepatan 90 km/j. Di atas 100 km/j mungkin akan terasa limbung, tapi berdasarkan pengalaman pribadi—pada saat test drive kendaraan baru dengan kelas di atasnya pun—keadaan ini memang lumrah terjadi, karena bagian kaki-kaki masih harus ‘beradaptasi’ dengan karakter jalan dan pengemudi.

Kondisi ideal, umumnya baru akan tercapai setelah menempuh jarak di atas 1,500 km. Namun demikian, berkendara dengan kecepatan tinggi sangat tidak dianjurkan, karena sangat berbahaya. Apalagi mobil ini jelas-jelas ditujukan untuk transportasi keluarga, dan tidak dirancang untuk tujuan balapan.

Banyak yang bertanya-tanya, dengan kapasitas mesin yang demikian kecil, apakah Karimun Wagon R seberat 835 kg ini sanggup melahap tanjakan curam dengan gampang? Jawabannya, tentu saja ‘Ya!’ ini sudah dibuktikan pada test drive yang dilakukan di Tanjakan Kemuning, Solo dan tanjakan curam sebelum masuk ke kawasan Tugu Nol Kilometer, Aceh, beberapa waktu lalu. Jadi, tidak perlu ragu.

 

Format mini manfaat maksi

Berkaitan dengan bodi mini, saya punya pengalaman tersendiri. Waktu itu, saya hendak pergi ke suatu tempat bersama beberapa teman. Karena tidak satu pun orang yang tahu jalan, maka kami berinisiatif menggunakan perangkat GPS yang kebetulan sedang dibawa. Titik tujuan telah ditentukan, perangkat GPS telah siap, dan kami siap berangkat.

Menyusuri jalan raya utama, kami masih paham, tapi begitu memasuki jalan-jalan perkampungan, mau tidak mau, seluruh urusan penunjukan jalan diserahkan kepada perangkat GPS ini. Pada awal-awal memasuki jalan-jalan perkampungan, segalanya masih terasa baik-baik saja. Hambatan perjalanan seperti polisi tidur (yang kadang konstruksinya lebih cocok disebut tanggul) dan lubang (yang kadang agak dalam) bisa dilalui tanpa ada masalah berkat ground clearance yang relatif tinggi (170 mm). Begitu pun dengan ritual mengantri yang harus dilakoni manakala berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan pada ruas-ruas jalan yang relatif sempit.

Lebih dari cukup

Dinamika jalur alternatif berpola sebentar-melebar-sebentar-menyempit yang berkali-kali berhasil kami lalui pada awal-awal perjalanan, membuat kami yakin, kalau kemampuan perangkat GPS yang kami bawa saat itu memang mumpuni. Namun, menjelang titik tujuan, keyakinan ini tiba-tiba menjadi invalid. Jalan perkampungan yang kami lewati, semakin lama menjadi semakin menyempit saja—hanya cukup untuk 1 bodi mobil. Ujung-ujungnya, perjalanan kami berakhir dengan jalan buntu!

Karena bergerak maju ke depan saja sudah cukup susah dan harus ekstra hati-hati, maka kembali mundur ke belakang jelas tidak mungkin, apalagi saat itu, kami sudah ‘tersesat’ cukup jauh. Untungnya, tak jauh dari situ, ada sedikit halaman rumah warga yang bisa kami gunakan untuk putar haluan. Beruntung, konstruksi bodi mobil ini terbilang kecil, sehingga proses balik arah yang kami lakukan jadi lebih mudah.

Seandainya mobil yang kami gunakan saat itu berdimensi besar, tak terbayang repotnya perjuangan yang harus dilakukan untuk sekedar kembali ke jalan yang benar dengan cara menyingkirkan sementara kandang ayam warga yang diletakkan semaunya, meminta ijin warga untuk sebentar bergeser dari tempat mereka bercengkrama, memindahkan sebentar jemuran pakaian atau kasurnya, dan lain sebagainya. Itu pun belum menghitung keberadaan selokan di kanan-kiri jalan. Bagi yang pernah mengalami kondisi seperti ini, tentu memahami kesulitan yang kami alami saat itu.

Intinya, dengan mobil berdimensi kecil seperti Karimun Wagon R ini, bermanuver di jalur alternatif yang relatif sempit, atau merayap di jalan raya padat tentu akan membuat ritual “ukur jalan” kita menjadi semakin mudah. Ah, tambahkan satu lagi dengan kemudahan parkir.

 

Timing chain

Pada beberapa forum otomotif yang pernah saya ikuti, perdebatan antara pemilik kendaraan yang menggunakan timing chain dengan timing belt biasanya berujung pada adu pendapat yang cukup sengit. Namun demikian, dari sekian banyak pendapat (yang tentunya berdasarkan pengalaman) para pengguna kendaraan dengan kedua tipe sabuk ini, mayoritas mengatakan bahwa timing chain berumur lebih panjang (2 kali lipat usia timing belt, sampai seumur hidup) ketimbang timing belt.

Pada salah satu forum yang mengangkat tema “Timing chain vs. timing belt” sebagai bahan perdebatan, ada satu pendapat yang menurut saya cukup menarik: “I think the ‘proof’ of what’s better is in the fact that many companies that once used belts, are switching over to chains again,” ujar James, seorang mekanik dari Shade Tree, pada salah satu topik diskusi Yahoo Answer.

Berkaitan dengan tema “S.U.P.E.R.” yang diusung Karimun Wagon R, maka pemilihan penggunaan timing chain pada jajaran Multi Purpose Vehicle (MPV) kompak ini merupakan sebuah keputusan yang cerdas, karena target ‘Efisiensi’ yang dijanjikan jelas tepat sasaran.

 

Gear Shift Indicator

Sejak pertama kali dipatenkan oleh Anthony Raich pada Agustus 29, 1922, perangkat Gear Shift Indicator (GSI) telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Kalau dulu, tujuannya hanya untuk menunjukkan angka perubahan gigi transmisi agar tidak terjadi kesalahan dalam mengemudi, maka tujuan yang disasar perangkat GSI saat ini—yang notabene jauh lebih canggih—jelas lebih kompleks lagi.

Pada perangkat GSI yang sangat canggih, parameter yang dihitung relatif lebih banyak, seperti misalnya; kondisi jalan, karakter pengemudi, beban kendaraan, dan lain-lain. Namun, secara mendasar, perangkat GSI hanya memonitor beberapa faktor seperti; posisi gigi transmisi, kecepatan laju kendaraan, dan putaran mesin. Parameter tersebut kemudian dihitung untuk mendapatkan nilai optimum yang sesuai dengan kondisi berkendara. Begitu angkanya didapat, barulah perangkat GSI ini akan memberitahukan kepada pengemudi agar segera menaikkan atau menurunkan level gigi transmisi mereka, sehingga siklus power pada setiap level gigi transmisi menjadi sempurna.

Lantas, apa keuntugannya?

Keuntungannya, selain hal ini bisa menghemat penggunaan bahan bakar—yang secara otomatis ikut mengurangi emisi CO2—dan menghasilkan perpindahan gigi transmisi yang halus, juga turut berkontribusi dalam memperpanjang umur mesin, terutama pada komponen-komponen transmisi.

Tipe Suzuki Karimun Wagon R

Front wheel drive

Ditinjau dari segi kepraktisannya, kendaraan dengan penggerak roda depan (Front Wheel Drive—FWD) lebih unggul dibandingakan dengan kendaraan dengan penggerak roda belakang (Rear Wheel Drive—RWD). Tenaga yang dihasilkan mesin bisa langsung ditransfer ke kaki-kaki depan tanpa terlebih dahulu harus disalurkan ke roda belakang.

Tanpa adanya perangkat penyalur tenaga ke roda belakang, dengan sendirinya bobot kendaraan menjadi lebih ringan sekaligus menciptakan ekstra ruang, sehingga volume kabin bisa dibuat lebih lapang. ‘Hilang’-nya perangkat penyalur tenaga ini, secara tidak langsung, juga ikut berperan memangkas biaya produksi, sehingga harga yang sampai di tangan konsumen menjadi lebih terjangkau.

Sebagai gambaran saja. Pada rentang tahun 1982-2001, di Kanada, penjualan kendaraan FWD menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Dari yang semula ‘hanya’ 46.6 persen, meningkat menjadi 94.8 persen dari keseluruhan kue penjualan. Sementara sisanya dikuasai jenis kendaraan sport dan mewah—berpenggerak RWD. [Dennis, 2006]

Jadi, jangan iri dengan kendaraan-kendaraan RWD, ya. Karena jelas-jelas mereka berada pada entitas yang berbeda.

 

Under seat tray

Saat berkendara, banyak orang yang meletakkan barang-barang bawaannya begitu saja di atas jok mobil mereka. Tak peduli berharga atau tidak, selama tidak mengganggu, ya, geletakkan saja. Urusan selesai. Mereka tidak menyadari, kalau kebiasaan ini bisa mengundang kejahatan. Entah di jalan, atau di parkiran. Apalagi kalau kendaraan tersebut dibiarkan bening tanpa kaca film. Pelaku kejahatan akan semakin mudah mengidentifikasi barang-barang berharga yang mereka bawa. Proses eksekusinya? Tinggal menunggu waktu yang tepat—biasanya pada saat sang empunya lengah.

Under Seat TrayWaktu yang dibutuhkan para pelaku kejahatan ini, tak jarang membuat kita geleng-geleng kepala. Mulai dari 5 menit, sampai di bawah 1 menit. Bila merujuk pada berita-berita di televisi, rasa-rasanya, semakin hari cara-cara yang mereka gunakan semakin canggih saja.

Pihak Suzuki menangkap fenomena ini cepat tanggap. Kelemahan di sisi lain, mereka ubah jadi kekuatan, sehingga tercetuslah ide membuat under seat tray yang kemudian dibenamkan ke salah satu fitur produk mereka, Karimun Wagon R. Dengan adanya fitur ini, peluang kejahatan dapat diminimalisir, sehingga kemungkinan bahaya yang dapat mengancam jiwa bisa dihindari.

Dan, menurut saya pribadi, dari 11 kompartemen multifungsi yang tersedia di dalam kabin Karimun Wagon R, kompartemen under seat tray ini adalah kompartemen terpenting.

 

Child proof door lock

Anak dengan segala keingintahuannya akan terus menjelajah dunia di sekitarnya untuk mencari tahu tentang segala sesuatu. Secara alami, mereka tidak akan menyerah sebelum menemukan jawabannya. Sebuah bakat yang luar biasa, bukan?

Child Proof Door Lock

Masalahnya, perilaku alami ini mereka lakukan tanpa bisa memilah, mana yang berbahaya bagi dirinya, dan mana yang tidak. Dalam sudut pandang mereka, semua hal diperlakukan sama.

Pada hal-hal yang relatif tidak berbahaya, sebagai orang tua adalah bijaksana untuk membiarkan anak-anak kita menjelajahi dunia berpikirnya sendiri, sebagai bekal tumbuh kembang kehidupannya di masa mendatang. Sementara, untuk hal-hal yang relatif berbahaya, terutama yang dapat mengancam nyawa, ketegasan orang tua jelas diperlukan.

Bagi orangtua yang mengkhawatirkan keselamatan buah hatinya saat berkendara, Karimun Wagon R menjawabnya dengan fitur Child proof door lock. Sebuah fitur kunci tambahan yang hanya bisa dibuka dari luar. Sehingga, betapa pun ‘curious’-nya anak anda selama dalam perjalanan, keamanannya tetap terjaga.

 

Immobilizer & Alarm

Berdasarkan data statistik yang dilansir Badan Pusat Statistik pada tahun 2013 yang lalu, kejahatan pencurian kendaraan bermotor menunjukkan trend yang meningkat dari tahun ke tahun. Dari 35,688 kejadian pada tahun 2010, meningkat menjadi 41,816 kejadian pada tahun 2012. [BPS, 2013]

Dengan kondisi ketimpangan sosial yang semakin tinggi, bukan sesuatu yang mustahil jika angka tersebut juga ikut terdongkrak naik. Tindakan pencegahan harus segera dilakukan. Terkait keamanan kendaraan (baca: mobil), setiap pemilik tentu tidak mungkin menjaga barang berharga miliknya selama 24 jam penuh setiap hari. Karenanya, dibutuhkan mekanisme yang dapat membebaskan pemilik dari “tanggung jawab” tersebut tanpa harus kehilangan keamanan kendaraan serta ketenangan hati dan pikirannya sendiri.

Walau pun bermain pada kelas entry level, pabrikan Suzuki tetap memperhatikan kebutuhan konsumen yang satu ini. Fitur ‘Immobilizer’ dan alarm tetap dijejal sebagai standar pada setiap tipe Karimun Wagon R—mulai dari tipe GA, GL, sampai GX. Sistem Immobilizer bekerja dengan cara mencocokkan sinyal antara perangkat Electronic Control Unit (ECU) dengan chip yang ada pada kunci kontak. Jika ECU tidak mengenali sinyal dari kunci kontak, maka perangkat ini akan secara otomatis mematikan mesin, sehingga peluang pencurian dapat diperkecil atau dihindari.

Sebagai informasi tambahan. Dari sebuah studi yang dilakukan oleh Robert Potter dan Paul Thomas, 2 orang ahli yang berfokus pada bidang keamanan kendaraan, menyatakan bahwa, berdasarkan data dan teori yang mereka analisa, kendaraan yang dilengkapi dengan fitur immobilizer cenderung jarang dicuri ketimbang kendaraan-kendaraan yang tidak dilengkapi perangkat ini. [Robert & Paul, 2001]

***

Kekuatan Tersembunyi Mini MPV, Karimun Wagon R

Walau baru diluncurkan beberapa bulan yang lalu, Karimun Wagon R langsung berhasil mencuri perhatian masyarakat banyak. Ini terbukti dengan semakin tingginya angka permintaan dari hari ke hari—per Maret 25, 2014 yang lalu, total inden mencapai 5,800 unit. Kenyataan ini seolah mengatakan, bahwasanya yang namanya kemewahan itu bukan lagi milik segelintir orang. Ia telah menjadi hak setiap orang. Mimpi itu kini terbeli.

Hal ini sekaligus membuktikan, bahwa mini MPV berkekuatan SUPER (Spacious, Useful, Practical, Efficient, Reasonable) yang digadang-gadang Suzuki ini telah berhasil menancapkan tajinya di ceruk pasar LCGC. Bahkan, siap memenuhi harapan setiap konsumennya dengan takaran yang “Lebih Dari Cukup.” [BEM]

Karimun Wagon R Blog Competition 2014 Banner

REFERENSI

  • Badan Pusat Statistik. Statistik Kriminal 2013, p. 48.
  • Dennis DesRosiers. Front Wheel Drive vs. Rear Wheel Drive in the Light Vehicle Marketplace. Observation, Vol. 20, Issue 13, July 15th, 2006.
  • Japan automakers exhibit low-cost green cars at Indonesia auto show. New Light of Myanmar, September 21, 2013, p. 11.
  • Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang: Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Mei 23, 2013.
  • Presentasi: Tokyo Motor Show Investors Conference. Suzuki Motor Corporation. November 19, 2013, p. 17.
  • Robert Potter, dan Paul Thomas. Engine Immobilisers: How Effective Are They? National Motor Vehicle Theft Reduction Council. Oktober 18, 2001.
  • Suzuki Environmental and Social Report, 2009, p. 33.

 

SUMBER GAMBAR (MOBIL)

http://www.suzuki.co.id/karimun_wagon_r/

Advertisements

5 thoughts on “Kekuatan Tersembunyi Mini MPV, Karimun Wagon R”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s